Empat Jam dan Rp 250.000
Suatu sore, rekan kerja saya dari bagian marketing meminta bantuan membuat laporan penjualan toko TikTok miliknya.
Ia memiliki tiga data. Riwayat transaksi, data pencairan dana dari TikTok, dan daftar harga beli produk.
Masalahnya, laporan pencairan hanya memuat nomor resi. Tidak ada nama barang yang dijual. Untuk mengetahui margin, setiap pencairan harus dihubungkan terlebih dahulu dengan transaksi yang sesuai. Nomor resi menjadi satu-satunya penghubung di antara keduanya.
Saya mulai mengolah data sekitar pukul sepuluh malam.
Dengan beberapa rumus Excel, transaksi, pencairan, dan harga beli menjadi saling terhubung. Dari sana muncul omzet per hari, omzet per bulan, omzet per produk, pencairan harian, rekap bulanan, hingga margin setiap pesanan.
Sekitar pukul dua dini hari file itu selesai.
Esok harinya ia mentransfer Rp250.000.
Saya memandangi angka itu beberapa saat.
Empat jam pekerjaan di malam hari hampir setara dengan tiga hari bekerja di kantor.
Sulit bagi saya untuk tidak membandingkannya dengan gaji bulanan yang saya terima. Pekerjaan di kantor jauh lebih banyak, lebih rumit, dan tetap saya kerjakan dengan sebaik mungkin.
Bagaimana pun saya menghargai keleluasaan yang saya miliki untuk menjemput anak pulang sekolah dan membawanya ke kantor, biaya hidup dua orang, meskipun sudah berhemat, tetap belum tercukupi dari penghasilan yang saya dapat.
Apakah mungkin ada cara lain untuk bekerja?
Setelah ia bertanya mengenai beberapa poin dalam laporan itu, saya memberanikan diri menawarkan jasa menulis.
Saya mengatakan bahwa di luar jam kantor, saya juga menulis.
Saya berdebar-debar saat mengatakannya. Canggung. Malu. Takut.
Ia berkata, kenapa tidak promosi, kenapa tidak buat konten sendiri.
Saya tersenyum kecil.
Lalu mengatakan bahwa saya tidak bisa.
Promosi. Membuat konten. Berbicara di depan kamera.
Hampir semua hal yang mengharuskan saya tampil di depan orang membuat saya gugup.
“Bikin konten kan gak harus nampilin muka,” katanya.
Ia benar. Ada banyak cara lain untuk bekerja. Membuat konten pun tidak selalu harus memperlihatkan wajah.
Namun, mengetahui bahwa sebuah jalan ada tidak berarti saya mampu langsung melaluinya.
Bahkan saat menawarkan jasa menulis kepadanya, suara saya sudah gemetar.
Sampai saat ini, saya masih mencari cara yang benar-benar bisa saya jalani.
🌿