Alang-Alang

Buku, Cerita, dan Keranjang Belanja

Sekarang saya mengajar les calistung pada malam hari, Senin sampai Jumat. Muridnya hanya satu, anak teman kerja saya, kelas dua SD.

Les bulan pertama selesai pada akhir September. Targetnya satu bulan lancar membaca. Target itu tercapai.

Oktober ini ia melanjutkan les, dengan target lancar menulis dan bisa berhitung.

Pada awal les ibunya bertanya apakah ada buku panduan membaca yang sebaiknya dibeli. Saya bilang tidak perlu. Saya juga mengatakan bahwa saya tidak akan mengajarinya membaca dengan cara biasa. Saya akan lebih banyak bercerita, sebagaimana yang telah saya lakukan ketika mengajari anak saya membaca.

Anak saya tidak masuk TK. Dulu tidak ada uang untuk menyekolahkannya. Saya mengajarinya sendiri, melalui cerita, sampai akhirnya dia yang bertanya seperti apa bentuk huruf, bagaimana menulis, dan bagaimana berhitung. Setelah ia masuk sekolah dasar saya jarang sekali mendampinginya belajar. Satu hal yang masih saya lakukan untuknya adalah membacakan cerita sebelum tidur.

Ia meminta saya membelikan kamus bahasa Inggris, atlas, serta buku rumus Matematika dan IPA. Saya sering melihatnya berlama-lama membaca buku-buku itu.

Ia tidak suka membaca buku cerita. Namun, setiap malam ia tidak mau tidur sebelum saya membacakan cerita untuknya. Kadang ia meminta saya melanjutkan cerita, kadang ia bertanya tentang tokohnya. Jika belum mengantuk dan masih ada waktu, ia ingin mendengarkan lebih lama.

Buku-buku yang saya bacakan kebanyakan karya sastra klasik, juga Harry Potter, Enid Blyton, dan epos. Belakangan kami membaca Animal Farm. Setelah selesai, saya berencana membacakan Sherlock Holmes sambil menunggu bisa membeli To Kill a Mockingbird. Ia begitu bersemangat ketika mendengar cerita Moby-Dick.

Saya suka bercerita sebab saya tidak tahu apa yang perlu saya bicarakan kepada anak saya.

Dulu, ketika masih menikah, saya sesekali menggantikan ustazah yang berhalangan mengajar ngaji di TPQ. Saya menjadi pengurus TPQ karena mantan suami saya pengurus DKM.

Pada sisa waktu setelah membaca iqro, anak-anak seharusnya menghafal surat dan doa. Saya kadang menggantinya dengan bercerita. Ternyata mereka suka. Bahkan anak yang dianggap nakal, yang pecicilan, yang suka naik pagar, tiba-tiba duduk di depan saya, diam mendengarkan.

Sejak dulu saya memang lebih mudah bercerita kepada anak-anak daripada berbicara dengan orang dewasa. Saya tidak pandai mengobrol. Ini bukan sekadar karena saya tidak suka mengobrol. Saya memang tidak bisa.

Suara saya hampir selalu gemetar ketika berbicara, bahkan ketika sedang membicarakan sesuatu yang sepele. Saya sering berbicara terlalu cepat sampai orang lain tidak memahami apa yang saya katakan. Setelah itu, biasanya saya sudah kehabisan tenaga untuk mengatakannya lagi.

Saya bisa menghabiskan semalaman membaca karya Gabo tanpa merasa benar-benar lelah. Saya bisa duduk berjam-jam menganalisis laporan accounting tanpa merasa sedang menghabiskan tenaga. Tetapi berbicara dengan manusia membuat saya merasa seperti baru selesai melakukan hal yang sangat berat.

Berhadapan dengan orang dewasa selalu membuat saya was-was. Saya tidak tahu persis apa yang saya takutkan. Sebenarnya mungkin tidak ada apa-apa, tetapi tubuh saya seperti tidak percaya bahwa tidak ada apa-apa. Pikiran bergerak terlalu cepat, kata-kata tercekat di ujung lidah.

Tubuh saya tidak bereaksi seperti itu di hadapan anak-anak. Saat bercerita, suara saya memang tetap gemetar, tapi saya tidak bicara terburu-buru. Saya memberi jeda, melihat mata anak-anak, lalu melanjutkan cerita.

Kadang saya bercerita tentang kelinci atau macan. Kadang tentang Gatotkaca dengan otot kawat dan tulang besinya, atau cerita dari Tolstoy, Dickens, Mahabharata, Ramayana, juga kisah Nabi dan Rasul. Saya menuturkannya kembali secara pendek dan acak, tergantung apa yang sedang saya ingat. Saya tidak mengubah cerita-cerita yang sudah ada, hanya menyederhanakan dan memotong bagian-bagiannya. Sesekali, saya juga mengarang fabel sendiri. Cerita-cerita itu biasanya muncul begitu saja, mengikuti apa yang sedang terjadi. Ketika seorang anak kesulitan mengeja bunyi ng, ny, dan kh, misalnya, saya membuat cerita tentang seekor burung yang rajin membuat sarang. Sebagian cerita yang saya karang sendiri bahkan sudah saya lupakan.

Sekarang, ketika kembali bertutur di hadapan seorang anak, saya mengingat-ingat lagi cerita lama yang telah menghilang dari ingatan. Mungkin saya perlu menuliskannya.

Saya melihat ruang tamu yang kosong dan membayangkan sebuah pojok baca di sana. Sebuah rak buku berbentuk pohon bercabang, televisi yang tergantung di dinding, dan karpet yang menutupi lantai dengan bercak-bercak cat tumpah.

Saya memilah-milah buku di kamar. The White Tiger, The Vegetarian, serta semua karya Hesse dan Dostoevsky tetap saya simpan di kamar. Buku-buku lainnya saya tumpuk di ruang depan. Tumpukan itu sudah ada sejak bulan lalu.

Sejak bulan lalu pula saya telah memasukkan ke dalam keranjang belanja sebuah rak buku, sebuah televisi, dan sebuah panci listrik.

Saya teringat tatakan buku yang saya buat sendiri ketika masih kecil. Sepulang sekolah, di belakang rumah, di tempat kayu-kayu dan peralatan tukang milik Bapak disimpan, saya menemukan sebuah buku berjudul Berkreasi dengan Kayu. Di dalamnya ada gambar-gambar petunjuk membuat perabot. Saya mengambil gergaji, palu, paku, lalu mencoba membuat tatakan buku.

Saat memutar bor dengan kedua tangan, mata bor itu meleset mengenai paha. Kulit saya tersayat, darah mengucur. Setelah mengikatkan kain bekas pada luka, saya membereskan semua peralatan ke tempat semula, nyaris tanpa jejak. Potongan kayu yang belum selesai saya sembunyikan di dekat kandang ayam.

Keesokan harinya saya melanjutkan pekerjaan itu. Begitu pula hari-hari berikutnya, sampai tatakan buku itu benar-benar jadi.

Tatakan buku itu tetap kokoh sampai saya meninggalkan rumah setelah lulus SMA. Bekas luka di paha masih ada.

Tadi malam, pukul dua dini hari, saya membuka kembali keranjang belanja daring untuk melihat apakah harga barang-barang itu sudah turun. Ternyata belum. Saya menutup ponsel lalu tidur.

🌿