Alang-Alang

Memangkas Sulur Lama - 06

Di tanah kosong.

Secara lahiriah, banyak hal sudah selesai. Sementara identitas saya barangkali masih bentukan dari masa lalu. Identitas itu tidak selalu buruk. Identitas itulah yang membuat saya mampu berjalan jauh tanpa bergantung pada siapa pun. Tetapi identitas yang sama juga meninggalkan bekas halus, seolah-olah kebahagiaan yang sederhana—rumah kecil, kebun kecil, waktu cukup—terkadang terasa seperti sesuatu yang belum tentu pantas saya miliki. Apalagi kesejahteraan dan kebebasan. Masih terasa jauh dari jangkauan.

Kenapa saya masih memiliki perasaan tidak layak?

Dulu, pada usia 26 tahun, saya bekerja di perusahaan multinasional dengan gaji besar.

Saat itu saya menyadari sesuatu yang aneh: saya takut menjadi kaya. Takut punya banyak uang.

Keluarga. Kerabat. Tetangga. Mereka akan datang meminta.

Maka ketika akhirnya saya menikah, saya memilih berhenti bekerja. Meski pilihan itu pun akhirnya saya sesali juga.

Saya tidak lagi marah kepada perasaan itu. Saya hanya melihatnya apa adanya.

Saat ini saya sudah memiliki keberanian untuk memberi batas. Bahkan terhadap orang tua sekali pun.

Ketika adik saya meminjam uang, saya mengatakan tidak. Untuk pertama kalinya, tidak ada rasa bersalah setelahnya.

Di titik inilah kecemburuan saya muncul. Saya cemburu pada mereka yang lahir tanpa harus menebus hidup orang tuanya.

Apakah sulur lama telah tuntas saya pangkas sampai ke akar-akarnya?

Di dalam kepala saya masih ada suara-suara. Selalu ada. Bedanya, saat suara dan percakapan itu muncul, saya punya beberapa detik kesadaran. Jika percakapan itu tentang masa lalu, perlahan saya bayangkan sebuah rumah kecil dengan kebun belakang yang ditanami tomat dan cabai dan daun kemangi. Rumah itu memiliki jendela besar. Di belakang jendela ada meja tempat saya menulis. Di sampingnya, anak saya duduk menghadap meja belajar yang dipenuhi rakitan lego.

Saya sudah menjanjikan rumah padanya dalam waktu satu tahun.

Entah kesintingan jenis apa yang merasuki kepala saya ketika mengucapkannya. Tapi memang tahun depan, tingginya mungkin menyamai saya, dan ia tidak boleh tinggal di kamar kos khusus putri lagi.

Pada banyak malam ketika tak dapat tidur, saya memandang jiwa saya yang terperangkap pada tubuh. Tubuh yang perlu diberi makan, dimandikan, ditidurkan. Siklus itu saja sudah sangat merepotkan.

Saya ingin duduk diam sangat lama, sampai pikiran berhenti, sampai semua suara di kepala hilang. Dalam khayalan yang paling jauh, saya bahkan pernah membayangkan moksa—lenyap dari seluruh kerumitan hidup manusia.

Namun keinginan itu tidak pernah sepenuhnya menjadi tujuan. Sebab di kamar kecil ini ada seorang anak yang sedang tumbuh. Ia pergi ke sekolah setiap pagi, pulang membawa cerita-cerita kecil, dan kadang menasihati ibunya dengan kalimat sederhana: “Ibu sabar ya. Ibu semangat kerjanya ya!”

Ia menjadi jangkar yang menahan saya tetap hidup.

Dan malam ini saya sudah hidup selama tujuh bulan di Solo, masih dibayangi ketakutan tidak sanggup memberi kehidupan yang layak kepada anak, terutama ketika melihatnya duduk bersembunyi di bawah meja bermain game. Di atasnya, saya menghitung angka-angka dan membuat laporan, melirik ke arah jam dinding setiap dua puluh menit sekali, menantikan jarum pendek tepat di angka lima.

Tidak ada kendala serius dengan rutinitas membawa anak ke kantor sepulangnya ia sekolah. Tapi tetap saja, tetap saja.

Ketika tak sanggup menahan lelah sepulang kerja, dan anak saya mulai banyak bicara, banyak meminta, saya pernah mengancam,”kamu mau balik ke rumah emak?”

Ia menggeleng dan menangis.

Saya meminta maaf. Memeluknya. Menciumnya. Lalu menyesal sepanjang malam.

Saya berhak menginginkan hidup yang lebih luas.

Sebuah rumah kecil dengan halaman belakang tempat tomat dan cabai tumbuh.

Tempat seorang anak tidak perlu takut dipulangkan ke mana pun.

Tempat kami tinggal.

🌿