Keinginan yang Tidak Berubah
Sudah lebih dari enam tahun sejak saya pertama kali mempelajari hukum Tuhan.
Saya membaca buku-buku dan mendengarkan kuliah Neville Goddard yang tersebar di internet. Saya mencoba bermacam teknik. Visualisasi. Menulis surat untuk diri sendiri. Menempelkan tulisan pada gelas minum. Mendengar ucapan selamat dalam imajinasi. Merekam suara sendiri yang menceritakan kehidupan ideal di masa depan, lalu mendengarkannya sepanjang malam selama berbulan-bulan.
Saya juga mendengarkan banyak tokoh lain. Louise Hay. Joe Dispenza. Dan siapa pun yang mengajarkan gagasan serupa.
Saya pikir sudah memahami prinsip-prinsipnya.
Lebih jauh lagi, saya pikir saya bisa mewujudkan kehidupan ideal yang saya kehendaki tersebut dengan mudah.
Kehidupan yang sebenarnya tidak pernah rumit.
Sejak melahirkan anak, keinginan saya hampir tidak berubah.
Sebuah rumah milik sendiri. Tidak perlu besar. Satu lantai dengan dua kamar sudah cukup. Saya bekerja dari rumah. Menulis. Memiliki penghasilan yang cukup untuk hidup kami berdua.
Lalu mengulang rutinitas yang sama setiap hari.
Mengasuh anak seorang diri. Mendongeng sebelum tidur. Menulis.
Keinginan itu tetap sama hingga sekarang.
Yang berubah adalah hidup.
Pernikahan saya berakhir. Rumah ikut terjual. Saya dan anak sempat terpisah selama dua tahun. Saya berpindah ke kota yang sebelumnya asing bagi saya. Memulai hidup dari awal.
Kami tinggal di sebuah kamar kos di Solo. Anak saya masih menginginkan hal yang sama seperti yang saya inginkan. Sebuah rumah. Ibu yang bekerja dari rumah. Bukan ia yang ikut bekerja bersama ibunya.
Karena saya tidak lagi memiliki suami, saya juga membutuhkan penghasilan sendiri.
Bukan suami baru.
Sama sekali bukan.
Selama bertahun-tahun saya percaya bahwa kesadaran menciptakan kenyataan, imajinasi mendahului pengalaman, kehidupan dapat berubah mengikuti identitas yang kita hidupi.
Mungkin memang demikian.
Tetapi ketika duduk untuk menulis catatan ini, saya mendapati diri saya berada di tempat yang agak aneh.
Saya tidak ingin menulis seolah-olah semua keinginan tersebut sudah terwujud.
Namun, saya juga tidak ingin berpura-pura bahwa saya sudah berhenti menginginkannya.
Maka saya melakukan apa yang selalu saya lakukan ketika tidak tahu harus menulis apa.
Saya menulis catatan.
Lalu catatan demi catatan bertambah banyak. Saya kumpulkan. Saya kurasi. Saya sunting.
Pada awalnya saya mengira sedang menulis buku tentang pengembangan diri dan hukum Tuhan. Tentang kesadaran. Tentang identitas. Tentang kehidupan yang ingin diwujudkan.
Ketika naskah itu selesai, rupanya menjadi kumpulan esai personal.
Memang selalu begitu.
Sewaktu menulis puisi, tulisan saya berubah menjadi prosa. Maka saya menyebutnya prosa liris.
Tulisan saya, entah kenapa, selalu jatuh pada cerita.
Dan cerita itu hampir selalu berakhir pada tempat yang sama: hidup saya sendiri.
Seperti itulah Rasa Layak untuk Hidup lahir.
🌿