Memangkas Sulur Lama - 02
Ketakutan yang Menetap dalam Getaran Suara
Selama puluhan tahun saya mengira suara saya memang seperti itu. Serak. Bergetar. Seperti orang menahan tangis. Saya tidak tahu bahwa suara bisa menyimpan riwayat, bahwa tenggorokan bisa mengingat apa yang tak sempat diucapkan. Bahkan ketika saya sedang tidak sedih, bahkan ketika saya hanya menjawab pertanyaan sederhana, bahkan ketika saya berkata baik-baik saja. Tubuh saya lebih dulu tahu apa yang belum selesai. Mulut saya hanya mengikuti.
Kekerasan masa lalu tinggal di suara, di getar halus yang muncul setiap kali saya berbicara, di nada gemetar yang masih bersiap menerima bentakan.
Saya sudah belajar bicara pelan agar tidak dianggap berlebihan. Sejauh ini belum berhasil. Setiap kali bersinggungan dengan manusia, apalagi yang mengharuskan saya bicara, selalu membuat tubuh saya gemetar, dada saya berdebar-debar, air mata saya mendesak ingin keluar.
Saya belum menuliskan tangisnya. Suara ini saja sudah cukup memberi tahu, ada terlalu banyak hal yang dulu dipaksa bungkam. Untuk sekarang, saya berhenti di sini—di getar yang masih berjaga. Tangisnya akan mendapat wadahnya sendiri, nanti.
🌿