Alang-Alang

Mimpi Gus Dur dan Semut Mati

Bagaimana sebuah mimpi bisa tinggal lebih lama daripada jalan ceritanya sendiri?

Saya pernah mimpi bertemu Gus Dur.

Hanya mimpi biasa, dia duduk pada jarak sekitar satu meter di depan saya, dan saya melihatnya. Tidak ada percakapan penting, petir menyambar, atau semacam wahyu turun dari langit. Pada mimpi lain dia tertawa. Itu saja.

Ketika bangun, saya merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Punggung saya terasa lebih ringan seolah ada beban yang diangkat tanpa saya sadari. Selama beberapa saat dunia terasa sunyi dengan cara yang menenangkan. Delapan jam saya tidur tanpa mimpi-mimpi gelisah.

Pengalaman itu terjadi pada masa pandemi, ketika hidup saya berada pada titik paling sempit.

Saat itu saya sering tidak memiliki cukup uang dan terbiasa menahan lapar. Saya berusaha untuk tidak meminjam, sebab setiap utang terasa seperti simpul baru yang mengikat napas. Anak saya pernah diejek “anak miskin” oleh anak-anak tetangga. Saya masih mengingat tepuk tangan mereka, gelak tawa mereka, dan anak saya yang berlari pulang dengan pipi basah.

Mimpi kedua terjadi ketika saya sedang dalam proses perceraian.

Suatu pagi saya menatap pohon besar di ujung gang dengan cara yang berbeda. Saya mengukur jarak antara batang dan dahan. Saya memperhatikan seutas tali tambang di rumah, lalu mengukur tinggi badan saya sendiri. Selama beberapa malam saya terus memikirkan simpul dan kaki yang menjuntai.

Saya menimbang-nimbang waktu terbaik. Pukul dua dini hari.

Malam yang saya pilih akhirnya tiba.

Saya mandi lama sekali, seolah sedang bersiap untuk sesuatu yang penting. Setelah itu saya menyeduh segelas teh manis. Saya duduk sendirian bersama nyamuk, cicak, kecoa, dan tikus yang sesekali melintas. Tali tambang sudah siap.

Saya meneguk teh manis sedikit demi sedikit.

Anak saya sedang tidur nyenyak.

Saya masuk ke dalam kamar, mulanya hendak berpamitan. Saya menggenggam tangannya. Jemari kecil yang menggenggam jari saya saat belajar berjalan. Jemari kecil yang pernah mencoret-coret buku tulis ketika saya mengajarinya membaca di rumah karena tidak mampu menyekolahkannya ke taman kanak-kanak.

Lalu, entah bagaimana, saya tertidur.

Di dalam tidur itulah saya kembali mimpi bertemu Gus Dur.

Ia hanya tertawa. Saya tidak tahu apa yang lucu. Kesedihan saya atau rencana saya sendiri.

Ketika bangun, azan subuh telah selesai berkumandang.

Saya duduk lama di tepi tempat tidur. Rencana semalam menghilang begitu saja. Saya tidak merasa mendapatkan jawaban apa pun. Saya hanya tidak lagi ingin melakukannya.

Saya menyimpan kembali tali tambang ke dalam keranjang rongsok.

Saya mencuci gelas teh yang semalam saya tinggalkan. Di dasar gelas itu saya melihat semut-semut kecil yang mati saling bertumpuk. Saya memandanginya cukup lama.

Entah apa yang mereka kejar.

Entah kapan mereka mulai tidak bisa kembali.

Apakah mereka pikir dasar gelas itu satu-satunya dunia?

Saya mencuci gelas sampai bersih, tetapi bayangan semut-semut itu tetap tinggal di kepala saya.

Bertahun-tahun telah berlalu sejak malam itu.

Malam di mana saya tidur dengan niat mengakhiri hidup, lalu bangun dengan keinginan menjalani satu hari lagi.

🌿