Alang-Alang

Menulis untuk Ditemukan

Saya menulis bukan karena orang harus membaca, melainkan karena kata-kata itu menahan saya agar tidak pecah. Di kamar sempit ini saya menanam catatan-catatan kecil yang entah akan tumbuh di mana. Barangkali di rak buku seseorang, atau di layar ponsel asing, atau di koridor waktu yang lambat.

Bearblog bak kebun sunyi, tempat saya menabur benih-benih suara yang mungkin —suatu hari—menjadi pohon untuk seorang pembaca yang kesepian seperti saya.

Ada keanehan manis dalam harapan itu. Saya menyimpan teks untuk mata yang tidak saya kenal, berharap bahwa di suatu pagi yang tidak terduga, seseorang berhenti membaca dan mendapati: “Oh, aku juga.”

Itu saja cukup.

Tak perlu pujian melambung, tak perlu ramai—hanya pengakuan singkat bahwa ada yang sejalan dalam luka dan rindu.

Kesintingan menulis untuk dibaca oleh tidak-ada saya anggap bentuk keberanian, sebab saya memilih percaya pada kemungkinan yang rapuh, pada kata-kata yang menemukan jalannya sendiri, pada cerita yang sekalipun ditulis dalam sepi, punya cara menyusup ke kehidupan orang lain. Jadi saya menulis, menanam, dan merawat anak saya tumbuh dewasa.

Oh… sepertinya saya menulis untuk satu orang… anak saya, anak tunggal saya, anak lelaki.

Dua tulisan telah benar-benar saya kirim kepada anak saya. Saya tulis tangan di atas kertas, saya titipkan lewat jasa ekspedisi.

Berikut dua surat itu:

Surat 27 Agustus 2025

Arul sayang…

Ibu selalu bangga punya Arul. Anak Ibu hebat, kuat, dan penuh kebaikan. Setiap hari Ibu bayangkan Arul tersenyum, tertawa, dan bahagia. Senyum Arul membuat dunia jadi indah.

Sekarang Ibu kerja di Solo, kota yang tenang dan indah. Ada taman bermain, sekolah bagus, kursus renang, bahasa Inggris, dan banyak hal seru yang Arul pasti suka. Ibu sudah membayangkan kita main di taman, makan jajanan, dan jalan-jalan bersama. Hari itu pasti datang, sayang, dan Ibu tahu Arul juga bisa membayangkannya sekarang.

Ibu kirim susu kesukaan Arul. Saat Arul minum, bayangkan Ibu duduk di samping Arul, tersenyum, dan bilang, “Anak Ibu hebat, sehat, dan bahagia.” Karena memang itu yang Ibu lihat setiap kali memikirkan Arul.

Jarak ini tidak mengurangi cinta kita sedikit pun. Kita selalu bersama di hati. Setiap hari, setiap napas, Ibu dekat dengan Arul. Dan Ibu tahu Arul juga merasakannya.

Ingat ya, Arul sayang… Ibu cinta Arul selamanya, dan kita akan selalu bersama—dalam hati, dalam doa, dan segera dalam pelukan.

Peluk erat dari Ibu.

🌿

Surat 10 September 2025

Arul Sayang…

Malam ini bintang-bintang menari di langit Solo, kota indah dengan jalanan yang teduh dan suara gamelan yang bergetar seperti mantra. Angin berbisik dan daun-daun bergetar, menyanyikan lagu lembut tentang keberanian, kegembiraan, dan takdir besar yang menantimu.

Seperti kisah para penjelajah di tanah-tanah jauh, engkau adalah penemu jalanmu sendiri. Langkahmu membawa kehidupan yang melampaui para leluhurmu.

Senyummu, sayang, seperti obor di tengah hutan gelap, menuntun ibu untuk terus berjalan.

Arul perlu tahu, bahwa tidak ada jarak yang mampu memisahkan jiwa yang sudah ditakdirkan bersama. Kita selalu berdampingan, sayang, selalu sejalan, seperti matahari dan fajar yang senantiasa saling sapa.

Ingatlah, Nak, Arul dan ibu bisa selalu bahagia. Dunia boleh berganti musim, waktu boleh berputar, tapi kesejahteraan dan kedamaian hidup kita laksana bintang yang bersinar, selama-lamanya.

Selamat ulang tahun, Syahirul Falah, anak lelaki yang kelak meraih keberhasilan, kedamaian, dan kemasyhuran dalam hidup. Semoga setiap tahunmu bertambah penuh keberanian dan kebijaksanaan.

Dengan cinta yang tak terukur, Ibu.

🌿

Surat pertama saya tulis 17 hari setelah berada di Solo, tepatnya 40 hari sejak terakhir kalinya saya mudik. Kepindahan saya ke Solo tidak diketahui oleh siapapun, sebab memberi kabar berarti memberi celah untuk komentar yang tidak saya kehendaki. Lagi pula, seumur hidup saya terbiasa memendam segalanya sendiri, seumur hidup terbiasa pula mendengar cemooh, nasehat, dan perintah-perintah yang berlawanan dengan keinginan nurani sendiri. Di usia akhir tiga puluhan, dengan trauma pola asuh yang masih mengalir dalam darah, lantas mengalami tahun-tahun hidup melarat dan kelaparan, diselingkuhi, diceraikan, difitnah, dirisak masyarakat, lalu dipisahkan dengan anak, masih adakah manusia yang bisa saya percaya?

Saya mencari tempat asing, tempat yang tak seorang pun mengenal saya. Saya menemukan tempat tersebut—Solo—kota di mana ritme hidupnya selaras dengan jiwa saya. Maka saya mengabari anak lelaki saya. Tiga hari setelah surat saya sampai di tangan anak saya, ponsel saya berdering. Panggilan dari Bapak. Sengaja tidak saya angkat. Berkali-kali Bapak menghubungi saya, tetap tidak saya angkat. Saya justru sengaja menonaktifkan nomor whatsapp. Tidak perlu ada yang dibicarakan. Toh selama ini, hanya satu orang yang selalu bicara dan satu orang yang selalu mendengarkan. Saat ini sudah tidak ada lagi yang ingin saya dengar kecuali nurani sendiri. Lagi pula hubungan kami senantiasa terasa asing. Kepindahan saya ke Solo nyaris seperti gencatan senjata antara saya dan orang tua.

Saya telah menetapkan satu pilihan tanpa rencana cadangan: anak saya pasti kembali hidup bersama saya, mulai 20 Desember 2025 (jika tanggal pembagian rapor tidak berubah).

Maka di sini, di Solo, hanya saya, anak lelaki saya, dan kemungkinan-kemungkinan baru di depan sana.

Mulai saat ini dan seterusnya, semesta selalu bermurah hati kepada saya, kepada anak saya, kepada kami berdua.

Sebab siapa lagi yang bisa melawan kehendak seorang ibu atas darah dagingnya?

Siapa lagi yang bakal menentang keinginan seorang anak yang memilih ibunya?

🌿