Alang-Alang

Laporan Dibuat Tanpa Akses ke Rekening Bank

Saya pernah bekerja dengan SAP di perusahaan multinasional. Lebih dari satu dekade kemudian, saya bekerja di UMKM Solo yang belum memiliki sistem pencatatan.

Saat menerima pekerjaan itu, saya baru beberapa minggu tinggal di Solo dan belum mengenal siapapun. Saya nekat memulai ulang hidup pada usia hampir empat puluh di kota asing. Tanpa relasi, tanpa tahu apapun tentang Solo. Setelah tujuh belas hari berkeliaran seorang diri di jalan-jalan Solo, saya diterima bekerja sebagai accounting dengan upah di bawah UMR.

Saat itu—jika tidak juga mendapat pekerjaan—kerja kasar pun akan tetap saya terima.

Di UMKM ini, belum ada yang mengisi posisi accounting sebelumnya. Laporan yang paling dibutuhkan adalah berapa jumlah penjualan. Sebab target penjualan lebih dikenal daripada laporan keuangan. Seringkali laba yang terlihat menjadi aneh sebab uang tetap menipis. Meski masuk setiap hari, tetapi tidak ada yang benar-benar tahu ke mana uang itu mengalir.

Untuk memudahkan pekerjaan, saya membuat file laporan keuangan excel sederhana yang mendekati program akuntansi. Cukup sekali input jurnal, maka buku besar, laba rugi dan neraca sudah tersaji otomatis.

Setelah laporan selesai, pertanyaan itu tidak hilang.

Mengapa keuangan masih terasa tidak lancar?

Padahal saya tidak pernah tahu berapa saldo tersisa di rekening.

Laba rugi dan neraca sepertinya tidak begitu penting. Maka saya membuat laporan khusus pergerakan dana. Memuat semua pengeluaran, baik pembelanjaan berupa aset, stok bahan baku, bayar angsuran, maupun biaya operasional usaha dan keperluan pribadi pemilik. Saya tambahkan catatan tebal di akhir.

“Laporan dibuat tanpa akses ke rekening bank.”

🌿