Alang-Alang

Kehendak, Mimpi, dan Gagasan Mengubah Hidup

Kalau sebuah teori menjelaskan sebagian pengalaman manusia dengan indah, bisakah hal itu menjelaskan seluruh kehidupan?

Bapak saya seorang tukang bangunan.

Sewaktu kecil, ketika melihat bapak mengaduk pasir dan semen, saya pernah berpikir, jika manusia membangun rumah untuk dihuni, maka Tuhan membangun alam semesta untuk apa? Apakah hanya untuk ditinggalkan dan diawasi, menandai siapa manusia beriman dan siapa pembangkang untuk dimasukkan ke jenis rumahnya yang lain?

Pertanyaan itu terkubur oleh usia dewasa, pekerjaan, pernikahan.

Suatu malam sekitar tujuh tahun lalu, saya bermimpi berada di dalam aula besar mendengarkan kuliah berbahasa Inggris. Saya tidak tahu siapa lelaki yang berdiri di podium. Tapi saya ingat wajahnya. Beberapa hari kemudian saat scrolling youtube, lelaki itu saya lihat lagi. Wajahnya sama. Suaranya sama. Wajah dan suara Neville Goddard. Lalu saya membaca banyak buku dan materi kuliahnya yang tersebar di internet. Sebagian menjawab pertanyaan masa kecil saya. Sebagian lagi belum.

Nampaknya satu gagasan tentang mengubah nasib bisa menjelaskan banyak hal dan begitu mudah dipraktekkan. Tapi jika demikian, mengapa tidak banyak gelandangan yang mendadak jadi jutawan? Jika pun gagasan itu mustahil, maka begitu aneh bahwa nyatanya peradaban semakin maju.

Di luar dari pertanyaan-pertanyaan yang menggantung itu, hampir selama tujuh tahun ini saya terus mengujinya kepada hidup saya sendiri.

Mula-mula yang ingin saya wujudkan adalah uang.

Kehidupan berubah tanpa benar-benar memiliki sejumlah besar uang.

Pada banyak malam di masa pandemi, ketika sepanjang hari saya tidak makan, saya sering hanya berbaring semalaman tanpa tidur, sementara di dalam kepala yang dipenuhi gelap, cahaya muncul perlahan. Cair, berputar, sewarna emas. Seperti air yang berpusar. Pusarannya meredakan gemetar dan perih dalam perut.

Sampai satu malam tubuh saya mengembang. Bukan membesar seperti daging, tapi seperti ruang, melebar ke segala arah, menjadi seluas bumi. Lalu saya mengapung. Terangkat, pelan, sedikit demi sedikit, seperti dilepaskan dari lantai, melewati atap rumah, terus naik. Lampu-lampu di jalanan mengecil menjadi titik-titik, suara-suara menjadi bisikan. Saya berada di ketinggian, melihat semua manusia di bumi menyatu menjadi satu tubuh. Ada yang menjadi kepala. Ada yang menjadi kaki. Tangan. Punggung. Perut. Ketiak. Bokong. Semua bagian tubuh manusia terisi oleh manusia. Tidak ada yang lebih tinggi. Tidak ada yang lebih rendah. Semua bekerja di tempatnya.

Keesokan harinya saya melihat cahaya. Dari atas meja, dari ponsel suami saya yang tergeletak di sana, menyala karena ada pesan masuk. Saya tidak pernah tertarik pada ponsel itu sebelumnya, tidak peduli apapun isinya, kecuali pagi itu. Bermula dari sana saya lepas dari pernikahan.

Tiga tahun sebelum penemuan riwayat penyelewengan dari ponsel itu, pada masa awal saya sering duduk hening sambil memejamkan mata, suami saya pernah berkata:

“Kamu sedang apa? Jadi biksu, hah!”

Dia tertawa. Dengan nada dan tatapan mengolok-olok, dia menirukan kata-kata yang sering diucapkan biksu Tong dalam perjalanan ke barat mencari kitab suci.

Saya tidak terlalu peduli pada olok-olok tersebut. Saya tetap memasak, mencuci, mengajari anak membaca iqro, sesekali datang ke acara pengajian gang, sisanya berdiam diri saja, duduk hening memejamkan mata. Tidak ada yang berubah dari cara saya berperilaku, kecuali bahwa amarah yang semula cepat tersulut, menjadi lebih terkendali, bahwa saya lebih banyak menutup mulut dari pada menunjuk sambil bersungut-sungut. Tapi tahu-tahu, setelah saya diceraikan, saya hendak diusir dari perumahan tersebut.

Rupanya suami saya pernah diam-diam memotret saya ketika sedang duduk hening. Mula-mula dia mengirimkannya kepada perempuan itu. Dari sana, foto itu sampai kepada keluarganya, kerabatnya, lalu orang-orang lain. Dari satu ponsel ke ponsel berikutnya, sampai akhirnya semua orang tahu.

Foto itu sebenarnya biasa saja. Saya sedang duduk di ruang depan, memejamkan mata, menutup wajah dengan kerudung agar tidak silau. Di depan saya ada rak televisi dan tembok.

Tapi seseorang dari keluarga perempuan itu kemudian mengatakan bahwa saya kerap semedi di depan lilin. Cerita menyebar bersama cerita-cerita lain. Ada pula yang memiringkan jari telunjuk di keningnya ketika menyebut nama saya.

Di desa kelahiran saya, orang-orang tidak hanya menyebut nama saya, tapi membawa serta nama bapak, ibu, bahkan kakek-nenek yang telah lama meninggal. Nampaknya tidak ada yang lebih hina dari menodai nama besar leluhur, bahkan jika leluhurmu hanya dikenal karena punya lima anak dan rumah dari bilik bambu.

Saya begitu ingin pergi, ke tempat yang tidak seorang pun mengenal saya. Setiap hasil pencarian di internet mengenai kota asing yang mungkin bisa saya tinggali tidak benar-benar memberikan jawaban yang meyakinkan, sampai satu malam saya bermimpi melihat Pak Jokowi, lalu pagi harinya saya memesan tiket kereta api menuju stasiun balapan.

Ketika dalam mimpi saya mendengar bapak mengizinkan saya membawa anak ke Solo—meski dalam kenyataannya hal itu tidak pernah terjadi sebab tidak mungkin ada diskusi dua arah di antara kami, pagi harinya saya mendatangi sekolah baru, membayar uang pendaftaran, mengurus pindahan.

Saya membawa anak pindah dari kamar kos ke sebuah rumah—meski sewa—dengan cara yang lebih biasa. Seorang kawan memberi info, saya melakukan survei, sebagian uang saya dapat melalui pinjaman, lalu transaksi terjadi. Tidak ada mimpi.

Namun, saya menulis banyak catatan mengenai kehendak untuk tinggal di sebuah rumah, sama banyaknya dengan catatan yang saya tulis terkait keinginan saya membawa anak ke Solo—saat itu anak saya masih bersama kakek-neneknya.

Menulis—baik di dalam buku, di lembaran kertas bekas, atau pun yang saya posting di blog—adalah satu hal rutin yang saya lakukan sejak dulu, bahkan sejak masih anak-anak. Gambar-gambar, hitung-hitungan, curhatan sepele, kaligrafi, dan setiap hal dalam hidup saya tuliskan. Buku yang sudah penuh saya sobek dan buang ke tong sampah, kadang saya bakar. Saya lalu membuka halaman kosong pertama dari sebuah buku baru. Bagaimana saya melangkah dan mengambil keputusan adalah hal lain yang terjadi setelahnya.

Sebuah gagasan menyatakan bahwa state adalah keadaan batin tempat seseorang hidup. Perubahan realitas memerlukan perubahan kondisi batin terlebih dahulu.

Sekarang saya bekerja sebagai akuntan di sebuah usaha kecil yang sebelumnya tidak memiliki pembukuan yang tertata.

Saya mengumpulkan data lama yang masih tersedia, kemudian membuat sistem baru dengan Excel. Transaksi cukup dicatat satu kali, lalu beberapa laporan dapat terbentuk dari sumber yang sama. Saya membuatnya dengan rumus-rumus sederhana, bukan sesuatu yang istimewa, tetapi pekerjaan yang sebelumnya harus dilakukan berulang-ulang menjadi lebih mudah ditelusuri.

Laporan penjualan e-commerce juga sebelumnya dikerjakan satu per satu dari lembar-lembar bukti pengiriman. Pengembalian barang dicatat tulis tangan berdasarkan barang yang benar-benar kembali. Saya mengubahnya menjadi laporan yang bersumber dari data transaksi yang dapat diunduh dari e-commerce tersebut. Dari sana, data dapat diringkas dan dianalisis berdasarkan hari, bulan, tahun, maupun produk. Jumlah penjualan, biaya, margin, dan pengembalian barang dapat dilihat dengan lebih mudah.

Pekerjaan saya kemudian merambat ke bagian lain: produksi, penggajian, administrasi karyawan, sampai dokumen perjanjian kerja.

Laporan yang sebelumnya hanya menunjukkan satu angka pada satu periode sekarang dapat ditelusuri kembali sepanjang tahun. Angka-angka itu tidak lagi hanya menjadi sesuatu yang dicatat, tetapi dapat digunakan untuk melihat apa yang sedang terjadi di dalam usaha.

Pada suatu pertemuan di rumah pemilik usaha, ia pernah mengatakan bahwa seandainya bertemu saya lebih awal, mungkin kerugian yang dialami usaha itu tidak akan sebesar sebelumnya.

Saya mengingat kalimat itu bersamaan dengan kalimat-kalimat lain yang ia katakan tentang usia saya yang hampir empat puluh tahun, tentang status saya sebagai ibu tunggal, suara saya yang gemetar ketika berbicara, juga anak yang saya bawa ke tempat kerja. Semua itu disebutnya sebagai keadaan yang membuat saya sulit mendapatkan pekerjaan.

Gaji saya sekarang Rp2,4 juta sebulan, dipotong sejumlah upah per hari jika saya tidak masuk.

Setiap akhir bulan, sebagai orang yang mengurus penggajian, saya membagikan slip gaji kepada para karyawan melalui whatsapp. Kadang-kadang saya melihat angka pada slip saya sendiri dan berpikir, mungkin memang hanya sejumlah ini harga saya. Di waktu lain, saya berpikir sebaliknya, bahwa pekerjaan yang saya lakukan seharusnya dibayar lebih dari ini.

Jika keadaan batin seseorang menentukan bagaimana ia menjalani hidupnya, kapan sebenarnya keadaan batin itu terbentuk?

Saat dewasa?

Saat kita memilihnya?

Atau jauh sebelumnya?

Seorang anak yang lahir dalam keluarga kekurangan tidak memilih untuk takut pada uang.

Seorang anak yang terus-menerus dimarahi tidak memilih untuk takut bertanya.

Seorang anak yang sejak kecil diberitahu bahwa dirinya menyusahkan tidak memilih untuk merasa tidak layak.

Seberapa mudah seseorang mengubah sesuatu yang telah terbentuk sebelum ia mempunyai kemampuan untuk memilih?

Saya kembali pada pertanyaan itu ketika melihat slip gaji saya sendiri, mencoba melihat di mana letak perbedaan antara harga yang diberikan dunia dan harga yang diam-diam saya percaya menjadi nilai diri saya.

Seseorang dibayar kecil lalu mulai menganggap dirinya kecil. Atau seseorang merasa dirinya kecil sehingga lebih mudah menerima harga yang kecil. Saya belum tahu mana yang lebih dulu, belum juga tahu bagaimana mengubah perasaan itu.

Apakah karena itu saya masih ada dalam kondisi saya yang sekarang?

Saya kembali pada uang.

Sejumlah angka ditulis, dihitung, dibayangkan, tidak benar-benar yakin bahwa uang itu sendiri yang saya inginkan dan, keparatnya, tidak juga saya dapatkan.

Jika saya memiliki lima ratus juta rupiah, saya tidak akan duduk di atas tumpukan uang itu setiap pagi, atau memandangi saldo di rekening sepanjang malam. Saya akan membelanjakan dan menyimpannya, sekian persen untuk kebutuhan dasar, sekian persen untuk pendidikan anak, sekian persen untuk traveling, dan sebagainya, dan sebagainya.

Saya menjalani hidup sebagaimana saat ini saya menjalani hidup. Dengan kelonggaran waktu.

Jika demikian, mengapa saya tidak bisa begitu saja membayangkan kehidupan itu dan tinggal di dalamnya?

Saya pernah mencobanya selama bertahun-tahun. Hidup memang berubah. Hanya saja, perubahan itu tidak datang dengan cara yang saya inginkan.

Saya tumbuh besar dengan mendengarkan sandiwara radio saban sore sambil memasukkan kayu bakar ke dalam tungku, menonton televisi milik tetangga sambil berjinjit di luar jendela, mengantri raskin di balai desa, memunguti sisa-sisa panenan kacang kedelai di sawah milik juragan, menerima bentakan saat meminta uang jajan.

Saban pagi saya bolak-bolak menimba air di sumur, memipil jagung dengan upah seratus rupiah per rantang dan, kerap menerima olok-olok sebab wajah yang tak elok dan cara berjalan saya yang aneh macam bebek.

Seberapa jauh kehendak saya dapat menentukan hidup saya ketika saya tidak memiliki sumber daya untuk menjalankan kehendak itu?

Apakah kehendak masih merupakan kehendak jika tidak dapat diwujudkan?

Apakah manusia benar-benar bebas memilih hidupnya, atau memilih di antara kemungkinan-kemungkinan yang sudah tersedia baginya?

Siapa yang menentukan kemungkinan itu?

Tempat kita dilahirkan?

Keluarga?

Tubuh?

Pendidikan?

Uang?

Orang lain?

Waktu?

Kebetulan?

Di antara keinginan dan kenyataan ada begitu banyak hal. Pengetahuan. Keterampilan. Kesempatan. Dan mungkin banyak hal lain yang belum saya ketahui.

Apakah membayangkan sesuatu berarti menciptakannya, atau hanya membuat saya mampu mengenali sesuatu tersebut ketika kesempatan itu muncul?

Pertanyaan ini menjadi semakin sulit karena uang bukan sesuatu yang bisa saya perlakukan sebagai permainan pikiran.

Tubuh saya tahu apa artinya tidak punya uang jauh sebelum saya membaca banyak gagasan manifestasi. Karena itu saya tidak bisa mengatakan kepada diri sendiri bahwa uang hanyalah sebuah keadaan batin.

Bagi orang yang sedang lapar, uang juga sepotong makanan. Bagi seseorang yang tidak memiliki rumah, uang adalah tempat berlindung. Bagi seorang ibu yang anaknya harus sekolah, uang adalah buku, seragam, ongkos, dan sesuatu yang lain yang tidak terlihat tetapi membuat anak dapat terus pergi ke sekolah pada pagi hari.

Saya bisa membayangkan uang, tetapi saya tidak bisa membayangkan rasa kenyang menggantikan makanan.

Saya bisa membayangkan rumah, tetapi rumah tetap membutuhkan semen, pintu, atap, tanah, tukang, dan uang untuk membayarnya.

Bapak saya membangun rumah dengan tangannya.

Saya pernah melihatnya menggambar denah rumah, mengaduk pasir dan semen, memasang batu bata. Sejak kecil saya tahu bahwa sebuah rumah tidak menjadi rumah hanya karena seseorang menginginkannya. Ada sesuatu yang harus dikerjakan.

Namun, tak dapat dipungkiri bahwa sebelum rumah berdiri, seseorang harus terlebih dahulu membayangkan rumah itu dapat berdiri.

Mungkin di situlah masalahnya. Saya tidak tahu seberapa jauh imajinasi bekerja. Saya hanya tahu bahwa manusia membangun sesuatu yang sebelumnya belum ada.

Rumah. Jalan. Pesawat. Buku. Komputer. Kota. Bahkan uang itu sendiri. Sesuatu yang pada mulanya hanya gagasan dapat berubah menjadi sesuatu yang sangat nyata.

Apakah itu berarti setiap gagasan dapat menjadi kenyataan?

Saya tidak tahu.

Tidak semua orang yang menginginkan kekayaan menjadi kaya.

Setiap orang tidak memulai dari tempat yang sama.

Jika saya dibayar Rp15 juta, apakah saya akan merasa lebih berharga?

Jika saya dibayar Rp50 juta, apakah rasa tidak layak itu akan hilang?

Jika saya menjadi kaya, apakah saya akan berhenti takut kehilangan uang?

Atau justru saya akan menemukan ketakutan yang baru?

Lebih dalam lagi, siapa sebenarnya yang menginginkan uang? Diri saya sebagai ibu tunggal yang harus menafkahi anak seorang diri, atau anak kecil dalam diri saya yang dulu belajar bahwa uang berarti makan?

Dan jika saya tetap dibayar kecil, tetapi suatu hari saya tidak lagi merasa kecil, apakah keadaan saya benar-benar berubah?

Neville Goddard memberi saya sebuah cara melihat. Beberapa hal yang sebelumnya tidak saya pikirkan menjadi mungkin untuk dipertanyakan. Saya tidak hendak membuangnya hanya karena hidup saya tidak seluruhnya sesuai dengan apa yang dikatakannya. Biarpun begitu, saya tidak perlu memasukkan seluruh hidup saya ke dalam sebuah teori hanya agar teori itu tetap utuh. Tujuh tahun cukup lama untuk menguji sebuah gagasan. Belum cukup lama untuk memahami kehidupan.

Saya masih belum tahu apakah waktu dapat dibeli dengan uang, apakah uang dapat diwujudkan dengan kehendak, atau apakah kehendak itu sendiri telah dibentuk oleh hidup yang saya jalani.

Seberapa besar sebenarnya kehendak seorang manusia terhadap hidupnya sendiri?

Dan jika sebagian hidup memang dapat saya tentukan, sementara sebagian lainnya tidak, bagaimana saya mengetahui bagian yang mana?

🌿