Bukan Malin Kundang
“Ibu, ayo cerita.”
“Baiklah. Tapi malam ini kita tidak akan mendengar cerita Malin Kundang.”
“Kenapa?”
“Karena ibu ingin membuat cerita baru.”
“Cerita apa?”
“Tentang seorang pemuda yang pergi menjelajah samudera untuk mencari harta karun di pulau terpencil.”
“Namanya siapa?”
“Siapa ya? Lio, seperti anak singa itu?”
“Iya!”
“Baiklah. Ini kisah tentang Lio.”
Sejak kecil Lio sudah ingin tahu tentang dunia. Ia sering ikut melaut bersama ayahnya untuk menangkap ikan. Ketika berdiri di atas perahu di tengah lautan, sambil memandangi cakrawala yang terbentang luas, Lio bertanya-tanya dalam benaknya, di manakah ujung dunia?
Ia ingin berkelana ke tempat-tempat baru, melihat gunung-gunung yang tinggi menjulang, mendengar nyanyian angin yang meniup pepohonan. Ia membayangkan dirinya menjadi nahkoda kapal besar yang berkelana mencari harta karun, memasuki gua-gua gelap, merambah hutan belantara.
Pada suatu malam, ia pun memberanikan diri untuk bicara pada ibunya.
“Dengan izinmu, Ibu. Aku hendak memberitahu Ibu bahwa aku ingin meninggalkan rumah dan pergi merantau. Semoga Ibu tidak menentang keinginanku.”
Sang Ibu terdiam lama sekali, duduk mematung di atas tikar.
“Laut sudah mengambil ayahmu, Nak,” kata sang ibu akhirnya. “Aku tak ingin laut mengambilmu juga.”
Pada mata ibunya, Lio melihat kembali kerumunan, jeritan, pemakaman.
“Aku ingin melihat negeri yang jauh, Ibu. Aku juga ingin menjadi saudagar yang kaya. Bagaimana aku mewujudkan itu semua kalau aku tetap di sini?”
Sang Ibu kembali terdiam, lalu pergi meninggalkan Lio. Ia masuk ke dalam kamarnya, berbaring di tempat tidur. Namun, kantuk telah menghilang dari matanya. Ia bangkit, berjalan mondar mandir, duduk, berbaring lagi. Ia membuka pintu dan melihat ke ruang depan. Lio masih di sana. Pintu kamar ia biarkan terbuka, dan sampai lewat tengah malam, ia masih melihat anaknya duduk di sana.
Pukul dua dini hari, sang Ibu berjalan mendatangi Lio dan duduk di depannya.
“Lio,” ujar sang ibu. “Pergilah tidur.”
“Aku tidak akan tidur.”
“Kau akan tetap duduk di sini sampai pagi?”
“Aku akan tetap menunggu.”
Sang ibu melihat lengan kokoh putranya, pundaknya, tanda lahir di pelipis kirinya.
Betapa cerdiknya waktu menipu, pikir sang ibu. Apakah ia terlambat menyadari bahwa putranya kini adalah lelaki dewasa?
“Kau mendapatkan apa yang kau inginkan, Nak,” kata sang ibu. “Pergilah. Ibu merestuimu. Semoga kehidupan bermurah hati padamu. Jangan lupakan kampung halamanmu setelah kau berhasil nanti. Dari tempat inilah engkau berasal. Kembalilah ke sini sejauh apapun engkau pergi.”
Lio tersenyum. Ia membungkuk kepada ibunya, lalu beranjak dari tempat duduknya.
Pagi hari ketika matahari mulai bersinar, Lio melakukan perjalanan menuju pelabuhan. Di dermaga nampak sebuah kapal besar yang siap berlayar menuju negeri seberang. Lio mendekati kapal itu dan bertemu dengan nahkoda kapal.
“Saya bermaksud mencari pekerjaan di kapal,” katanya. Lelaki di depannya tidak menoleh sama sekali.
“Tolonglah Tuan, pekerjaan apapun yang Tuan berikan akan saya laksanakan dengan baik.”
Lio memohon lagi, lalu sekali lagi, sampai akhirnya ia pun diperbolehkan bekerja di kapal tersebut.
Tugasnya setiap hari menenteng ember dan kain lap. Membawakan makanan. Mengangkut barang. Memperbaiki kerusakan.
Setelah beberapa waktu, sang nahkoda mulai sering mengajaknya bicara. Lio mendapat pekerjaan lebih banyak, lebih berat, tapi ia selalu menyelesaikan semuanya.
“Kerja bagus.” Kata sang nahkoda lalu menepuk pundak Lio.
Tepukan di pundak itu berlanjut keesokan harinya, lalu hari selanjutnya.
Bertahun-tahun berlalu.
Banyak kapal berganti.
Banyak pelabuhan disinggahi.
Banyak badai dilewati.
Sampai suatu hari, orang-orang mulai memanggilnya Nahkoda Lio.
Dalam pelayaran menuju kampung halamannya, sambil berdiri di atas kapal memandangi air laut, Lio mengenang kembali langkah pertamanya menuju dermaga belasan tahun lalu. Satu langkah berani yang menguak kehidupan di depannya, mengubah keseluruhan jalan hidupnya, menempatkannya pada posisinya sekarang.
Hidupku sungguh ajaib, pikirnya. Ia menjalani kehidupan yang diimpikan banyak orang. Ia menemukan harta karun. Ia juga mengalami petualangan yang sulit dipercaya. Seperti masuk ke dalam dunia dongeng, dunia yang dihuni oleh makhluk-makhluk aneh, juga manusia-manusia yang memiliki kekuatan luar biasa.
Hari sudah sore ketika kapal Lio merapat di dermaga. Orang-orang yang menerima kabar akan kedatangan sebuah kapal besar sudah berkerumun menyambut kedatangannya.
Akhirnya Lio sampai di rumahnya.
Atap yang sama.
Bilik bambu yang sama.
Dan seorang ibu.
Ia bersimpuh di kaki ibunya.
Sang ibu mengusap wajah Lio dengan kedua tangannya.
“Kau pulang, Nak.” Suaranya gemetar.
Kepulangan Lio rupanya bukan hanya membawa kebahagiaan bagi ibunya, tapi juga bagi semua orang di kampung itu.
Ia ingin membangun rumah besar untuk ibunya dan mempekerjakan beberapa orang untuk melayani kebutuhan sang ibu, tapi sang ibu menolaknya.
“Apa yang ibu miliki sudah lebih dari cukup, Nak. Berikan saja pada yang lebih membutuhkan.”
Lio bersedekah kepada orang-orang jompo dan miskin, memberikan perahu baru untuk nelayan, dan mengajari orang-orang cara berdagang.
Selama satu tahun Lio tinggal di kampung, sampai suatu pagi, ia merasakan kerinduan yang besar untuk kembali berlayar. Suara debur ombak terdengar memanggil-manggil namanya. Angin laut berhembus menyapu wajahnya, menyampaikan kerinduan yang sama terhadapnya.
Maka, pada suatu sore, Lio menghadap ibunya untuk menyampaikan kehendaknya.
“Sejak kecil aku ingin berkelana. Sampai sekarang keinginan itu tidak hilang. Seorang petualang akan selalu berpetualang. Itulah panggilan jiwaku, Ibu. Mohon restui aku untuk pergi lagi. Kali ini, entah aku akan pulang atau tidak.”
“Pergilah, Nak.”
Kali ini sang ibu tidak menangis.
Lio berangkat ke pelabuhan diiringi oleh sang ibu dan beberapa warga desa.
Matahari bersinar cemerlang, langit biru terbentang luas, awan-awan putih berarakan, udara terasa sejuk dan nyaman. Sang ibu merasakan hembusan angin menerpa punggungnya, meredakan gerah di kulitnya. Ia berterima kasih kepada angin. Ia memandangi sekawanan burung terbang melintas di atasnya. Ia tersenyum. Pada burung-burung itu, pada awan-awan itu, pada kehidupan yang telah menganugerahkan Lio sebagai anaknya.
Kapal berlayar ke tengah laut. Sang Ibu memandangi kapal yang semakin mengecil. Ia tahu dirinya telah tuntas melaksanakan tugasnya sebagai ibu dari Lio. Tidak peduli berapa sisa umur yang mesti dijalaninya, ia telah membebaskan hatinya dari Lio.
Tamat sudah, Nak. Tidurlah!
🌿