12 £ untuk Email Penolakan
“...After a thorough review by our jurors, I’m sorry to let you know that The Sword in the Air has not been selected this year. I completely understand that this may come as a disappointment, but please don’t lose heart...”
Penggalan email yang saya baca pagi ini menghentikan angan-angan akan uang hadiah sebesar dua ribu lima ratus poundsterling dan pengakuan atas tulisan-tulisan yang saya lahirkan.
Selama dua tahun terakhir saya begitu produktif menulis, baik berupa catatan, cerpen, puisi, dan juga novel. Semuanya saya kirimkan ke media lokal dan berbagai ajang perlombaan—dua di antaranya lomba berskala internasional. Setelah semua usaha dan kesintingan-kesintingan yang saya perbuat dan melihat hasil-hasilnya…
Masih perlukah saya menulis lagi kata “gagal”?
Saya pikir, perlu ada istilah lain yang lebih tepat untuk menamai kegagalan yang berulang, yang membentuk identitas, yang menjelma napas sehari-hari.
Kegagalan seorang perempuan yang tidak diterima di mana pun, yang menulis dan tulisannya senantiasa diabaikan, yang bercengkrama hanya dengan kegelapan dan tembok kamar, yang menarik diri dari pergaulan, yang sendiri—sendirian, seorang diri, benar-benar sendiri—menulis di blog yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri.
Club Tulisan-Tulisan yang Diabaikan bertambah lagi anggotanya setelah pagi ini saya menjadi satu dari mereka yang membayar 12 poundsterling untuk ditolak dengan sopan. Perlu jadi catatan bahwa daftar tersebut belum saya perbarui. Saya tidak pernah menerima email pemberitahuan tentang penolakan sebelumnya. Di media dan perlombaan lokal, penolakan berarti tanpa kabar.
Saya mengingat anak saya, mengingat gaji dua juta empat ratus ribu rupiah yang saya terima sebagai staff accounting di UMKM dres batik Solo. Bagaimana cara saya membiayai kebutuhan hidup kami berdua, saya dan anak?
Lebih jauh lagi, bagaimana dengan angan-angan Rumah di Tepian Waktu yang ingin kami tinggali bersama?
Otak kiri saya menganalisa dengan saksama, dan hasilnya selalu sama, bahwa pekerjaan rutin saya tidak akan mampu membawa saya pada rumah kecil dengan halaman belakang luas yang ditanami tomat dan cabai, serta uang tabungan yang cukup untuk menyeberang benua, menjelajah kota-kota kuno, merasakan dingin salju di dalam mulut. Lalu si otak kanan memberi solusi dengan menulis, bahwa tulisan saya yang semula hanya untuk bertahan hidup, bisa memberikan penghasilan besar untuk menyokong penghidupan baru yang, rupanya, belum terwujud.
Apa yang sedang menunggu saya di ujung jalan sana?
Saya menjerang air, menyeduh kopi, menggoreng tempe, makan dan minum dan melanjutkan hidup dengan selembar halaman kosong lagi — yang menuntut saya untuk menulis, meski hanya saya yang membaca, meski tidak menghasilkan satu rupiah pun.
🌿