Mencabut Akar - 01
Gaji Besar dan Takut Kaya
Sekitar empat belas tahun lalu, pada pertengahan usia dua puluhan, saya bekerja di perusahaan multinasional milik Jerman di Cikarang. Gaji tiga kali lipat dari UMR. Hari Sabtu dan Minggu libur.
“Seperti PNS saja, liburnya Sabtu Minggu,” kata Bapak.
Saya memberikan sebagian gaji kepada ibu. Katanya disimpan untuk keperluan pernikahan saya.
Saat jam makan siang di kantor, seorang rekan kerja pernah bertanya.
“Kampung halaman kamu namanya apa?”
Saya menyebutkan nama desa yang tidak ada di google maps.
“Masih ada becak di sana?” tanyanya lagi.
“Dulu. Sekarang sudah tidak ada.”
Saya menunggu sebentar. Mereka tersenyum. Saya menunduk, membayangkan jalan tanah pedesaan yang becek saat hujan, was-was kalau-kalau obrolan akan sampai ke sana. Saya berharap tidak pernah ada pertanyaan lagi. Saya tidak bisa mengalihkan topik pembicaran, dan tak pernah tidak akhirnya menjawab apa adanya. Tubuh kecil yang sering cacingan serta biduran. Makanan kampung dari tanah liat. Orang tua yang tidak tamat SD.
Tidak ada masalah dalam pekerjaan, sebenarnya, kecuali bahasa Inggris saya yang belum fasih. Saya lalu mengikuti kursus bahasa Inggris lima kali seminggu. Laporan pekerjaan dikirim melalui email kepada atasan saya di Singapura. Kendala terkait skill bahasa bisa diatasi.
Saya hanya merasa seperti bayangan yang salah masuk dunia. Saat makan bersama di pantri, obrolan bergulir tentang kafe, tentang segelas kopi seharga delapan liter beras, makanan-makanan dengan nama-nama aneh, jalan-jalan ke luar negeri, juga keluarga yang menggelar pesta ulang tahun hampir setiap bulan. Ulang tahun saya belum pernah dirayakan sekali pun.
Ketika pertama kali kerja kantoran di Tangerang—saat masih kuliah—saya sering menangis diam-diam di kamar mandi. Masalahnya juga sama. Benturan dengan rekan kerja terkait gaya hidup, bukan soal pekerjaan. Saya lulusan akuntansi di SMK, kuliah jurusan komputerisasi akuntasi, dan bekerja di bagian accounting. Saya memahami dengan baik apa yang saya kerjakan.
Dan semakin tinggi gaji yang saya dapatkan, juga semakin besar perusahaan tempat saya bekerja, benturan dengan rekan kerja semakin beragam.
Saya sedang mudik ketika ibu saya bilang, “nanti setelah nikah gajinya tetap dikirim ke sini.”
Ibu menekankan, bahwa ucapan itu bukan berasal darinya, tapi dari seorang kerabat sepuh. Katanya, ia khawatir uang saya diporotin suami saya nanti.
Setelah kembali ke cikarang, ingatan tentang gaji bulanan yang rutin saya kirim sejak lulus sekolah tahun 2006—saya masih buruh pabrik kaleng di Tangerang waktu itu—menyeruak, saya hitung setiap rupiahnya. Kiriman itu sempat berhenti, kecuali kadang-kadang saat mudik dan hari raya, ketika saya diam-diam memutuskan untuk kuliah.
Tiga tahun biaya sekolah SMK saya dibayari sepenuhnya oleh guru saya, tiga tahun biaya kuliah D3 saya dibayari oleh saya sendiri sepenuhnya. Dan setelah melewati tahun-tahun sehari makan sehari puasa untuk bisa menebus ijazah, saya masih menghitung dengan ragu berapa harga kemeja, berapa harga segelas kopi di kafe, apakah saya terlalu boros jika ingin makan ramen bukan hanya setelah gajian.
Tiga bulan setelah menikah saya memutuskan untuk resign.
Saya menikah dengan teman sekolah dulu, lelaki yang berasal dari tanah yang sama. Cara takut kami sama. Cara bertahan hidup kami sama.
Saat membuat kartu keluarga, pendidikan saya ditulis SMA sederajat.
Saya yang meminta sendiri. Padahal saya lulusan D3. Waktu itu rasanya lebih mudah begitu.
Lebih rapi. Lebih nyaman.
Tidak perlu ada jarak yang aneh di dalam rumah. Lagi pula, untuk apa?
Saya toh hanya memasak nasi, mencuci baju, dan menyetrika seragam kerja suami.
Setiap mudik, ibu selalu punya cerita baru tentang anak orang lain.
Anak si anu kerja di pabrik Korea.
Anak si itu beli motor baru.
Anak yang dulu sering main di sungai sekarang kerja di Jakarta dan mengirim kulkas dua pintu.
Obrolan selalu berputar di sana, tentang siapa membawa apa.
Sepuluh tahun kemudian setelah pernikahan saya berakhir, saya kembali kerja kantoran.
Barangkali, jika keberanian itu datang lebih cepat, saya akan memilih diri sendiri meski dicap anak durhaka.
Sebab kini saya mengerti, yang dulu sebenarnya ingin saya lakukan bukan menikah.
Saya hanya ingin pergi ke kota asing, sejauh mungkin.
Setelah saya sanggup melakukannya, seorang anak lelaki mesti saya bawa ke kantor, saya bawa ke pasar, saya bawa ke manapun.
Setiap hari libur, saya selalu bertanya ke tempat mana ia ingin pergi, dan kami harus sudah pulang sebelum pukul sembilan malam.
Kadang-kadang saya bertanya dalam diam, apakah saya sungguh telah memilih diri sendiri, atau hanya memindahkan pusat hidup dari orang tua dan suami kepada anak.
🌿