Alang-Alang

Di Bawah Gambar Rumah

Aku menggambar rumah, anakku mewarnainya, lalu gambar itu ditempel di dinding kamar kos. Di bawahnya, kami berbaring saling menempelkan kening.

"Nanti aku mau rak yang isinya lego semua," katanya.

"Ibu mau rak yang isinya buku semua," kataku menimpali.

Kami terseyum. Aku mengelus kepalanya, ia balas mengelus kepalaku.

Aku berguling menjauh darinya, mendekat ke kipas angin. Dia mengikuti. Kami berebutan tempat.

“Ibu, aku ingin setiap hari adalah hari Minggu,” katanya lagi.

Aku tidak menjawab. Hanya menatapnya, agak heran.

Ia bicara pelan-pelan. Aku mendengarkan. Ujung-ujungnya tetap sama: sebuah rumah dan seorang ibu yang sabar.

Pukul dua dini hari aku masih terjaga.

Gatal yang semula hanya di lengan atas, dekat ketiak, kini merembet ke punggung tangan, leher, kaki, sampai wajah. Udara pengap. Kipas angin kecil berputar tanpa banyak membantu. Gambar rumah masih menempel di tembok. Warnanya biru. Atap segitiga. Jendela dua. Pintu satu.

Aku menggaruk.

Pelan dulu. Lalu semakin keras, seolah ada sesuatu yang harus dikeluarkan dari bawah kulit.

Aku berhenti sebentar.

Ini bukan yang pertama.

Seperti ada pola yang selalu kembali, tapi tak pernah benar-benar kupahami.

Pernah begini, lama sekali. Tiga bulan tidak sembuh-sembuh. Aku ingat tidak bisa tidur, gatal dan perih. Lalu tiba-tiba hilang, setelah aku tahu ada tubuh lain tumbuh di dalam perutku.

Menjelang melahirkan datang lagi.

Saat pandemi, pindah ke punggung kaki. Bintik-bintik kecil, bernanah, penuh. Aku tidak bisa menyentuhnya tanpa merasa perih. Malam-malam panjang tanpa tidur.

Aku menggaruk lagi.

Pelan. Lalu berhenti.

Setelah itu—aku tahu persis—muncul lagi di selangkangan, tepat setelah aku tahu suamiku bersama perempuan lain. Waktu itu aku tidak banyak berpikir. Tubuhku yang lebih dulu bereaksi. Gatal itu hilang setelah aku pergi.

Di Majalengka, saat aku memikirkan bagaimana caranya membawa anakku ikut bersamaku, gatal itu datang lagi. Tidak separah sebelumnya, tapi cukup untuk membuatku terus sadar bahwa ada sesuatu yang tidak tenang. Ia hilang setelah aku pindah.

Sekarang, di kamar kos ini, ia kembali.

Aku tidak tahu apa yang sebenarnya sedang diingat oleh tubuhku. Aku hanya tahu, setiap kali hidupku seperti berdiri di satu titik yang goyah, sesuatu di bawah kulitku ikut bergerak.

Aku menahan tangan. Berusaha tidak menggaruk.

Kutatap anakku. Napasnya teratur. Wajahnya tenang. Tadi ia bilang ingin rumah dan ibu yang sabar.

Aku beralih menatap gambar rumah di tembok. Lalu menatap punggung tanganku yang memerah.

Ada jeda yang menggantung.

Aku tidak sepenuhnya mengerti.

Kipas angin terus berputar.

🌿