Memangkas Sulur Lama - 01
“Bagian mana dari diriku yang masih kupaksa tetap kecil?”
Anak saya pernah berkata, dengan nada ringan yang nyaris bercanda, “Ibu lagi ngomong sendiri, ya?”
Di lain waktu ia menatap saya lebih lama, lalu berkata, “Ibu lagi ngomong di dalam kepala, ya?”
Saat itu saya terdiam, baru menyadari sesuatu yang selama ini luput dari kesadaran saya sendiri: saya memang terus bicara. Suaranya keras tapi tidak terdengar, riuh tapi tidak terlihat, dan berlangsung tanpa henti.
Percakapan itu sudah tidak terjadi lagi hari ini, tidak juga kemarin, melainkan fragmen peristiwa masa lampau yang tidak pernah benar-benar selesai. Saya berbicara pada orang-orang yang tidak lagi hadir. Pada mantan suami. Pada keluarga yang membungkam saya. Bahkan pada masyarakat, pada suara-suara lama yang dulu menghakimi, menghina, menekan, dan menuntut saya untuk selalu kecil, selalu patuh, selalu mengerti. Saya berdebat, membela diri, menjelaskan, membuktikan—semua di dalam kepala. Dan tubuh saya ikut menanggungnya.
Anak saya rupanya tahu. Ia melihatnya dari mulut saya yang, katanya, kadang komat-kamit, juga dari mata saya. Masa lalu sering menyelinap dalam tatapan, dalam rahang yang mengeras, dalam kalimat yang tidak terucap, dalam kelelahan yang tak punya sebab jelas. Tanpa saya sadari, masa lalu tersebut ikut hadir di antara saya dan anak saya—menjadi tamu yang tidak pernah diundang, tapi selalu duduk paling depan.
Di sanalah saya paham, bahwa masa lalu perlu ditulis supaya tidak berbicara melalui tubuh.
Ya, ditulis. Memangnya ada jalan lain bagi saya?
Saya menulis catatan, dengan keberanian yang saya kumpulkan pelan-pelan, untuk memindahkan suara-suara dari kepala saya, dari pikiran saya, untuk memberinya wadah, memberinya batas, dan menentukan akhir. Saya tidak perlu lagi membawa percakapan lama ke dalam hidup yang sedang saya bangun bersama anak saya hari ini.
Sudah cukup hidup sambil berbicara dengan masa lalu.
“Mengapa yang lain boleh naif, sementara aku harus sadar?”
Saya sedang menuliskan hak saya untuk marah, kemarahan yang saya pendam selama 38 tahun usia saya, kemarahan yang mengendap dalam tubuh dan menjadi penyakit.
Saya diajari bahwa kemarahan orang tua adalah cinta, meski menyakiti diri saya, kemarahan orang lain adalah boleh, meski juga menyakiti diri saya, sementara kemarahan saya sendiri adalah dosa, dan itu, lagi-lagi, menyakiti diri saya. Tapi siapa peduli?
Ketika orang lain marah itu hanyalah bahwa:
demi kebaikan, demi mendidik, demi norma, demi agama, demi keluarga.
Saat saya marah maka:
durhaka, egois, tidak tahu diri, kurang ajar, perempuan celaka.
Saya berhak untuk marah tanpa merasa bersalah, bukan hanya menerima kemarahan orang lain dan memaklumi mereka.
Saya berhak untuk menginginkan lebih tanpa merasa jahat. Saya berhak berkata, bahkan menuntut, bahwa apa yang terjadi pada saya tidak adil—dan saya tidak akan memakluminya lagi.
“Mengapa aku harus sedewasa ini sejak kecil?”
“Mengapa aku harus kuat dulu baru diberi napas?”
Sebagai anak-anak, sejauh yang dapat saya ingat, saya tidak memiliki hak untuk bicara, untuk menyatakan kesedihan saya, ketakutan, kekesalan, rasa malu, kesakitan, kemarahan. Komunikasi saya dengan manusia, termasuk orang tua, mirip dengan televisi. Saya hanya menjadi pendengar. Lebih dari itu, televisi bisa saya tinggal pergi dan bisa saya matikan. Sementara suara-suara manusia—dengan bentakan, hinaan, dan perintah-perintahnya—harus saya dengarkan sampai tuntas, saya patuhi, turuti, yakini. Maka tersematlah berupa-rupa label dalam diri saya sesuai keyakinan mereka, dan saya, selama bertahun-tahun, meyakininya sebagai identitas saya: perempuan miskin, gigi tonggos bibir miring buruk rupa, budeg, bloon. Suara saya selalu bergetar, bahkan saat bicara dalam kondisi tenang sekalipun.
Saya pernah mendengar bermacam suara bayi, sengaja mencari tahu jenis suara manusia, untuk tahu apakah memang ada jenis suara seperti orang menangis.
Suara saya selalu seperti suara orang sedang menangis.
🌿