Nyanyian Perempuan Gila - 01
Pikiran saya pernah berada pada keadaan yang aneh: buntu sekaligus penuh.
Saat itu saya sedang menulis sebuah novel yang bersandar pada pengalaman hidup selama tiga puluh tujuh tahun. Niatnya sederhana—menyusun hidup menjadi cerita. Ketika mulai menuliskannya, kata-kata justru menumpuk di kepala seperti orang berdesakan di depan pintu yang terlalu sempit. Ceritanya tidak bergerak. Pikiran macet. Kata-kata acak terus berdatangan.
Lalu sesuatu yang tak saya rencanakan terjadi.
Alih-alih novel, yang lahir justru puisi.
Seperti petasan yang meledak satu per satu, puisi-puisi itu datang setiap hari selama sebulan. Saya tidak memanggilnya, tidak pula menahannya. Saya hanya menuliskannya. Ketika bulan itu berakhir, ada tujuh belas puisi dengan panjang sekitar delapan ribu kata. Saya menamainya Nyanyian Perempuan Gila.
Setelah selesai ditulis, puisi itu saya biarkan mengendap. Lebih dari setahun dalam folder, seperti suara yang belum yakin ingin terdengar. Beberapa kali saya mengirim sebagian puisi ke media dan lomba, tetapi tidak ada yang benar-benar sampai ke mana-mana. Pada akhirnya, saya kehilangan minat pada semua itu.
Malam ini saya membuka kembali naskahnya, lantas muncul keraguan, apakah ini benar puisi, atau sekadar potongan prosa yang terlanjur dipatah-patahkan?
Saya tidak tahu.
Saya memutuskan untuk meletakkannya di blog ini saja—sebagaimana adanya.
Puisi pertama berjudul “Anak Perempuan.”
Fragmen yang lahir di awal, berdasarkan ingatan tentang kayu bakar dan jaring laba-laba.
**
Anak Perempuan
Dari rahim perempuan mana kau lahir, Nak?
Yang letih?
Yang kuat?
Yang penyakitan?
Kulihat kain lusuh lungsuran membungkus tubuh merahmu.
Kau tumbuh besar di dekat tungku.
Mengaduk sayur lodeh saban sore,
membersihkan ikan asin saban petang,
mendengar bentakan saban malam.
Buku terselip di antara kecap dan garam.
Telingamu siaga pada bunyi langkah kaki.
Kau membaca diam-diam,
sampai pada hari sial, ketahuan juga.
Kau menatap marah pada bukumu yang dilempar ke dalam selokan.
Satu kata protes dari mulutmu, diganjar hantaman kayu bakar.
Apa yang kau lihat dari celah pintu itu, Nak?
Ah!
Anak lelaki lari berkejaran.
Tawa renyah pecah di pelataran.
Kau seka air mata bercampur ingus, dengan baju beraroma asap.
Kau sapu jaring laba-laba di kolong meja.
Kau buang mimpi-mimpi lancang tentang sekolah.
Sore itu,
di tengah olok-olok tentang gigimu yang tak rata,
kau lebih khawatir celana dalammu bolong.
Kau duduk bersila di lapangan sekolah,
rok lusuh tersingkap angin.
Di antara cemoohan dan ejekan,
ada sepasang mata iseng yang mengintip malu kecil itu.
Tuhan…
luka terbesar tak hanya menyayat dari kata-kata,
tapi dari ketakutan celana dalam bolong.
Suatu malam,
di tengah amukan bapakmu,
ketika meja jungkir, piring pecah, dan gelas melayang,
Kau tak lagi peduli pada murka itu.
Yang kau pikirkan cuma satu:
surat cinta kecilmu di halaman buku berhitung.
Tulisannya miring, huruf a seperti angka sembilan.
Kalimatnya tertulis:
“aku suka kamu, jangan bilang siapa-siapa.”
Kau sembunyikan di dalam tas,
di antara buku agama dan buku gambar.
Murka bapak menjalar sampai membakar tas sekolahmu.
Saat api menjilat kertas-kertas itu,
kau cuma memandang,
was-was kalau kata ‘suka’ ikut terbakar,
lalu Tuhan membacanya di antara asap.
Ah, anak kecil mana yang memikirkan dosa cinta kecil?
Dini hari saat semua terlelap,
kau mengendus bau tanah basah di luar jendela.
Kau angankan mendengar derap kaki kuda,
juga bahu bidang dengan busur panah.
Sampai kau tertidur di tikar usang,
Tak pernah ada yang datang.
🌿