Alang-Alang

LAPAR

Bermula dari perut, menuju lidah, menetap di kepala

mata menutup, kenangan melintas; arwah-arwah lapar menanam padi di sawah juragan

kaki kecil mengendap-endap di dapur, mengais nasi sisa di piring majikan

mimpi-mimpi gelisah mengaburkan pandang, terbaring di lantai kamar, berkeringat dingin

batin melolong, laksana tikus di lumbung, mati di timbunan padi

pada musim pemilu, sembako dibagi-bagi, seolah lapar datang lima tahun sekali.

Andai jadi pohon, takkan lapar, cukup matahari dan hujan

tapi pohon pun ditebang, kayunya dijual

masakan tetangga menyeruak di hidung, tapi bau tak bisa mengenyangkan

pasar riuh di kepala, dapur berasap di dada, aroma bawang goreng menampar kesadaran

semut-semut berpesta menarik bangkai kecoak

lidah mencicip ingatan; manis, pedas, asin, gurih, semua ilusi.

Tubuh menggigil, bukan dingin, tapi lapar

bayangan rempeyek kacang berderak bagai remuk tulang

dulu ibu memungut laron, kini aku merebus mie dalam air sepanci, dibagi tiga, makan seperti maling

samar wajah lelaki di baliho kampanye, janjinya memberantas kemiskinan, aku tetap lapar.

Awalnya satu malam, lalu satu minggu, hingga satu bulan, menetap panjang, bertahun-tahun.

🌿

~ puisi tidak lengkap. Merupakan bagian dari novel "Perempuan Gila di Persimpangan."