Alang-Alang

LAPAR

Mulanya dari perut, menjalar ke lidah, menetap di kepala.

Buyut, nenek, ibu, menanam padi di sawah juragan.

Terik yang sama, tanah yang sama.

Sawah itu tak pernah milik sendiri.

Kaki kecil mengendap di dapur, mengais nasi sisa di piring majikan.

Masakan tetangga menyeruak di hidung, bau tak bisa mengenyangkan.

Semut-semut berpesta menarik bangkai kecoak.

Lidah mencicip ingatan: manis, pedas, asin, gurih.

Dulu ibu memungut laron.

Kini aku merebus sebungkus mie, dibagi tiga, makan seperti maling.

Tikus mencicit di keranjang rongsok.

Bayangan rempeyek kacang berderak bagai remuk tulang.

Di baliho, wajah lelaki tersenyum, berjanji menghapus kemiskinan.

Pada musim pemilu, sembako dibagi-bagi, seolah lapar datang lima tahun sekali.

Bunyi token listrik mirip denyut nadi.

Menghitung mundur, lalu mati.

Dalam gelap, tak dapat tidur, diserbu nyamuk.

Kulit lengket gerah berdaki, tangan mengipas-ngipas dari kardus bekas.

Awalnya satu malam.

Lalu menetap panjang.

Setiap pekan was-was menatap kantong beras, butiran tersisa paling dasar.

Rengekan anak minta jajan, minta mainan.

Sementara di dalam lemari, tersimpan koin lima ratus, berkarat seperti hutang-hutang lintah darat.

Mulut anak dibekap, tangisan diredam.

Janganlah nyaringnya menyeberang ke telinga tetangga, jangan.

Malu datang lebih dulu dari belas kasihan.

Harga diri ditakar oleh nilai uang.

Jum’at berkah datang, berebut nasi kotak.

Mirip ayam dilempari jagung basi.

Di bawah redup lampu kamar, nasi lahap kusantap, bumbu kecap kujilat bersih.

Aku meneguk air keran seperti menelan aib sendiri.

Hari itu aku kenyang, sebentar.

Besoknya lapar lagi.

🌿

bagian dari Nyanyian Perempuan Gila