Mengapa Saya Berjalan Sendiri?
Seorang perempuan, di suatu tempat, masih memilih berjalan, memilih bertahan, memilih bernapas, meski sendirian, meski diabaikan.
Proposal Hidup Satu Perempuan, Satu Anak, dan Satu Jalan Pulang.
Saya sudah kehilangan segalanya, kecuali diri saya sendiri. Rumah, suami, waktu bersama anak, bahkan rasa percaya pada dunia.
Pada minggu pertama berada di Solo, hari-hari yang saya namai perwujudan dari The Law of Sinting, satu-satunya hal yang saya lakukan adalah terus menulis, di blog ini, yang hanya diketahui dan dibaca oleh diri saya sendiri. Saya cantumkan alamat email dan link saweria di akhir tulisan, berharap keajaiban singgah barang sekali, keajaiban magis menerima sejumlah besar uang. Bukan cuma-cuma. Uang itu adalah DP royalti dari novel “Perempuan Gila di Persimpangan” yang telah saya tulis, novel yang dalam angan-angan saya bakal naik cetak dan menjadi best seller.
Betapa saya menaruh harapan besar pada novel tersebut, juga pada dua buku puisi—Nyanyian Perempuan Gila dan Dongeng dari Rahim—yang memicu kelahiran novel.
Satu hari, satu minggu, satu bulan, tak ada satu pun keajaiban, padahal amat sungguh-sungguhlah saya ingin hidup dari menulis. Saya lalu menyusun proposal hidup dan, dalam prosesnya, tulisan itu saya ubah menjadi cerpen, cerpen yang gagal dan diabaikan.
Setelah semua kegagalan, semua pintu yang tertutup, semua tempat yang menolak, masih relevankah menulis saya jadikan harapan untuk menopang kehidupan saya dan anak?
Sementara faktanya, tak terbantahkan memang bahwa saya tidak mampu menulis kalimat indah, apalagi mengarang cerita. Saya menulis apa yang saya alami saja, dan sungguh tak tahu diri jika lantas saya berangan-angan hidup mapan dari itu, jika saya berharap novel saya, “Perempuan Gila di Persimpangan” yang merupakan ringkasan 37 tahun kehidupan yang telah saya alami, mampu memberikan kebebasan waktu dan terutama kebebasan finansial bagi saya.
Omong kosong semua itu. Omong kosong.
Ah!
Ingin sekali saya bilang, bahwa kehidupan telah bermurah hati kepada saya, bahwa dunia begitu ramah, bahwa semesta mengalirkan rezeki yang berkelimpahan ke dalam diri saya. Jika saya tak cukup layak, maka apa yang mesti saya perbuat supaya anak tunggal saya layak menerima segala anugerah itu?
Setiap malam saya mengingat anak, pada tekad saya untuk membawanya ke Solo, hidup hanya berdua saja, sementara penghasilan saya sebatas UMR, bekerja dari pukul 8 hingga pukul 6. Maka mampukah?
Alangkah indah hidup jika saya mampu membiayai pendidikan terbaik untuknya, jika saya selalu ada waktu luang kapanpun ia membutuhkan, jika saya memiliki cukup uang untuk memenuhi kebutuhannya.
Dan ketika kenyataan tak mampu menampung kehendak saya yang begitu besar, saya menuliskannya, saya menulis agar saya tidak tercekik oleh angan-angan saya sendiri.
Ada banyak kebencian, dendam, rendah diri, kepahitan, dan menulis, menjadi satu-satunya upaya yang mampu saya lakukan supaya saya tidak membalas dengan cara yang sama.
Saya tidak sekalipun mengangankan hidup yang megah, selain hanya sebuah rumah kecil dengan halaman belakang ditumbuhi pohon mangga, cabai, dan buah tomat berwarna merah. Di sana saya bisa berdiri tanpa alas kaki, menatap hidup yang perlahan tumbuh kembali dari tanah subur yang semula disirami air mata. Lalu saya menulis, menulis saja tentang hari-hari sederhana: kopi pagi, tawa anak, bayangan awan di dinding, dan kesunyian yang tidak lagi menakutkan. Tidak ada musuh, tidak ada kompetisi, juga tidak ada masa lalu. Saya menulis agar cinta yang lahir dari tempat rusak bisa pulih, agar seorang anak tahu bahwa ibunya pernah jatuh, tapi tetap memilih berdiri.
Saya menulis, terus menulis, sampai tiba di sana.
🌿