Alang-Alang

Puisi dan Ludah yang Dipantulkan

Suatu sore di kehidupan yang telah lama berlalu, tubuh saya bergetar menahan bergidik—jauh melampaui rasa jijik pada bangkai tikus berperut terburai dan kotoran manusia yang mengambang di sungai keruh yang mengaliri tanah kelahiran saya. Saya tidak akan menyadari penyebab kenapa seumur hidup saya tidak pernah meludah, jika kejadian serupa tidak terjadi.

Penggalan kejadian tersebut saya tuliskan dalam salah satu bab novel Perempuan Gila di Persimpangan, juga dalam puisi Pedang di Udara. Puisi tersebut saya terjemahkan ke dalam bahasa Inggris, lalu saya seberangkan melintasi benua, mendarat di hadapan juri yang bermukim di tanah kelahiran Shakespeare.

Pedang di Udara dikembalikan kepada saya, tidak terpilih menjadi juara. Sebagaimana kisah tentangnya juga kembali kepada saya, berpindah seperti bayangan dari satu wajah ke wajah berikutnya — dari ibu ke anak, dari masa lalu ke masa kini, dari teriakan yang tak sempat dijawab menjadi keheningan yang diwariskan.

The Sword in the Air lahir dari tempat semacam itu, di mana seorang perempuan mencoba memahami bagaimana kemarahan dan ketakutan masa kecilnya berdiam di dalam darahnya sendiri, lalu muncul kembali melalui anaknya, seperti cermin yang memantulkan wajah sendiri.

Apakah manusia benar-benar mampu memutus rantai masa lalu?

Saya sendiri tidak mampu. Maka saya menulis, sebagai satu-satunya cara bagi saya untuk mengendurkan ikatan masa lalu yang semula menjerat leher saya.

Saya ingin mengerti bagaimana cinta yang lahir dari tempat rusak akan mewujud, dan bagaimana seorang anak bisa melihat kebenaran yang lebih dalam dari orang tuanya.

The Sword in the Air

You feel nauseous at the sight of someone spitting.

Your body remembers a certain childhood afternoon,

when your face was soaked by rage laced with saliva,

spat from a foaming mouth and flaring eyes,

looked at you with more disgust than at the rats pissing on the kitchen floor.

You stood frozen for ten minutes, then ten years, then a lifetime,

carrying the stench fused with the words “You devil’s child!”

a curse that still crawls into your restless dreams, until one morning, your mother says coldly, “Your son spat at me.”

You aren’t even shock; your body had long forgotten how.

“Yes,” he says calm, no defense, no inherited lies from his father.

You know he doesn’t fight back when mocked, never struck anyone in return.

You say nothing, not harboring a shred of anger.

Your heart too busy, listening to the echo of an untold past.

You once told him the story of two mothers and one baby,

of King Solomon who asked for a sword.

Before the sword was drawn, the story only halfway told,

his little mouth had already cried out: “Ibu, it hurts! The real mother would never let her baby die.”

You carry the question in your chest: How did he know?

Then that same little mouth spat at the woman who gave birth to you.

Has he inherited your unresolved wounds, thought you had sealed in your bones?

You look back the sword that’s suspended in the air since you were ten,

still hasn’t come down, still hasn’t decided,

who the real mother is.

Or perhaps… it never needs to.

🌿