Alang-Alang

Bersama Cerita

Tadi malam saya bercerita tentang seekor anak singa yang memegang batu ajaib, dan hanya menatapnya sepanjang hari tanpa melakukan apa pun. Sebelum cerita itu sampai ke bagian tengah, anak saya menyela.

"Aaa... udah jangan ceritain aku."

Kami tertawa.

Sore harinya kami memang baru bertengkar soal telepon genggam. Libur sekolah telah dimulai. Selama tiga minggu ke depan ia akan ikut saya bekerja setiap hari, dan saya tahu godaan terbesar baginya adalah layar kecil yang selalu ada di tangan.

Saya menahan keinginan untuk memarahinya lagi malam itu. Saya memilih bercerita, seperti yang selalu saya lakukan sejak ia masih balita.

Dulu keadaan kami jauh lebih sulit. Anak saya tidak masuk TK. Saya mengajarinya sendiri di rumah, tetapi hampir tidak pernah dengan cara menyuruhnya duduk belajar membaca atau berhitung.

Saya justru mengarang cerita.

Salah satunya tentang seekor singa yang tersesat karena tidak bisa membaca rambu hutan. Lalu seekor kelinci datang menunjukkan jalan karena sang kelinci mengenal huruf.

Pelan-pelan anak saya mulai bertanya, "Hurufnya seperti apa, ibu?"

Saya menulis cerita dengan tangan di buku tulis, menggambar tokohnya seadanya, lalu ia menyalinnya sedikit demi sedikit. Saya tidak pernah menyangka itu adalah "metode". Saya hanya sedang mencari cara agar belajar terasa seperti petualangan.

Setelah ia masuk SD, saya hampir tidak pernah mengajarinya pelajaran sekolah, tidak pula memaksanya untuk terus belajar. Yang tetap saya pertahankan hanyalah ritual membaca cerita sebelum tidur.

Sekarang ia naik kelas 4.

Saya membelikannya serial komik Bone. Ia menggerutu. Katanya ia tidak suka membaca. Ia lebih suka saya yang bercerita.

Saya menyiapkan jadwal kegiatan untuknya. Ada teka-teki silang, soal berhitung, labirin, puzzle. Saya hanya berharap ia tidak terlalu bosan seharian di kantor, duduk di antara orang-orang dewasa yang berlama-lama menatap layar laptop, sementara ia sendiri dibatasi bermain ponsel.

Pukul dua siang ia membuka buku komik, membalik lembar demi lembarnya dengan bibir cemberut.

Keesokan harinya, setibanya di kantor, buku komik itulah yang pertama kali ia buka. Saya menyelipkan pembatas buku di halaman terakhir yang ia baca. Sesekali saya mendengar ia tertawa.

Melihatnya tertawa sendiri membaca komik hari itu, ingatan saya melompat jauh ke tahun-tahun yang lain.

Pada suatu malam saya pernah menunggingkan kaleng susu ke gelas sampai tetes terakhir, saya tinggalkan sebentar untuk menjerang air, lalu seekor cicak ada di dalamnya.

Anak saya menangis. Marah. Minta susu baru. Saat itu, saya benar-benar tidak memiliki selembar pun uang untuk membelikan susu meski dalam kemasan kecil. Anak saya berbaring gelisah. Saya ceritakan padanya dongeng tentang seorang anak lelaki yang hidup pada masa ketika langit hanya berjarak dua jengkal dari atas kepala. Anak itu bisa mengeruk awan, lalu memasaknya jadi susu hangat. Jika ditabur bubuk ajaib, awan itu berubah jadi permen kapas.

Anak saya mengangkat tangan kanannya ke atas, menggerakkan jari-jarinya. Mengepal. Membuka. Mengepal lagi.

Perlahan napasnya menjadi teratur.

Ia pun tertidur.

Dulu saya mengira hanya sedang menghiburnya.

Rupanya begitulah cara ia dibesarkan.

Bersama cerita.

🌿