Alang-Alang

Janji Kelas Tiga

Saya menatap lemari kecil di kamar kos, lalu menimbang-nimbang untuk membeli jenis rak yang cocok guna menampung peralatan makan dan kipas angin dan mesin penanak nasi dan tumpukan buku di lantai. Tiga puluh tiga hari menjelang kehidupan baru yang akan saya jalani bersama anak.

Jika bisa—dan mesti bisa—saya memiliki pekerjaan yang memberi saya penghasilan besar, sekurang-kurangnya dua kali lipat dari UMR Solo. Bagaimana pun murahnya biaya hidup di sini, memiliki anak dengan hanya pendapatan 2,4 juta tak bisa memenuhi standar hidup layak terutama jika menginginkan pendidikan terbaik. Dan saya pindah ke Solo bukan untuk mengulang siklus lama, siklus bekerja keras bagai kuda dengan saldo nol.

Saya tak lagi ingin hidup dari sisa-sisa tenaga, dari uang pas-pasan yang membuat saya harus menghitung harga minyak seperti menimbang denyut nadi sendiri. Saya ingin bekerja dengan kepala tegak, bukan dengan punggung bengkok. Saya ingin tidur tanpa memikirkan apakah beras cukup sampai akhir minggu. Saya ingin menyambut anak saya tanpa ketakutan-ketakutan kecil yang terus menggerogoti keberanian saya.

Tiga puluh tiga hari terasa seperti ruang tunggu yang panjang. Setiap malam, sepulang kerja dengan menggoes sepeda, saya duduk di lantai kamar kos dan memberi waktu bagi pikiran saya untuk berlari ke segala arah: gaji, sewa kamar, kebutuhan sandang pangan, biaya sekolah, uang tabungan yang bahkan tak layak disebut tabungan, dan satu-satunya mimpi yang tidak pernah saya tinggalkan—menulis.

Saya tidak akan berhenti menulis, sekalipun dunia tidak menganggap tulisan saya berharga. Tetapi saya juga tidak bisa menafikkan fakta bahwa menulis, bagi saya saat ini, barulah sebatas untuk menyiram jiwa saya agar tetap hidup, sementara raga menuntut makan, menuntut pakaian, menuntut tempat tinggal, dan semua itu membutuhkan uang. Kedua-duanya adalah hal yang berbeda, meskipun hampir sepanjang waktu saya berharap bahwa satu hal tersebut—menulis—cukup untuk menopang segalanya: kesejahteraan dan ketenangan dan kebebasan jiwa raga.

Saya perempuan dewasa, seorang ibu, seorang janda, orang yang memikul hidup di punggungnya tanpa siapa pun menyertai langkahnya kecuali anak sendiri.

Dua tahun lalu, saya telah mengucap janji kepada anak tunggal saya untuk dapat hidup bersama lagi setelah kehancuran yang terpaksa memisahkan kami berdua. Hidup mengajari saya bahwa janji, terutama yang diucapkan oleh orang tua kepada anak kecilnya tidak dapat hilang begitu saja. Janji itu menunggu untuk ditepati—kadang dengan cara yang lebih sulit dari yang pernah dibayangkan.

Maka malam ini, sambil memandangi kardus yang berisi kopi, tepung, dan botol plastik, saya membayangkan sebuah rumah sederhana dengan rak buku yang kuat, dapur yang hangat, dan kursi belajar yang pantas untuk anak sembilan tahun. Saya membayangkan pekerjaan yang bukan hanya cukup, tetapi membuat saya bisa bernapas. Saya membayangkan hari ketika saya tidak lagi takut membuka aplikasi mobile banking, tidak lagi menimbang-nimbang lama dan membandingkan harga dari enam toko berbeda untuk satu produk yang sama.

Di antara semua bayangan itu, saya menyadari satu hal: tiap benda yang saya timbang-timbang—rak buku, piring, kipas angin, rice cooker, kasur—bukan sekadar barang, melainkan awal dari hidup yang ingin saya bangun bersama anak saya.

Saya belum memiliki semuanya, saya membayangkan telah memiliki semuanya, saya menghitung hari ke satu sampai tiga puluh tiga untuk berharap, untuk bekerja, untuk menulis—dan mungkin, untuk mewujudkan keajaiban, jika keajaiban memang bisa dibujuk oleh kehendak manusia.

🌿