Menghidupi Rumah
Rumah itu sudah ada.
Hampir sebulan lalu saya meninggalkan kamar kos bersama anak dan membawa barang-barang kami ke sini. Tidak banyak. Beberapa pakaian, buku, mainan, barang-barang kecil yang selama setahun terakhir mengisi kamar kos.
Beberapa bagian dari rumah ini belum selesai. Engsel pintu kamar mandi copot, keramik retak, atap bertumpuk yang pinggirnya terbuka, ruang tamu masih kosong. Kebun kecil yang dulu saya bayangkan belum ada. Tidak ada lahan kosong.
Tetapi rumah tetaplah rumah.
Ada pintu yang bisa dibuka dan ditutup. Ada tempat untuk meletakkan sepatu. Ada dapur. Ada kamar untuk tidur. Ada teras tempat anak saya bermain.
Yang belum ada barangkali bukan rumahnya, melainkan kehidupan di dalamnya.
Setiap pagi saya masih pergi bekerja.
Pukul delapan, ketika rumah baru saja dihinggapi cahaya pagi, saya berdiri dan pergi. Anak saya sudah berangkat sekolah pukul 6:45.
Sore hari ketika anak-anak lain pulang ke rumah, anak saya pulang ke kantor. Ia menunggu saya menyelesaikan pekerjaan sambil bermain ponsel–hal yang masih menjadi penyebab kami kadang bertengkar.
Kemudian kami pulang bersama, seringnya hari sudah gelap ketika sampai. Rumah yang kami sewa menjadi tempat kami tidur.
Saya mengingat lagi apa yang saya bayangkan ketika dulu menempelkan gambar rumah di dinding kamar kos. Kamar dua. AC. Rak Lego. Rak buku. Dapur. Televisi. Meja kerja di sebelah meja belajar.
Saya membayangkan anak saya pulang sekolah lalu berada di rumah. Saya pun berada di sana.
Kami bukan hanya tidur di sana.
Kami hidup di sana.
Bagaimana menghidupinya?
Bagaimana membuat rumah ini menjadi tempat anak saya pulang setiap sore?
Bagaimana membuat meja itu benar-benar menjadi meja tempat saya bekerja, bukan meja yang hanya sesekali saya datangi pada malam hari?
Bagaimana membuat dapur menjadi tempat saya memasak, bukan sekadar tempat menyimpan piring?
Bagaimana membuat halaman kecil yang menjadi tempat saya berdiri sore hari, menginjak tanah, melihat tomat dan cabai tumbuh?
Saya kira itulah yang saya inginkan sejak awal. Rumah yang lebih hidup.
Pagi pukul delapan saya tidak perlu pergi.
Saya bisa tetap duduk. Membuat kopi lagi. Membuka tulisan kemarin. Menghapus satu paragraf. Menulis dua kalimat. Membiarkannya mengendap.
Pukul sembilan lewat.
Tidak apa-apa.
Saya masih di rumah.
Waktu memiliki bunyi yang berbeda ketika seseorang harus bekerja untuk bertahan hidup.
Setiap jam yang tidak menghasilkan uang terasa seperti kesalahan.
Setiap pagi yang digunakan untuk duduk dan menulis terasa seperti kemewahan yang tidak seharusnya saya miliki.
Padahal saya tidak mengangankan kemewahan, hanya kelonggaran hidup, terutama waktu.
Untuk menyesap kopi sedikit demi sedikit sambil membaca buku. Untuk mencuci tanpa terburu-buru di pagi hari. Untuk mendengarkan anak bercerita tentang sekolah. Terutama untuk menulis sesuatu yang belum selesai. Dan untuk menulis, saya membutuhkan waktu untuk sekedar melamun, berjalan, memperhatikan orang, mendengar percakapan, melihat bagaimana seorang anak memandang dunia, duduk sedikit lebih lama di warung soto setelah mangkoknya kosong, membiarkan satu pertanyaan tinggal berbulan-bulan di kepala.
Lalu sore hari berlalu dengan telapak kaki saya menginjak tanah.
Matahari bulat merah di ujung barat.
Tomat bulat merah menggantung berat pada dahan.
Rumput tumbuh di sela-sela paving block.
Burung bertengger di kabel listrik.
Saya dan anak benar-benar telah hidup berdua saja di kota asing.
Dan sejauh ini tidak ada yang mengorek-ngorek kehidupan lama saya. Syukurlah.
Saya menyukai anggukan kepala disertai senyuman orang-orang asing ketika berpapasan. Saya menyukai jalanan tanpa bunyi klakson. Terutama saya menyukai rutinitas antar jemput anak sekolah. Ia mencium pipi saya. Melambaikan tangan. Sembilan tahun lagi sampai ia lulus SMA. Sampai ia memiliki KTP. Sampai ia bisa terbang ke manapun ia kehendaki.
Jadi sekarang kami tinggal di sebuah rumah.
Kami tidak ingin berpindah.
🌿