Alang-Alang

Mencabut Akar - 03

Rumah yang Belum Ada

“Harusnya ibu bawa aku ke Solo setelah ibu punya rumah.”

Anak saya mengatakan itu setelah marahnya reda.

Sebelumnya kami bertengkar soal hal kecil. Tentang televisi. Tentang AC. Tentang uang. Tentang hal-hal yang sekarang menjadi isi hidup kami sehari-hari.

Ia beberapa kali meminta dibelikan ini-itu, lalu saya mulai kesal menghitung harga dalam kepala. Nada suara saya meninggi. Ia ikut membentak. Ia melompat-lompat di atas kasur, memukul-mukul bantal, menggerutu dan menangis. Saya membiarkannya. Kami diam cukup lama setelahnya.

Lalu kalimat itu keluar begitu saja.

“Harusnya ibu bawa aku ke Solo setelah ibu punya rumah.”

Rumah dengan AC. Rumah dengan televisi. Rumah yang tidak membuat ibunya terus cemas menghitung uang.

Saya tidak langsung menjawab.

Di luar kamar kos, suara motor lewat satu-satu. Putaran kipas angin tak mampu menghilangkan udara panas siang hari. Saya menggaruk-garuk punggung lengket berkeringat, lalu berbaring dan menutup mata.

Beberapa saat kemudian, anak saya mencium kening saya, pipi saya, lalu merebahkan kepalanya di dada saya sementara tangannya mengusap-usap rambut saya.

“Kamu sudah puas marahnya, sayang?”

“Sudah,” jawabnya. Mulutnya masih cemberut. Pipinya basah. Napasnya terengah-engah.

Kadang-kadang saya lupa bahwa anak saya tumbuh berpindah-pindah bersama kecemasan orang dewasa.

Rumah bocor. Orang tua bertengkar. Ayah pergi. Pindah sekolah. Pindah kota. Ia kini kelas tiga MI, berpindah-pindah di tiga sekolah berbeda, tiga bahasa berbeda. Dan sekarang tinggal berdua di kamar kos bersama ibu yang gampang marah karena kelelahan dan uang yang terus terasa kurang.

Sesekali, saat sedang bercanda, anak saya bercerita tentang neneknya di kampung.

Katanya, neneknya sering marah lebih keras daripada saya.

“Kalau kamu anakku pasti sudah kupukul,” begitu kata neneknya suatu kali.

Anak saya tertawa ketika menirukannya.

Ia lalu meledek neneknya balik.

Saya ikut tertawa kecil, meski tahu dari mana ia belajar memahami hidup saya.

Saya tidak pernah benar-benar bercerita bahwa dulu saya sering dipukul waktu kecil. Tapi anak-anak rupanya menyusun sendiri potongan-potongan dunia orang dewasa.

Ia tahu.

Dan tidak seperti saya dulu, ia berani melawan.

Malam ini sebelum tidur saya membacakan Mahabharata untuknya. Sampai pada kisah seekor burung yang merupakan reinkarnasi brahmana. Burung jantan itu pergi meninggalkan pasangan dan anak-anaknya untuk terbang bersama betina lain.

Anak saya langsung tertawa.

“Kok mirip ayah.”

Saya terdiam beberapa detik, lalu ikut tertawa kecil.

Aneh sekali rasanya.

Selama lebih dari dua tahun setelah perceraian, saya masih sibuk meratapi masa lalu. Menulis tentang penderitaan, tentang kemiskinan, tentang kemarahan dan ketakutan-ketakutan lama yang menempel seperti lumut di dinding basah.

Sementara anak saya tampaknya sudah selesai lebih dulu.

Ia tidak pernah bertanya kenapa ayahnya pergi. Tidak pernah meminta dipertemukan. Tidak pernah menangis mencarinya.

Kini ayahnya hanya muncul sesekali: dalam lelucon, dalam cerita, dalam seekor burung di kitab kuno.

Setelah saya menutup buku cerita, ia berkata, berapa lama saya bisa mengumpulkan uang 495 juta. Katanya, itu harga rumah di depan kos.

Di seberang jalan ada perumahan, ada poster yang ditempel di pagar luar. Saya tidak bisa membaca tulisan di poster itu, karena mata saya sudah mulai rabun. Sebenarnya, saya memang tidak pernah memperhatikan poster perumahan tersebut.

Saya menimbang-nimbang apa yang perlu saya katakan kepada anak lelaki berusia sembilan tahun.

Lalu saya teringat prosa liris yang saya jual di gumroad. Saya tunjukkan padanya. Harga jual 2,49 dolar. Maka saya membuka kalkulator di ponsel. Kami berhitung bersama.

“Ibu, berapa yang sudah beli?”

“Tidak ada,” kata saya lalu tertawa. Ia ikut tertawa.

Ia meminta saya berhitung lagi. 20 ribu orang, 50 ribu orang, lalu satu juta orang. Wajahnya berbinar melihat angka.

“Enaknya menghayal…” kata saya.

Ia tidak peduli, masih melihat angka-angka.

“Ayo tidur sayang.”

Saya mengambil ponsel, menyimpannya, mematikan lampu.

🌿