Memangkas Sulur Lama - 03
Suara siapa saja yang selama ini tinggal di kepalaku—dan apa yang ingin mereka katakan?
Sudah lama sekali kepala saya beralih fungsi menjadi ruang sidang, diri saya menjadi terdakwa sekaligus jaksa, dan masa lalu menjadi saksi yang tidak pernah diam. Semua suara-suara itu menghuni kepala saya selama bertahun-tahun dan, malam ini, saya tengah membangun wadah, lantas memindahkannya. Saya tidak lagi perlu meladeni mereka di dalam kepala. Mereka sudah punya rumah sendiri—dalam catatan ini.
Saya tidak membantah apapun. Saya memberi ruang lebih luas, jalan lebih panjang, dan kehendak lebih bebas kepada mereka.
Maka baiklah, saya memanggil mereka satu persatu untuk bicara; lantang, jujur, tanpa disela.
Saya ini siapa?
Perempuan jelek.
Cermin menjawab begitu. Foto menjawab begitu. Mata orang lain menjawab begitu.
Saya perempuan miskin.
Lahir dari orang tua miskin. Hidup melarat sejak kecil. Pernah mapan saat berusia 25 ketika bekerja di perusahaan multinasional. Lantas menikah dan kembali miskin.
Saya perempuan tolol.
Plonga plongo.
Memang telinga saya budek sebelah. Jadi sering, bahkan selalu, menjawab “hah.” Sebab tidak mendengar jelas.
Suara saya tidak perlu didengar. Tidak penting untuk didengar. Tidak enak didengar.
Satu penjelasan keluar dari mulut saya berakibat bentakan. Pukulan. Hinaan. Pengabaian.
Saya selalu berpikir berkali-kali sebelum melakukan apapun, dan masih berpikir berkali-kali setelah melakukannya, sebab tindakan saya, ucapan saya, sering tak sejalan dengan apa yang telah berkali-kali saya pikirkan. Jelasnya, saya lebih sering menunduk, mengiyakan, tak bisa membela diri, tak bisa melawan, terhadap apapun perkataan dan perintah orang lain. Dan setiap orang tampaknya ingin menang, ingin benar, ingin hebat. Maka biarlah saya yang menjadi kalah, menjadi salah, menjadi lemah.
Saya perlu mengulik masa paling awal dari hidup saya, dari pengasuhan orang tua saya, untuk bisa mengurai suara-suara yang telah membentuk keyakinan saya.
🌿