Alang-Alang

Rumah

Di halaman, di lapangan, di kebun, aku menggambar rumah. Dengan tanah halus. Dengan ranting. Dengan kertas bekas.

Telapak tangan menampi tanah, membuang yang kasar. Rumah itu selalu dua dimensi. Selalu belum jadi.

Dulu di tanah keras, garisnya hilang oleh langkah. Lalu di kertas bekas, lembar demi lembar.

Ditempel. Disimpan. Dibuang.

Dua kamar. Dapur kecil. Halaman yang tidak pernah menjadi halaman.

Puluhan tahun aku mengulangnya. Rumah yang sama. Tangan yang sama. Kegagalan yang sama.


Rumah
salah satu judul dalam buku Nyanyian Perempuan Gila


Semalam saya menggambar denah rumah lagi, setelah selesai kertasnya saya sobek dan buang.

Saya berbaring, memikirkan bahwa tidak apa-apa jika saya tidak punya rumah.

Anak saya kelak akan terbang tinggi, menjalani kehidupannya sendiri, dan saya mungkin akan tinggal di panti jompo. Entahlah.

Saya tidak ingin menjadikan anak saya sebagai rencana masa tua.

Jika saya harus sendiri, biar saja. Anak saya tidak berhutang apapun kepada saya.