Mencabut Akar - 02
Uang Lima Puluh Juta
Setelah menerima uang lima puluh juta itu, saya akhirnya berani pulang kampung. Sebelumnya saya berencana pergi sejauh mungkin bersama anak saya. Kota asing. Hidup baru. Tapi isu murtad sudah sampai lebih dulu ke kampung.
Tanpa uang itu, saya tidak tahu apakah orang tua saya masih akan membela saya.
Lelaki selingkuh masih bisa dimaafkan. Istri pembangkang dan yang dianggap murtad tidak akan.
Maka setibanya di rumah, saya memberikan tiga juta rupiah kepada ibu. Beberapa waktu kemudian dua juta lagi.
Saya mendapatkan uang tersebut dari hasil menjual rumah KPR bersubsidi di Bekasi, rumah yang atapnya berlubang besar, pintunya—kamar mandi, kamar tidur, ruang depan—rusak semua, rumah yang nunggak lebih dari tiga tahun belum dibayar. Luasnya 6x10 meter.
Saat saya diam-diam membobol kunci ponsel suami dan membaca riwayat percakapan dia dengan selingkuhannya, saya mendapati rencana suami yang akan menjual rumah kami dan membagi dua hasilnya dengan saya sebelum menikahi perempuan itu.
Paginya, ketika anak saya bermain di luar, saya membangunkan suami saya dan menyampaikan bahwa saya sudah tahu.
“Kalian akan pergi ke mall, kan, hari ini?” kata saya akhirnya. “Pergi saja, asal kamu bawa anak.”
“Kalau anak ikut, nanti aku bayar sendiri.”
Saya mengerutkan kening.
“Jadi selama ini perempuan itu yang selalu bayarin?” kata saya tak terbendung lagi.
Dia tidak menjawab.
Dan semuanya menjadi terang. Lalu, dengan suara putus-putus saya berkata, “baiklah, kalau kamu memang punya uang, ceraikan saja aku sekarang. Belikan aku laptop. Bekas pun tidak masalah. Aku harus cari kerja.”
Saat itu saya yakin suami saya tidak akan menceraikan saya, sebab saya tahu betul bahwa dia tidak punya uang. Tapi setengah jam kemudian suami saya memberitahu bahwa dia sudah punya uang. Sepuluh juta rupiah. Cukup untuk biaya cerai, laptop bekas, dan gerobak bubur ayam.
Semula dia mengaku uang itu pinjaman dari bosnya. Saya tentu tidak percaya. Dia sudah dirumahkan sejak tiga minggu lalu. Kemudian dia mengubah cerita, dari kawannya. Saya menimbang dan mengingat-ingat, siapa kawan yang percaya meminjamkan uang sepuluh juta saat kami bahkan jarang makan?
Akhirnya dia mengaku, dari perempuan itu.
Saya diceraikan dengan alasan murtad. Suami menyebarkan foto saat saya meditasi ke banyak orang.
Di tengah reruntuhan, saya mencari-cari apa yang masih bisa diselamatkan. Rumah kecil kami. Yang dapurnya ramai oleh kecoa dan tikus.
Saya mengambil alih proses penjualan rumah. Mendatangi notaris, mencari bantuan hukum, mengumpulkan bukti-bukti. Posisi saya aman di mata hukum. Sebaliknya, suami saya terancam penjara serta denda untuk kasus perselingkuhan dan pencemaran nama baik.
Saat itu dia sudah meninggalkan rumah kami, pergi membawa kulkas, tikar, semua pakaiannya, perabot dapur, untuk tinggal di ruko dan memulai usaha jualan bubur ayam yang dimodali perempuan itu.
Rumah kecil kami terjual lima puluh juta.
Saya mengancam mantan suami untuk tidak memintanya. Dengan bukti-bukti itu, dengan hukuman penjara serta denda yang menanti itu. Dia tak berhak sepeserpun. Dia sudah memiliki perempuan itu, perempuan yang memeliharanya, perempuan yang dinikahinya setahun setelah menceraikan saya.
**
Saya memberi uang lagi lima juta kepada orang tua saya untuk dibelikan sepeda listrik. Anak saya belikan sepeda juga seharga 1,2 juta. Ia sudah pindah sekolah di kampung, dan ibu saya memerlukan kendaraan untuk antar jemput, sementara saya bekerja di luar kota.
Setiap bulan saya rutin memberi uang satu juta rupiah, kadang lebih, diluar keperluan sekolah dan mainan yang saya belikan sendiri untuk anak. Ketika anak saya disunat, saya membayar sendiri semua kebutuhannya.
Lalu, bapak bercerita soal tanah, bahwa ia kekurangan uang untuk membelinya, dan saya dimintai 7,5 juta. Saya sama sekali tidak ingin tinggal di kampung. Tapi uang 7,5 juta itu saya berikan juga.
Mantan suami, sejak bercerai lebih dari 2 tahun lalu tidak pernah memberikan apa-apa untuk anak, termasuk saat ia disunat. Bahkan sekadar datang mengunjunginya pun tidak. Saya tidak pernah memintanya juga. Saya memblokir nomornya. Mungkin uang lima puluh juta sudah cukup untuk menebus semuanya.
Bapak mendaftarkan anak saya ke TPQ di kampung. Tempat itu milik saudara mantan suami saya. Rumah-rumah mereka berderet di sana, saling berhadapan. Suatu sore, saya sedang mudik, anak saya pernah berkata dengan nada suara biasa saja, “tadi ada yang bilang Ayah di situ.”
Ia tidak menunjuk ke mana. Tidak bertanya kenapa tidak dipanggil. Ia hanya bilang begitu, lalu meminta makan.
Saya menghitung setiap rupiah yang saya berikan untuk orang tua saya, tidak pernah membahasnya dengan mereka, apa yang saya beri tidak pernah saya ungkit, tapi saya juga selalu menghindar dari mereka.
Saya tidak pernah tahu apakah orang tua saya membela saya waktu itu, atau sedang menyelamatkan nama mereka sendiri.
Saya membawa anak ke Solo setelah dua tahun ia tinggal di kampung. Saya membeli sepeda listrik untuk saya sendiri, dan membelikan lagi sepeda untuk anak. Sudah hampir 5 bulan kami tinggal berdua di kamar kos dan saya tidak pernah memberi uang lagi kepada orang tua saya.
Setiap minggu orang tua dan anak saya saling mengobrol melalui panggilan video, sementara saya, tidak pernah menampakkan wajah di kamera kepada mereka. Tidak pernah ikut ngobrol.
Dan sepertinya, orang tua saya pun memang, sedikit banyak, memahami jarak di antara kami.
Kadang-kadang saya membuka mutasi rekening lama dan menghitung-hitung dalam kepala, ke mana uang lima puluh juta itu pergi.
Lalu saya ingat: dua buah sepeda listrik, dua buah sepeda anak, ponsel, uang tanah, biaya sunat, susu, kontrakan, makan, ongkos pindah kota, biaya pindah sekolah, seragam, hidup sehari-hari.
Uang itu memang tidak hilang ke mana-mana.
Uang itu berubah menjadi waktu.
Dua tahun lima bulan waktu untuk bertahan hidup.
🌿