Hidup yang Ingin Saya Jalani
Suatu sore, anak saya berumur sekitar 5 tahun, memegang kedua pipi saya, mendekatkan wajahnya ke wajah saya, lantas berkata, "ibu, aku lihat diri aku sendiri di mata ibu. Ibu bisa lihat ibu di mata aku enggak?
Saya diam sebentar mencerna ucapannya. Hal kecil yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya, melihat diri sendiri di mata orang lain. Saya pun menatap bola matanya lekat-lekat, lalu melihat seseorang duduk. Di matanya, saya hanya bayangan kecil—utuh, melengkung di permukaan kornea yang cembung. Di sekitarnya ada lantai, tembok, rak, televisi, dengan bayangan yang sama utuhnya, sama kecilnya.
Pagi kemarin saat sedang mengendarai sepeda listrik bersama anak, mata saya spontan menatap kaca spion sebelum berbelok di tikungan. Di situ, secara bersamaan, anak saya juga menatap kaca spion. Kami berpandangan. Tersenyum. Cekikikan.
Pertengkaran kami satu jam yang lalu sebab menu sarapan telor ceplok lagi dan PR yang lupa dikerjakan menguap begitu saja. Mulut kami tidak lagi saling cemberut. Lebih dari itu, wajah saya tidak membentuk kerutan di kening, mata tidak melotot—wajah yang kerap membuat anak saya berkata dengan hampir menjerit, “Ibu seperti Emak.”
Saya tahu betul wajah itu.
Gagang sapu. Jeweran telinga. Bekas cubitan yang merah di kulit. Jambakan rambut.
Semuanya datang bersamaan, tanpa urutan.
Saya melambatkan laju sepeda. Tubuh saya lebih dulu mengenali sesuatu yang belum sempat saya pahami. Ada jeda yang menggantung—was-was yang tidak jelas arahnya.
Saya tidak mengerti semuanya.
Saya berbelok lagi di perempatan.
Hampir 3 bulan setelah saya membeli sepeda listrik, dan kami berboncengan setiap hari ke sekolah, ke kantor, dan jalan-jalan Solo, baru kali itu kami sama-sama menyadari apa yang bisa dilakukan kaca spion. Saya tidak bisa melihat diri saya sendiri, hanya bisa melihat wajah anak saya. Sebaliknya, anak saya tidak bisa melihat wajahnya sendiri, hanya bisa melihat wajah saya.
Maka sepanjang dua kilometer perjalanan menuju kantor, kami sering saling melirik, saling menatap, saling tersenyum, saling tertawa cekikikan.
🌿