Catatan Mimpi - 01
Untuk Apa Semua Mimpi-Mimpi Itu?
Kau tertegun lama setelah bangun, memastikan bahwa kau benar-benar kembali ke duniamu. Buku tulis tergeletak di lantai, masih terbuka pada halaman yang kau tinggalkan semalam. Kau meraih pena, bersandar pada tembok, menulis beralaskan kedua dengkulmu.
“Menelusuri semesta paralel seperti berjalan dari satu ruangan ke ruangan lain.”
Kau berhenti, menenun kata-kata sebelum jatuh di halaman.
“Waktu tidak berderak maju,” tulismu perlahan. “Satu arus waktu melewati banyak dunia. Manusia berjalan di atasnya seperti bayangan, mengambil bentuk berbeda di setiap lintasan.”
Bagimu, mimpi-mimpi bekerja seperti tangan tak terlihat yang mengompres kehidupan: membaca pola, menggabungkannya, lalu memproyeksikan kemungkinan-kemungkinan yang belum terjadi—atau yang pernah terjadi jauh sebelum tubuhmu lahir. Intuisimu menampung pengetahuan dari banyak generasi, dan betapapun otakmu menentang sebab tak rasional, banyak peristiwa terbukti benar.
Apakah kau terhubung pada sesuatu yang lebih besar dibanding sekadar rutinitas dan kelelahan hidup?
Tanpa mimpi itu, mungkin hidupmu lebih tenang, lebih sederhana, hanya seorang janda dengan wajah tak simetris dan gigi tak rata—sebuah wajah yang tak dipedulikan dan mudah dilupakan dunia—yang bertahan hidup dari gaji yang bahkan tak cukup menambal kecemasan sebulan penuh. Kau bisa marah, kau bisa menangis, lalu menggerutu sambil menjejalkan nasi ke mulut, kemudian tidur nyenyak setelah perut kenyang. Hidup ini hanya peristiwa acak dan dingin dan tidak bermakna apa-apa.
Mimpi-mimpi lalu mendatangi malam-malammu, seperti sesuatu yang mencari celah di antara kelaparan dan kepedihanmu. Kau pikir telah menemukan arah, kau mengikutinya, lalu kini kau berjalan melewati labirin spiral yang tak tahu ke mana ujungnya.
Benakmu menyimpan cerita dari bermacam generasi, bermacam dunia, dan sialnya, cerita-cerita itu telah kau alami, dalam mimpi yang seolah nyata, mimpi saat kau melakoni bermacam peran. Suatu malam saat menyantap sepiring mie instan kau tiba-tiba menangis, keharuan menggelegak tanpa ampun di dadamu, keharuan dan kerinduan seorang ibu pada anak tunggalnya, bercampur dengan keharuan dan kerinduan seorang anak perempuan terhadap bapaknya.
Selama tiga puluh depan tahun kehidupan yang kau jalani di dunia ini, kau tak ingat sekali pun bapakmu pernah memelukmu, pernah mendengarkan keinginanmu, ceritamu, pengaduanmu, dan memang tidak pernah. Maka ketika kau melihat kesabaran panjang seorang lekaki kurus mengurusi negerimu—seseorang yang tetap berjalan dan bekerja meski dicerca dari banyak arah—kau ingin menangis, lalu kau pun menangis. Kau melihat bapak pemimpin itu dengan satu anggapan saja, bahwa ia adalah seorang bapak yang tidak pernah kau miliki—dan ingin kau miliki. Oleh sebab tak kau miliki orang tua yang mendukungmu sehingga seumur hidup kau menanggung segalanya sendiri, maka kau memahat satu sumpah dalam batinmu, bahwa anakmu tak akan mengalami apa yang kau alami.
Kadang ingatan pada mantan suamimu datang begitu saja, mengganggu ketenangan yang sumpah mampus tengah kau upayakan. Ia boleh saja tak pernah hadir—tidak dalam bentuk baju baru, uang jajan, atau sekadar perhatian kecil untuk anaknya sendiri. Ia boleh lupa sama sekali pada kewajibannya menafkahi anaknya, boleh saja. Kau tak pernah meminta, tak pernah menuntut, tidak sekalipun, bahkan menghubunginya pun tidak. Satu hal yang kau inginkan hanyalah melupakannya, benar-benar lupa. Anak kalian bersama kini telah sepenuhnya menjadi anakmu, urusanmu, tanggunganmu, tugasmu. Kau dan anakmu, ya, hanya kau dan anakmu, dan semua hal di dunia selain itu tak berarti bagimu, termasuk mimpi-mimpi.
Kau telah pergi jauh dari tanah kelahiranmu, dari kota lamamu, dari semua masa lalumu, tapi mimpi-mimpi tetap menyertai langkahmu.
Jikapun dunia-dunia yang banyak itu itu nyata seperti yang telah kau alami dalam mimpimu, maka untuk apa?
Kau lahir dari tanah perkampungan yang orang-orangnya tak memakai alas kaki, tak mengenal buku, tak tahu bahwa di belahan dunia lain orang-orang telah pergi ke bulan, ke Mars, ke entah apapun. Yang mereka—dan juga dirimu—tahu hanyalah bahwa perempuan mesti bangun pukul empat subuh, mencuci baju, menanak nasi, mengulek sambal, mengurus anak.
Jika kini kau mengerti bahwa hidup selalu membuka banyak jalur, bahwa manusia hanya memilih satu di antara sekian cabang yang terus tumbuh, bahwa masa lalu maupun masa depan sebenarnya tidak pergi— hanya menunggu dilintasi, bahwa orang-orang yang terkubur lama dalam tanah rupanya masih hidup, masih menjalani kehidupan yang sama seperti lima puluh tahun lalu, seratus tahun lalu, jika waktu itu tunggal dan semua sudah selesai, maka untuk apa?
Kau tidak berdiri di podium di mana semua orang akan menatapmu dan mendengar teorimu, lalu wajahmu terpampang di surat kabar, di televisi, di jurnal-jurnal ilmiah.
Wajahmu, hanya satu orang yang merindukan wajahmu, yaitu anakmu.
Maka saat ini, kau sedang bergerak dari versi-diri-yang-tersepuh-kesedihan ke versi-diri-yang-mengambil-ruang sebagai ibu, penulis, dan perempuan yang membangun kehidupan sendiri.
Setiap pilihan, setiap keyakinan, setiap keberanian kecil, kau selipkan makna mendalam supaya keberadaanmu yang tak pernah penting bagi siapapun—kecuali anakmu—menjadi berguna.
Kau tahu betul bahwa hidup tidak sesempit penderitaan sehari-hari.
Kau menghindari semua pergunjingan, perdebatan, keributan. Kau memilih duduk di sudut kamarmu, menuliskan kerinduan pada anakmu, menuliskan keinginan sederhanamu pada rumah kecil dengan halaman ditanami tomat dan cabai, menuliskan luka-luka masa lalumu—bukan untuk menggugat, hanya upaya menyembuhkan.
Mimpi-mimpi malammu tetap sama, kadang kau mengalami lakon sebagai identitas lain selama 60 tahun, 72 tahun, atau hanya 21 tahun kehidupan, lalu kau tutup usia, dan kau membuka mata di kamar kos dengan menanggung kelelahan hidup berulang. Suatu peristiwa telah kau alami terlebih dahulu dalam mimpi, menjaga kesadaranmu untuk tetap eling dan waspada, tapi sungguh pun demikian, pada Sabtu malam dua minggu yang lalu, air panas yang seharusnya menyeduh kopi, malah menyeduh kulit lenganmu. Malam ini tanggal 30 November saat kau menulis catatan, kulit lenganmu masih terluka, bernanah karena infeksi.
Kau tahu, kau paham, kau mengalami, kau tetap merasakan sakit, tetap bekerja delapan jam sehari, tetap berhemat, sesekali bahkan amat nelangsa, begitu nelangsa, sebab kau juga menanggung jarak antara diri yang mengalami kebenaran batin, dan diri yang harus tetap menjalani kehidupan lahir dengan segenap deritanya. Jarak yang terbentang di antara keduanya—antara diri yang melihat terlalu jauh dan diri yang hanya ingin bertahan hidup—itulah luka yang tak kunjung sembuh.
Kau nyata mengalami kehidupan demi kehidupan, pengulangan demi pengulangan, kau mengingat setiap detailnya, mengingat ketakutan ketika kau bersembunyi di lumbung padi, mengingat kelelahan memikul kayu bakar, mengingat kerinduan di bawah bintang-bintang, dan saat kau bangun, tembok putih di hadapanmu, kamar kos yang kau tempati di Solo juga nyata.
Kesadaranmu kau paksa kembali ke dalam tubuhmu, sebab kau harus menjalani kenyataan yang masih memerlukan uang, kerja, sewa kamar, makan, tidur, semua rutinitas hidup tahun 2025.
Angka 2025 mengingatkanmu lagi pada janjimu. Dua puluh hari lagi, ya, dua puluh hari lagi kau telah berjanji akan pulang kampung, menjemput anakmu, membawanya ke Solo, dan kalian hidup berdua saja. Kecemasan merembes pelan dalam batinmu. Bagaimana kau mendapatkan uang tambahan? Bagaimana kau membagi waktumu?
Air matamu menetes.
Kau menyeduh kopi.
Kau kembali menulis.
Dan esok pagi, kau akan mengayuh sepeda dua kilometer menuju pekerjaanmu, menjejakkan diri pada kenyataan yang keras, tapi tetap milikmu.
🌿