Janda Tua yang Kebanyakan Mikir
Kemarin anak saya sakit tiga hari. Selama itu pula saya tidak bekerja.
Ia hanya mampu makan beberapa suap saja, lalu kembali berbaring, merintih, menangis. Ia tidak mau meninggalkan salat. Saya menggendongnya, membantunya berwudhu, melihatnya salat sambil duduk. Saya teringat diri saya sendiri di usia yang sama.
Entah dari mana datangnya kesungguhan beribadah dan belajar—tanpa disuruh-suruh—pada seorang anak kecil.
Anak saya sekarang seperti saya dahulu, tetapi sekaligus tidak seperti saya sama sekali. Ia anak lelaki. Saya anak perempuan. Ia tidak memiliki ayah yang hadir dalam hidupnya, meskipun ayahnya masih hidup. Saya memiliki ayah dan ibu yang lengkap. Ia tinggal di kota asing, jauh dari keluarga besar. Saya tumbuh di kampung tempat hampir semua orang—jika ditelusuri cukup jauh—adalah saudara.
Ia selalu mencari saya terutama ketika sakit. Saya tidak ingat pernah mencari seseorang dengan cara yang sama. Ia menerima pelukan dan ciuman saya, kadang masih saya gendong. Saya tidak ingat kapan terakhir kali saya digendong, dipeluk, dan dicium oleh orang tua saya.
Pada malam hari saya terus-menerus mengecek suhu tubuhnya. Saya memijat kakinya, menggenggam tangannya, mengusap punggungnya, berharap panasnya mereda dengan sentuhan tangan saya.
Saat membawanya ke puskesmas, di ruang pendaftaran, seorang petugas menanyakan nama ayahnya. Rasanya saya ingin sekali menyemburkan sumpah serapah.
Saya membacakan cerita lebih banyak, termasuk pada siang hari, dan kali ini ceritanya tentang Lelaki Tua dan Laut. Ketika cerita sampai pada ikan hiu yang datang menggigit si ikan besar, ia menyela dengan cerita Nabi Yunus yang ditelan ikan paus.
Tiga hari tiga malam Yunus berada dalam kegelapan di dalam perut ikan.
Tiga hari tiga malam saya mengurus anak yang terbaring lemas di tempat tidur.
Saya memejamkan mata, berharap bisa tidur barang sejenak, tapi gelombang pikiran saya membawa saya pada banyak hal di masa lampau, terutama mantan suami. Satu kalimat berulang-ulang menggema di dalam kepala saya, Eli, Eli, Lama Sabachtani!
Betapa tak masuk akalnya bahwa hanya karena mimpi melihat Pak Jokowi, saya memutuskan pergi jauh ke kota asing dengan membiarkan leher saya diganduli tanggung jawab mengurus anak seorang diri. Apakah saya luput mempertimbangkan kemungkinan ia sakit, dan setiap kali ia sakit, sejak bayi, sesuatu di dalam diri saya seolah runtuh.
Kenyataannya di Solo saya menjalani kehidupan sebagaimana sebelum-sebelumnya saya menjalani kehidupan. Dan isi kepala saya tidak pernah berhenti pada apa yang sedang terjadi.
Seorang anak demam.
Saya melihat anak saya, lalu melihat diri saya sendiri pada usia sepuluh tahun. Dari sana ingatan saya bergerak ke masa ketika saya mulai bertanya-tanya tentang Tuhan. Dari Tuhan saya sampai pada kalimat dalam Alkitab. Dari kalimat itu saya teringat mimpi-mimpi lama. Dari mimpi saya kembali pada keputusan pergi ke Solo. Dari Solo saya mempertanyakan lagi apakah saya sebenarnya sedang menjalani hidup saya sendiri, atau hanya mengikuti sesuatu yang saya beri nama kehendak.
Satu kejadian kecil membuka pintu ke kejadian lain, lalu pintu lain, lalu pintu lain lagi. Sampai akhirnya saya berada di tempat yang sangat jauh dari anak yang sedang terbaring di hadapan saya.
Saya tidak pernah mengalami dunia sebagai kumpulan kejadian yang terpisah. Semuanya seperti saling memanggil.
Sebuah mimpi memanggil masa kecil. Masa kecil memanggil Tuhan. Tuhan memanggil ketakutan. Ketakutan memanggil keinginan untuk bebas. Keinginan untuk bebas memanggil uang. Uang memanggil pekerjaan. Pekerjaan memanggil harga diri. Harga diri memanggil kembali anak perempuan yang dulu belajar bahwa meminta sesuatu berarti bersiap menerima bentakan.
Satu mimpi bisa mengubah keputusan saya, sebab barangkali, meski tanpa sadar, saya akan menghubungkan mimpi dengan segala sesuatu yang pernah saya alami sebelumnya, lalu memberikan hubungan itu cukup banyak arti sampai akhirnya sebuah keputusan lahir.
Kalau begitu, apa yang membawa saya ke Solo bukan semata mimpi melihat Pak Jokowi. Nyatanya, setelah di sini saya belum pernah bertemu dengannya, bahkan tidak pernah memiliki keinginan untuk berkunjung ke rumahnya.
Jadi, mungkin saja mimpi itu hanya satu titik kecil dalam jaringan pikiran yang sudah dibangun selama bertahun-tahun.
Itulah yang tidak pernah saya pahami tentang kehendak.
Saya sering membayangkan kehendak sebagai sesuatu yang datang dari satu tempat di dalam diri saya, bersih dan tegas.
Saya ingin pergi. Maka saya pergi. Saya ingin rumah. Maka saya mencari rumah. Saya ingin uang. Maka saya mengejarnya. Tetapi semakin saya pikirkan, semakin tidak jelas siapa sebenarnya yang mengatakan saya ingin.
Apakah saya?
Atau anak kecil yang dulu takut kekurangan?
Atau seorang ibu yang ingin anaknya mempunyai kehidupan yang berbeda?
Lalu dari mana mimpi-mimpi aneh itu datang?
Mimpi yang seolah nyata, mimpi yang pada saat bermimpi saya ingat betul bahwa mimpi tersebut sudah berulang kali saya impikan sejak kecil, mimpi yang membuat saya membaca banyak buku, mencari pemahaman, sampai mimpi yang membawa saya pada keputusan mengubah hidup.
Padahal jauh dari semua itu, saya hanya ingin hidup tanpa tekanan. Seperti rumput yang tumbuh menjadi rumput. Seperti capung yang terbang selayaknya capung.
Kenapa Tuhan menciptakan saya dengan isi kepala yang bisa membuat tragedi kiamat saat anak sakit, lalu isi kepala itu membawa saya ke mimpi, masa kecil, alam semesta, dan pertanyaan tentang mengapa manusia harus menderita.
Ketika mendengar kalimat Eli, Eli, Lama Sabachtani sambil melihat garis terang dan gelap pada tembok, rasanya saya ingin sekali menangis—tetapi tidak menangis. Saya malah menghitung sisa saldo di rekening, membayangkan televisi—yang belum ada—di ruang tamu, lalu mengira-ngira berapa harga kompor, kulkas, perabot dapur, sampai AC dan motor. Rupanya saya memang membutuhkan uang.
Apakah Tuhan telah meninggalkan saya? Apakah mimpi-mimpi juga tidak lagi ingin mendatangi saya?
Sore harinya ketika menamatkan Lelaki Tua dan Laut, ketika membaca anak lelaki yang datang ke gubuk si lelaki tua yang ternyata sedang tidur, lalu melihat kedua tangan lelaki tua itu dan mulai menangis, saya pun ikut menangis. Saya terus saja menangis ketika anak itu pergi memesan kopi, sementara para nelayan mengelilingi perahu dan seorang di antara mereka mengukur kerangka ikan.
Anak saya bertanya kenapa saya membaca sambil menangis. Saya sungguh tidak tahu. Entah karena si lelaki tua. Entah karena ikan-ikan yang mati. Entah karena anak lelaki di dalam buku, anak lelaki yang berbaring di depan saya, atau anak perempuan berusia sepuluh tahun yang sudah lama sekali tidak saya pikirkan sebagai seorang anak.
Jadi, siapa sebenarnya yang sedang saya asuh?
Barangkali saya telah menghabiskan sebagian besar hidup untuk mencari makna, padahal sebagian kejadian mungkin memang hanya kejadian.
Sekarang anak saya sudah sembuh. Tetapi kemarin saya panik setengah mati.
Mungkin saya hanya janda tua yang kebanyakan mikir.
🌿