Apakah Perubahan Besar Harus Menunggu Beberapa Generasi?
Jika seseorang hidup di lingkungan yang selama beberapa generasi hanya mengenal kekurangan, tidak pernah bertemu orang dengan cara hidup berbeda—membaca, belajar, bekerja dengan penghasilan besar—atau menyaksikan bahwa pola hidup yang berbeda memang ada, jika ia terlahir di kampung yang hampir seluruh perempuan menjalani hidup yang sama, dari orang tua yang bahkan tidak sempat menyelesaikan sekolah, jika ia ingin memutus pola turun temurun dan keluar dari lingkaran lama, mungkinkah ia cukup menjadi pembuka jalan saja?
Kelak anaknya yang hidup sedikit lebih baik.
Cucunya lebih baik lagi.
Barulah cicitnya menikmati hasilnya.
Apakah hidup memang bekerja seperti itu?
Saya teringat catatan lama saya, ketika saya pikir ada kejanggalan dari pernyataan seorang tokoh publik berusia lanjut di facebook yang memiliki daftar panjang keberhasilan, kerja keras, prestasi, traveling keliling dunia. Ia bilang bahwa ia berasal dari keluarga miskin tapi ayahnya guru.
Beberapa bulan lalu barulah saya melihat di mana posisi saya.
Saya sedang melipat pakaian ketika anak saya bercerita tentang robot, lego, dan hal-hal lain yang biasa dibicarakan anak laki-laki seusianya. Saya mendengarkan sambil lalu, sesekali mengangguk, sementara tangan saya tetap sibuk melipat baju.
Entah bagaimana obrolannya berubah menjadi rumah dan uang.
Ia ingin punya banyak kamar kos, supaya bisa punya banyak uang. Ia akan membuat alat teleportasi, menjualnya dengan harga ratusan juta, dan dia bisa jadi kaya. Pilot juga kaya. Pebisnis juga. Ia menyebut angka-angka.
“Lima ratus juta.”
Lalu lebih besar lagi.
“Lima ratus milyar.”
Kemudian, “lima ratus trilyun.”
Ia terus bicara, melompat dari satu angan ke angan lain dengan cara yang hanya bisa dilakukan anak-anak.
Nanti ia akan memberi saya uang. Nanti saya tidak perlu capek kerja lagi. Nanti ia tidak akan meninggalkan istri dan anaknya kalau sudah jadi ayah.
Saya berhenti melipat pakaian sebentar lalu menatapnya.
Anak lelaki sembilan tahun.
Matanya berkaca-kaca.
Ocehannya mengingatkan saya pada cara orang-orang dewasa memandang mimpi yang terlalu besar dengan senyum tipis dan nada yang merendahkan. Muluk-muluk. Ngelantur. Mengawang-awang. Tidak tahu diri.
Kalimat itu sempat muncul juga di kepala saya, tetapi saya menahannya.
Saya membiarkan anak saya menyelesaikan semua angan-angannya. Tentang rumah, uang, juga hidup yang terasa sangat jauh dan sangat mungkin sekaligus.
Setelah selesai bicara ia mendekat, memeluk saya, mencium pipi saya, lantas kembali berceloteh tentang hal lain.
Saya kemudian berpikir, mungkin kelak anak saya akan berkata bahwa ia lahir dari keluarga miskin tapi ibunya akuntan.
Saya perempuan pertama di keluarga besar yang menempuh pendidikan lebih tinggi. Saya meninggalkan kampung. Saya bekerja di ruang kantor. Saya memulai ulang hidup di kota asing, sendiri, membawa serta anak bersama saya, demi bisa mengasuhnya ‘dengan cara saya’.
Saat tinggal di kampung, anak saya boleh saja berkeliling desa sampai jauh, sampai tersesat sekalipun, melewati bentangan sawah dan hutan jati, dan saya bisa menjamin ia akan kembali ke rumah orang tua saya dengan selamat lahir batin. Ia cukup hafal nama kakeknya.
Sementara di sini, saya harus menerima resiko untuk menanggung semuanya sendiri.
Saya membawa anak ke kantor.
Tidak ada pasangan yang berbagi tugas.
Tidak ada keluarga yang tinggal serumah membantu mengasuh.
Tidak ada tetangga yang mengenal keluarga saya.
Saya berperan sebagai pencari nafkah. Seorang ibu yang mencuci, menyapu, memasak. Orang yang dimintai tolong anak mengusir kecoa. Kalajengking. Tokek di dinding.
Saya juga menjadi orang tua pertama dari generasi saya yang mendongeng sebelum tidur, yang hanya tersenyum melihat anak merusak mainan, bukan memarahinya.
Semua itu terasa seperti melawan arus yang sudah mengalir turun-temurun.
Saya mencoba memahami apakah manusia sungguh bebas membentuk hidupnya, atau hanya sedang berjalan di atas rel yang dipasang jauh sebelum ia lahir.
Saya pernah mempercayai gagasan bahwa kehidupan berubah ketika seseorang lebih dulu mengubah cara ia memandang dirinya sendiri. Saya mencobanya bertahun-tahun. Sebagian terjadi. Sebagian tidak.
Ketika masih terpisah dari anak, saya menulis sangat intens tentang keinginan agar ia kembali kepada saya. Saya hampir tidak melakukan apa pun untuk mewujudkannya. Saya hanya menulis, berulang-ulang, tentang kehidupan yang ingin saya jalani bersamanya.
Lalu suatu malam saya bermimpi.
Di dalam mimpi itu, bapak saya mengizinkan saya membawa anak saya.
Di dunia nyata, beliau tidak pernah mengucapkan kalimat itu.
Sepanjang hidup saya, hubungan kami lebih banyak diisi ceramah daripada dialog.
Pagi setelah mimpi itu, saya melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah berani saya lakukan.
Saya tidak meminta izin orang tua, tidak menelepon, tidak bertanya. Saya langsung mencari sekolah, mengurus pindahan, mengirim surat tulis tangan untuk anak dan mengirimkannya melalui ekspedisi ke kampung, mengabarkan saya di Solo.
Kepindahan saya ke Solo tadinya saya rahasiakan dari semua orang.
Tidak ada konfrontasi sama sekali dengan orang tua. Benar-benar di luar dugaan. Entah bagaimana saya memiliki ide menulis surat tulis tangan di masa sekarang. Kata anak saya, surat itu dia baca keras-keras di depan kakek neneknya.
Ketika saya mudik untuk mengambil rapot dan mengurus pindahan, saya masih ketakutan. Untungnya bapak sedang bekerja di kota. Kami tidak bertemu. Di rumah hanya ada ibu. Kami tidak mengobrol. Saya hanya memberi tahu tentang keputusan saya membawa anak pindah.
Saat mudik berikutnya untuk menjemput anak, bapak di rumah. Dan saya tetap hanya memberitahu. Tidak mengobrol. Tidak meminta izin. Anehnya mereka tidak ceramah dan marah-marah.
Saya telah menjalani hidup dengan cara yang sama sekali berbeda dari perempuan di kampung saya.
Bagi anak saya, rupanya itu belum cukup. Ia ingin rumah, lengkap dengan AC, televisi, kulkas. Ia ingin ibu yang bekerja dari rumah, ingin hari libur yang diisi dengan jalan-jalan, naik kereta sampai pesawat.
Saya juga menginginkannya.
Apakah perubahan besar memang harus menunggu beberapa generasi?
🌿