Alang-Alang

Penutup

Saya baru sampai di kamar kos, pukul tujuh malam, ketika membaca sebuah email berisi pesan sopan, bahwa puisi saya tidak masuk daftar panjang.

Dua puluh satu ribu lebih puisi dari 113 negara.

Angka yang besar. Cukup besar untuk menelan satu nama tanpa sisa.

Baiklah.

Ini bukan kekalahan pertama. Saya sudah mencatatnya. Juli 2025 lalu, saya menulis Tulisan-Tulisan yang Diabaikan—satu halaman khusus—tempat saya menuliskan setiap kiriman, setiap lomba, setiap penolakan. Daftarnya panjang.

Ketika pernikahan saya mulai retak, saya berhenti menulis—saya menambal setiap celah, setiap lubang, setiap retakan, selama lima tahun, yang akhirnya hancur juga.

Tahun lalu saya menulis lagi. Kalah lagi.

Malam ini pengumuman untuk lomba terakhir yang saya ikuti.

Jadi tidak ada yang mengejutkan. Hanya melengkapi. Saya cukupkan sampai di sini, untuk berharap pada sesuatu di luar tulisan itu sendiri.

Dan daftar itu tidak perlu bertambah lagi.

Sekarang, saya kembali ke alasan awal.

Saya menulis karena tidak bisa tidak.

Lainnya hanya urusan perut.

Jika suatu hari penghasilan saya cukup—katakanlah empat juta, bukan dua koma dua seperti sekarang—dan bisa dikerjakan dari mana saja, maka hidup saya akan sederhana:

Mengurus anak.

Bekerja.

Menulis.

Mendongeng sebelum tidur.

Tidur nyenyak.

Mengulanginya lagi esok hari.

Sisanya, biar dunia berjalan sendiri.

Terima kasih.

🌿