Di Tanah Kosong
Hidup yang Ingin Saya Jalani
Kau tidak sedang bertarung sendirian. Kau sedang dilihat, ditiru, dan dicintai dalam bentuk paling murni.
14 September 2016, pukul tujuh pagi, dua hari setelah idul adha, saya dibonceng naik sepeda motor menuju rumah sakit. Satu jam kemudian saya terbaring, mata melihat plafon putih, perut saya disayat. Saya merasakan benda padat menyentuh kulit perut saya, merasakan setiap irisannya, merasakan tangan yang mendorong, menarik, menekan—tapi tanpa rasa sakit. Satu bayi lelaki dikeluarkan dari perut.
Ritme hidup saya berubah; jam tidur, jam makan, jam mandi, segalanya berpusat pada dia.
Saya mengurusnya seorang diri, 24 jam, setiap hari, sampai usianya tujuh tahun.
Saya mengingat kelakukan lucunya sebelum berumur empat bulan; terbaring di kasur, kedua kaki menjejak-jejak, tangan memukul-mukul, mulut menyemburkan ludah dan ocehan tidak jelas, “hambeehhhh…hambeehhh…hammbeehh”, mata terang menatap ke atas, lalu tersenyum dan tertawa sendiri. Begitu terus setelah kenyang menyusu. Lalu ia menguap, merengek sebentar minta digendong. Tidak lama kemudian matanya terpejam dengan posisi kepala di antara ketiak, dada, dan lengan saya.
Ah wajah tidur bayi.
Dia pertama kali tengkurap di usia 4 bulan, tumbuh gigi di usia 6 bulan, mengucap kata pertama, “mamah” di usia 8 bulan.
Dia tidak merangkak.
Sebelum bisa duduk, dia mengitari lantai rumah dengan cara menumpukan kedua lengannya di depan dada, lalu menyeret seluruh tubuhnya. Cepat sekali. Saya pernah kehilangan sayap ayam pada mangkok, sepotong wortel pada piring, sebungkus tepung di rak, dan rupanya ulah dia.
24 jam waktu saya terbagi dengan jelas. Pukul 4 subuh saya bangun, pukul 10 malam saya tidur. 2 jam waktu untuk tidur siang. Sisanya, saya melakukan rutinitas yang sama; sekali masak untuk sarapan, mencuci pakaian, menyapu lantai, dan sepenuhnya mengurus anak. Saya memiliki 3 jam waktu kosong saat anak tidur. Mulanya saya hanya membaca. Lalu mulai menulis.
Hampir dua tahun kemudian, ketika anak saya sudah gemar berlari—tapi belum lancar bicara, saya menyelesaikan sebuah novel. Ceritanya ringan saja, semacam mendaki anak tangga pertama, ternyata bisa.
Sejak saat itu, saya tahu betul apa yang saya inginkan dalam sisa umur saya:
Mengurus satu anak. Menulis. Mendongeng sebelum tidur. Tidur nyenyak.
Sudah. Esok pagi mengulang lagi.
**
Suatu siang, anak saya berusia sekitar empat tahun, tidak berhenti menangis—saya lupa apa penyebabnya—lantas saya marah, memukul bokongnya, mencubit betisnya, menjewer kedua telinganya. Ketika menjewer itulah, saya begitu geram, lalu menarik kedua telinganya ke atas secara bersamaan, sampai badannya ikut terangkat, dan kakinya berayun sekitar tiga sentimeter di atas lantai. Ia menjerit. Saya segera menurunkannya lagi.
Anak saya berlari ke kamar, menjatuhkan badan ke atas kasur, menangis dalam posisi tengkurap sambil memegangi kedua telinganya.
Saya terpaku di ambang pintu. Sampai tangisannya reda sendiri. Sampai ia bangkit, berlari ke arah saya, memanggil ibu, memeluk kaki saya, saya tidak bergerak. Ia kembali ke kasur. Berbaring. Tidur.
Saya mendekat, menempelkan jari ke lubang hidungnya, merasakan hembusan nafasnya.
Malamnya saya tidak tidur. Malam berikutnya saya masih tidak bisa tidur. Malam berikutnya lagi, sampai bertahun-tahun, saya hanya tidur selama dua sampai empat jam saja setiap malam.
Ingatan pada kejadian siang itu tak pernah hilang. Seperti menancapkan silet di dada. Dan membiarkannya tetap menancap di situ. Sampai suatu pagi, saya sedang mencuci piring sambil menahan tubuh gemetar ketika mendengar suara penjual roti.
“Bu, roti hangat bu, dua ribuan…”
Saya berjalan cepat ke luar rumah. Membeli satu. Memakannya habis dalam dua suapan.
Gigi saya masih mengunyah dengan bungkus roti dalam genggaman ketika anak saya bangun, mendekat, lantas berkata,
“Ibu mana roti. Tadi aku dengar suara roti.”
Saya menelan tuntas roti dalam mulut terlebih dahulu, barulah menjawab, “sudah ibu makan habis, sayang, tadi ibu sangat lapar.”
Anak saya menangis. Marah. Minta roti baru. Di dalam lemari hanya ada koin lima ratus. Sementara penjual roti sudah pergi.
Roti itu memang miliknya. Setiap pagi kecuali pagi itu.
Anak saya memukul. Mulanya memukuli lengan saya, lantas memukuli wajah saya. Tadinya saya menghindar, tapi ketika ia menendang punggung, saya diam. Saya tetap diam ketika ia kembali menendang punggung saya. Menjambak rambut saya. Menjewer telinga saya. Mencubit paha saya. Lalu ia menonjok hidung saya. Warna merah menetes di lantai. Kami berpandangan. Saya berlari ke kamar mandi, ia mengikuti sambil menangis. Saya mengelap darah dengan kain. Ia mendekat, terisak-isak. Saya memeluknya lama sekali. Kami menangis bersama.
Malamnya, saya tidur nyenyak selama enam jam.
Pagi-pagi saya membuka buku catatan, mencoret angka 29. Di lembaran itu, ada judul ditulis dengan huruf besar: 30 HARI TANPA MEMUKUL.
Lembaran berikutnya tertulis: 30 HARI TANPA MEMBENTAK, 30 HARI TANPA MARAH, dan 30 HARI TANPA MENGGERUTU.
Lembaran-lembaran sisanya adalah denah rumah dan angka-angka. Jumlah yang saya hitung seandainya saya masih bekerja.
**
Buku catatan itu telah saya bakar, dan abunya tertimbun di antara reruntuhan rumah lama di Bekasi.
Saya hanya membawa sedikit pakaian dan beberapa buku dari rumah itu. Milik saya berpindah ke kamar kos kecil di Majalengka, milik anak saya ke rumah orang tua saya di Brebes.
Anak saya baru bisa tidur tanpa mendengar suara saya terlebih dahulu, dan mau digantikan oleh dongeng yang diceritakan kakeknya pada bulan ketiga kami berpisah.
Setiap malam sebelum tidur, saya memandang satu bantal di samping saya, membayangkan anak saya berbaring di sana. Sembilan belas bulan saya melakukan itu di Majalengka, empat bulan kemudian saya lakukan hal itu di Solo.
Dan kini, sudah tiga bulan anak saya benar-benar berbaring di samping saya setiap malam.
Rutinitas lama kembali. Saya membacakan dongeng sebelum tidur. Ia sudah tidak mau lagi mendengar cerita tentang singa dan kelinci. Maka saya membacakan serial pertama Harry Potter yang sudah selesai di akhir Januari lalu, berlanjut ke cerita Pangeran Kecil, dan kini Sang Alkemis.
Ia sebenarnya tidak suka membaca. Ia hanya mau mendengarkan saya bercerita.
Pertunjukan wayang orang yang pernah kami tonton di balai kota Surakarta membuatnya melirik buku tebal di rak. Epos Mahabharata dan Ramayana.
“Nanti ibu bacakan cerita itu ya kalau Alkemisnya sudah selesai,” katanya.
Saya mengangguk.
“Ibu, aku ingin rumah, yang adem ada AC-nya.”
Keinginan itu lagi. Yang diucapkannya hampir setiap malam.
Dia tidur setelah pundaknya saya tepuk-tepuk.
Saya terjaga sampai dini hari. Lalu bangun tidur dengan kantuk yang belum tuntas. Selalu ada gesekan kecil pagi-pagi, ketika memintanya mandi, sarapan, berkemas. Kotak nasi, lego, biskuit, botol minum, pensil warna, dimasukkan ke dalam paper bag.
“Nanti di kantor bersikap sopan dan tenang ya sayang.”
Saya mengingatkan. Dia mengangguk.
Kami naik sepeda listrik. Saya tidak bisa mengendarai motor. Tidak juga sanggup membelinya.
Di kantor, ia hampir tidak pernah menangis, merengek, apalagi marah. Sesekali ia kesal, memang, karena saya membatasi jam bermain game di ponsel. Ia bosan bongkar pasang lego. Ia tidak tahan lama membaca buku. Ia cepat lelah ketika belajar menulis huruf sambung. Ia juga tidak terlalu suka menggambar dan mewarnai.
Sering saya menatapnya tajam, juga meletakkan telunjuk ke mulut supaya dia diam.
Dalam perjalanan pulang, saya membayangkan rumah milik sendiri dengan dua kamar, penghasilan setidaknya dua kali lipat UMR Solo, dari pekerjaan menulis yang bisa dilakukan di mana saja.
Kerap saya membayangkan hidup ideal itu, tapi setiap hari pula saya berangkat kerja terburu-buru, bertengkar dengan anak karena rebutan HP, anak menangis melihat kening saya berkerut.
"Aku takut kalau ibu marah.” Katanya selalu.
Dia ingin rumah, ya, keinginannya hanya satu dan tidak berubah, ketakutannya juga satu dan tidak berubah. Takut saya marah. Padahal marah saya adalah berkata dengan penekanan nada dan kening berkerut. Tidak pernah ada bentakan, apalagi pukulan.
Di pintu lemari ada poster Pak Jokowi. Saya memintanya dari kantor lama di Majalengka, ketika akan diganti presiden baru, dan poster itu hendak dibuang. Saya menempelkannya di tembok kamar kos di Majalengka. Saya bawa sampai ke Solo.
"Ibu ingin sabar seperti pak jokowi."
Saya pernah berkata begitu.
"Aku mau jadi cucunya Pak Jokowi yang sabar, gak mau jadi anak ibu."
Anak saya sekarang malah berkata begitu ketika saya marah.
🌿