Memangkas Sulur Lama - 04
Beberapa waktu lalu saya menulis bahwa saya perlu kembali ke masa paling awal, ke pengasuhan orang tua saya, untuk mengurai suara-suara yang membentuk keyakinan saya. Seolah-olah di sana masih ada sesuatu yang harus ditemukan. Seolah-olah akar itu masih tertanam dalam-dalam dan perlu dicabut satu per satu.
Namun, ketika benar-benar menoleh ke sana, saya hanya menemukan tanah kosong.
Orang tua saya masih hidup. Tapi saya tidak memiliki dorongan untuk menelepon mereka, tidak juga keinginan untuk mudik dan menemui mereka. Tidak ada kebencian yang menyala, pun tidak ada kemelekatan yang menarik saya kembali. Hanya netral. Biasa saja. Mereka tidak asing, tapi juga tidak lagi menjadi pusat dari hidup saya.
Dulu tidak seperti ini.
Bertahun-tahun saya menggali masa lalu seperti orang mencari akar pohon yang merusak halaman. Mimpi buruk datang berkali-kali. Saya kembali menjadi anak yang dimarahi, lalu terbangun dengan napas berat, seolah tubuh saya masih berada di rumah masa kecil yang sama.
Saya menulis banyak hal dari sana. Puisi. Catatan. Sebuah novel. Semua itu adalah cara untuk memberi bentuk pada sesuatu yang terlalu lama hidup tanpa wadah. Lantas perlahan-lahan suara-suara itu menjadi sunyi, kadang masih terdengar seperti gema yang sangat jauh. Sekarang, apa yang saya inginkan bukan lagi jawaban dari masa lalu. Apa yang perlu tumbuh sudah selesai tumbuh. Apa yang perlu dipangkas sudah dipangkas.
Saya tidak lagi sibuk menjelaskan diri saya kepada mereka. Tidak lagi ingin membuktikan apapun.
Jika saya bukan anak berbakti, biarlah.
Saya hidup berjauhan dengan mereka.
Saya menjauh dari semua masa lalu.
Sekarang saya tinggal di kamar kos di Solo bersama anak saya. Usianya sembilan tahun. Ia pernah hidup di beberapa kota, berpindah sekolah, berpindah lingkungan beberapa kali. Banyak hal sudah terjadi padanya, banyak hal sudah harus ia pahami di usia kanak-kanaknya. Ia pernah berkata kepada saya bahwa ia ingin hidup normal.
Ia ingin rumah.
Saya mengerti maksudnya.
Kadang ia juga berkata hal-hal kecil kepada saya.
“Ibu mirip emak.”
Lalu setelah itu ia menambahkan dengan suara lembut, “Ibu sabar ya. Ibu tenang. Ibu semangat.”
Saya tersenyum mendengarnya. Tidak ada perasaan yang besar. Tidak ada luka yang tiba-tiba terbuka. Hanya senyum yang biasa saja.
Saya masih sering mengerutkan kening. Anak-anak bisa melihat hal-hal kecil seperti itu dengan sangat jelas. Ia bisa sedih atau kesal karenanya. Jika saya menyadarinya, saya meminta maaf, memeluknya, mencium kepalanya. Setelah itu kami kembali tertawa seperti biasa.
Di rumah masa kecil saya dulu, orang dewasa tidak pernah meminta maaf.
Di kamar kos ini, seorang anak sembilan tahun kadang menasihati ibunya.
🌿