Nilai yang Tidak Ada di Slip Gaji
Ketika diterima bekerja di UMKM ini, saya mengira pekerjaan saya akan sama seperti yang biasa saya lakukan sebelumnya sebagai accounting.
Mencatat transaksi. Menyusun laporan keuangan. Menjelaskan angka jika sewaktu-waktu ditanyakan.
Beberapa bulan kemudian, saya diminta membuat PKWT untuk karyawan. Lalu MoU dengan pabrik kain. Setelah itu membuat simulasi investasi beserta perhitungan imbal hasilnya. Saya mengerjakannya seperti menyusun laporan keuangan. Memahami kebutuhannya terlebih dahulu, menyusun skema perhitungannya, lalu menuangkannya ke dalam dokumen yang bisa digunakan.
Kadang-kadang saya pergi ke toko untuk membeli kebutuhan alat tulis kantor, mencatat tulis tangan nota penjualan saat ramai pembeli, sampai membantu proses packing.
Sebagai usaha kecil, setiap bagian seolah harus siap membantu pekerjaan bagian lain.
Belakangan saya mengetahui bahwa beberapa pekerjaan yang berkaitan dengan keuangan, seperti menyusun skema investasi beserta imbal hasilnya, sebelumnya dikerjakan oleh akuntan dari luar. Sekali datang untuk mengerjakan satu kebutuhan tertentu dan, berdasarkan cerita yang saya dengar, apa yang dikerjakan itu hanya sedikit saja dari apa yang sudah saya kerjakan.
Pekerjaan yang bertambah pelan-pelan, dari yang tadinya hanya berkata, "Coba minta tolong dibuatkan ya, Mbak." Menjadi laporan yang harus saya kerjakan setiap bulan.
Saya tidak hanya diminta mencatat transaksi yang sudah terjadi. Saya mulai diminta menyusun cara agar sebuah transaksi dapat terjadi dengan lebih jelas. Bukan hanya menghitung laba rugi di akhir, melainkan ikut memikirkan bagaimana biaya dapat ditekan, target omzet tercapai, dan margin tetap terjaga.
Apa yang saya kerjakan sudah jauh lebih luas daripada yang saya bayangkan ketika pertama kali menerima pekerjaan itu.
Setiap siang pukul dua saya tetap izin menjemput anak sekolah. Dalam perjalanan saya berhitung. Bukan hanya menghitung nilai pekerjaan saya, tetapi juga menghitung hal-hal yang tidak pernah tertulis di slip gaji. Berapa biaya penitipan anak yang tidak perlu saya keluarkan karena saya masih bisa menjemputnya setiap siang. Berapa harga dari rasa tenang karena ia bisa ikut ke kantor dan berada di dekat saya.
Semua itu memang tidak bisa dihitung sebagai penghasilan. Namun, saya juga tidak bisa berpura-pura bahwa semuanya tidak memiliki nilai.
Sepeda listrik berhenti di depan gerbang sekolah. Anak saya sudah menunggu di dekat penjual es. Ia menenteng sepatu, menyeberang, lalu berlari mendekat.
“Ibu, kenapa lama sekali?”
“Tadi ada pekerjaan mendesak yang harus ibu selesaikan sayang.”
Ia duduk di boncengan, masih cemberut. Sesampainya di kamar kos kami makan bersama. Lalu saya mengambil paper bag. Memasukkan satu buku komik, botol minum, lego, dan dua bungkus biskuit. Saya memboncengnya menuju kantor.
🌿