Alang-Alang

Memangkas Sulur Lama - 05

Pernikahan saya telah selesai.

Mantan suami saya sekarang hidup bersama perempuan yang dulu menjadi selingkuhannya. Mereka tinggal di kota lama, di dunia yang sudah tidak lagi saya huni. Kehidupan mereka berjalan seperti kehidupan orang lain pada umumnya. Saya tidak merasa perlu mengetahui lebih jauh.

Satu hal yang tidak berubah: ia tetap ayah dari anak saya.

Namun setelah perceraian, ia tidak pernah sekali pun menemui anaknya. Tidak pernah datang, tidak pernah membawa hadiah kecil, tidak juga baju atau uang saku. Jarak bukan alasan. Selama dua tahun setelah kami berpisah, anak saya tinggal di kampung bersama orang tua saya. Mantan suami saya berasal dari tanah yang sama, bahkan pernah belajar di ruang kelas yang sama dengan saya dulu.

Tetapi ia tidak pernah datang.

Saya tidak tahu apa yang ia ceritakan kepada orang lain tentang pernikahan kami yang berakhir. Kabar yang pernah beredar adalah saya diceraikan karena murtad. Saya juga pernah mendengar cerita lain—bahwa saya melarang mantan suami menemui anak kami.

Cerita seperti itu hidup di luar kendali saya, berjalan dari mulut ke mulut, dari rumah ke rumah, seperti rumput liar yang tumbuh tanpa ditanam.

Saya pernah mengalami bagaimana rasanya berada di tengah cerita semacam itu. Perisakan masyarakat bukan hal asing bagi saya. Dalam banyak pandangan, saya mungkin terlihat seperti kegagalan seorang perempuan. Mantan suami saya, sebaliknya, adalah contoh teladan lelaki saleh.

Biar saja.

Saya pergi dari kampung dengan membawa anak saya.

Saya pergi sendirian.

Dan tetap sendiri.

Hal-hal seperti itu mungkin biasa terjadi di banyak tempat. Tetapi bagi perempuan dari kampung saya, langkah seperti itu masih terdengar aneh.

Sementara keanehan dan keterasingan adalah hal yang biasa bagi saya.

Sejak kecil saya sudah hidup sedikit di pinggir. Merantau jauh, sendiri, kuliah, bekerja.

Kehidupan pernikahan mengembalikan identitas lama saya sebagai perempuan. Dapur-Sumur-Kasur yang sakral itu.

Lalu identitas itu pun runtuh.

Saya kembali merantau jauh, sendiri, bekerja.

Di mata sebagian orang, saya mungkin terlihat mapan. Mandiri. Tinggi hati. Keras kepala. Ada banyak label yang pernah ditempelkan pada saya. Termasuk durhaka. Bebal. Pembangkang.

Di tempat baru, saya bertahan hidup dari gaji dua juta dua ratus ribu saja untuk saya dan anak. Tetapi siapa yang benar-benar tahu kehidupan orang lain?

Yang saya tahu hanya satu: saya tidak pernah dekat dengan siapa pun di kampung halaman saya. Saya jarang pulang. Saya jarang mengobrol dengan mereka. Dan lambat laun jarak itu menjadi sesuatu yang biasa saja.

Mungkin karena itulah saya tidak lagi merasa perlu menjelaskan diri saya kepada siapa pun.

Cerita tentang saya mungkin masih beredar di tempat yang sudah saya tinggalkan. Cerita tentang pernikahan saya, tentang perceraian saya, tentang alasan-alasan yang mungkin tidak pernah benar-benar terjadi.

Saya tidak bisa mengendalikan cerita itu.

Peduli setan!

Hidup saya tidak lagi berada di dalamnya.

Sekarang saya tinggal di sebuah kamar kos di Solo bersama anak saya yang berusia sembilan tahun. Kami menjalani kehidupan yang sederhana. Ia pergi ke sekolah, saya bekerja, dan di sela-sela waktu saya menulis.

Kadang saya masih bertanya kepadanya, “Apakah kamu ingin bertemu ayah?”

Ia biasanya hanya menggeleng atau menjawab biasa saja. Saya sendiri tidak tahu apakah ia benar-benar tidak peduli, atau hanya belum tahu bagaimana harus merasakan semua ini.

Saya tidak pernah berusaha menyembunyikan kenyataan dari anak saya. Tetapi saya juga tidak ingin menanamkan kebencian di dalam dirinya.

Dunia sudah cukup rumit tanpa harus menambahkan kebencian yang diwariskan.

Di alam, singa memakan daging, sementara kambing memakan rumput. Tidak ada yang perlu dibela dari kenyataan semacam itu.

Mungkin hidup manusia juga tidak selalu jauh berbeda.

Ada hal-hal yang bisa kita jelaskan, dan ada hal-hal yang hanya bisa kita terima sebagai sifat dari kehidupan itu sendiri.

Sulur dari pernikahan saya sudah lama terpotong. Yang tersisa hanyalah seorang anak yang berjalan bersama saya menuju hidupnya sendiri.

🌿