Alang-Alang

Sampai Jauh-Jauh ke Solo

Di tengah pekerjaan kantor, seorang rekan bertanya dengan sedikit menggerutu, bagaimana caranya menjadi kaya. Ia lelah bekerja dan ingin punya banyak uang.

Saya menjawab, kalau saya berhasil menjadi kaya, saya akan memberi tahu caranya.

Kami tertawa.

Lama setelahnya saya memikirkan lagi pertanyaan itu.

Apa sebenarnya yang sudah saya lakukan selama ini, sampai jauh-jauh ke Solo?

Saya sudah meninggalkan kehidupan lama, mengubah cara membesarkan anak, mengubah lingkungan, dan berusaha mengubah cara memandang diri sendiri, dengan harapan bahwa pada pukul delapan pagi, usai mengurus anak dan membersihkan rumah, saya bisa menyeduh kopi, menyesapnya perlahan sambil membaca buku. Saya bisa bekerja hari itu atau tidak bekerja sama sekali bukan lagi masalah. Saya tetap di rumah, berjalan-jalan tanpa alas kaki di halaman berumput, memetik tomat dan cabai yang telah memerah.

Kenyataannya saya masih harus berangkat kerja pukul delapan, setelah malam yang kadang berakhir pukul dua dini hari, atau setelah terbangun pukul satu dan tidak bisa tidur lagi sampai pagi. Pukul dua saya menjemput anak dan membawanya ke kantor. Ia bermain ponsel sambil menunggu waktu pulang pukul lima.

**

Orang tua saya punya gambaran sendiri tentang bagaimana seharusnya saya menjalani hidup. Seperti kebanyakan orang di kampung saya, saya seharusnya fokus bekerja, mengumpulkan uang, sementara anak saya diasuh oleh kakek neneknya. Sedikit demi sedikit, uang itu dibelikan batu bata, pasir, semen, kayu. Bapak akan membangunkan rumah sederhana untuk saya. Dua kamar tidur, satu kamar mandi, dapur kecil, dan ruang tamu.

Bukankah memang itu yang saya inginkan? Hidup tenang di rumah sendiri.

Saya ingin punya rumah dengan rak buku yang bisa menampung buku-buku yang saya baca dan cerita-cerita yang saya bacakan untuk anak. Hanya saja saya tidak yakin bahwa kehidupan yang ditawarkan kepada saya akan memberi ruang bagi segala sesuatu yang ingin saya miliki.

Mungkin saya akan lebih berhati-hati memilih buku. Bisa jadi saya hanya akan membacakan cerita Nabi dan Rasul serta kisah-kisah Islami kepada anak. Buku-buku lain yang saya baca bisa mengundang penilaian orang. Judul-judul seperti Mahabharata, Ramayana, Animal Farm, Sapiens, To Kill a Mockingbird terpampang di sampul buku, bahkan dapat dibaca dari punggungnya ketika buku-buku itu tersusun di rak. Orang bisa melihatnya, membuat kesimpulan sendiri, lalu menghubungkannya dengan kehidupan saya. Bisa saja mereka menganggap buku-buku itu sebagai bukti bahwa saya diceraikan karena murtad.

Padahal jauh di Solo, tanpa perlu membuktikan apapun kepada siapapun, saya menyekolahkan anak di madrasah. Ia sudah tamat Iqra dan sekarang belajar Al-Qur'an. Saya tetap bisa membesarkan anak dengan cara yang saya pilih, tanpa harus terus-menerus memikirkan bagaimana orang lain akan menilai pilihan-pilihan saya.

Di Solo saya juga bisa makan di restoran bersama anak beberapa kali dalam sebulan. Saya bisa pulang malam atau keluar rumah kapan saja tanpa terlebih dahulu mengintip melalui jendela untuk memastikan jalanan sudah sepi.

Saya bisa tetap menjadi janda tanpa terus-menerus ingat bahwa saya seorang janda.

Di kampung saya, jalan hidup seorang janda seolah-olah telah tersedia: hidup dalam pengawasan keluarga besar, menjadi TKW di luar negeri, atau menikah lagi. Saya tidak ingin menjalani hidup dengan terus-menerus menyadari bahwa status perkawinan saya menentukan apa yang boleh dan tidak boleh saya lakukan.

Jadi, ada sesuatu yang sudah saya peroleh di sini. Saya punya ruang untuk menjalani kehidupan yang saya pilih, meskipun belum punya cukup uang untuk menjalaninya dengan keleluasaan yang saya bayangkan.

**

Ada satu hal yang sering saya pikirkan ketika melihat orang-orang dari masa lalu.

Seorang kawan kuliah laki-laki yang menggantikan posisi saya sebagai staf accounting belasan tahun lalu kini menjadi manajer accounting di perusahaan itu.

Jika saya bertahan di sana, mungkin saya juga bisa mencapai posisi yang sama. Saya tidak tahu apakah itu benar-benar akan terjadi. Saya hanya melihat kemungkinan yang masuk akal berdasarkan pendidikan dan pengalaman kerja yang dahulu kami miliki.

Meskipun begitu, ada sesuatu yang tidak bisa saya abaikan. Ia tidak menjalani kehidupan sebagai istri dan ibu seperti yang pernah saya jalani. Ia tidak harus mengandung, melahirkan, dan menyusui, lalu menghadapi pilihan-pilihan yang dapat mengubah arah hidup dan pekerjaannya. Laki-laki tentu juga menghadapi kesulitan dalam hidup, tetapi pernikahan dan kelahiran anak tidak selalu menuntut mereka mengorbankan kesinambungan karier dengan cara yang sama seperti yang dialami banyak perempuan.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa saya pasti akan menjadi manajer jika dahulu tidak berhenti bekerja. Saya hanya menyadari bahwa kehidupan kami menempuh jalur yang berbeda, dan hasil yang terlihat hari ini tidak bisa dilepaskan dari perbedaan itu.

Telah lama saya percaya bahwa manusia bertanggung jawab atas kehidupannya. Namun, manusia dewasa tidak muncul begitu saja.

Setidaknya tujuh belas tahun pertama kehidupannya telah diisi oleh pengalaman yang tidak ia pilih sendiri. Dari sanalah ia belajar tentang uang, pekerjaan, keluarga, pendidikan, dan batas-batas kemungkinan. Ia belajar apa yang pantas diinginkan, apa yang dianggap terlalu muluk, dan seperti apa kehidupan yang mungkin dijalaninya. Pengasuhan belasan tahun itu lalu membentuk wataknya, keyakinannya, kebiasaannya, dan segala hal yang menjadikannya seorang manusia.

Jika kemudian ia menjalani belasan tahun berikutnya sebagai dirinya yang sudah terbentuk itu—seseorang yang, entah sadar atau tidak, merasa hidup selalu sulit, serba kekurangan, merasa dirinya buruk rupa karena pernah menjadi bahan olok-olok, dan tidak ingin lagi menemui orang tuanya setelah dewasa—lalu pada suatu titik ia membuka mata dan menyadari bahwa cara ia selama ini menjalani hidup dan memandang dirinya sendiri perlu diubah, bagaimana ia mengubah semua itu?

Apakah semudah menghapus tulisan acak-acakan di papan tulis lalu menulis ulang dari awal?

**

Saya telah menulis banyak catatan, mengolah pengalaman menjadi esai, fragmen, dan novel autobiografis Di Persimpangan yang merangkum tiga puluh tujuh tahun kehidupan saya. Apa hasil dari semua yang telah saya kerjakan itu, terutama dalam kehidupan ekonomi saya? Apakah saya belum berhasil karena masih ada sesuatu dalam diri saya yang belum berubah?

Selama bertahun-tahun saya berusaha mengubah diri sendiri. Saya membaca buku, mempelajari cara berpikir orang-orang yang saya anggap berhasil, menulis, dan mengolah pengalaman hidup menjadi cerita. Diam-diam, saya percaya bahwa jika saya terus belajar dan melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh, pada akhirnya kehidupan akan berubah. Mungkin bukan hari ini, mungkin bukan besok, tetapi suatu saat semua yang saya kerjakan akan membawa saya ke tempat yang saya inginkan.

Saya tidak tahu bagaimana tepatnya hal itu akan terjadi. Saya hanya terus berjalan.

Belakangan saya mulai bertanya-tanya apakah selama ini saya menunggu sesuatu yang tidak pernah benar-benar saya rencanakan jalannya. Saya pernah mencoba mencari pekerjaan dari rumah, tetapi beberapa peluang yang saya temukan meragukan. Saya sempat mempertimbangkan menulis novel untuk platform daring, lalu menyadari bahwa saya mungkin tidak sanggup menjalani tuntutan pekerjaan itu. Saya tidak tahan dengan media sosial, tidak pernah membuat status whatsapp, tidak pandai berjualan, dan tidak tahu bagaimana membuat orang menemukan sesuatu yang saya kerjakan tanpa harus terus-menerus mempromosikan diri.

Saya menyukai kegiatan menulis, membaca, dan membuat laporan accounting. Bahkan ketika masih menjadi istri, saya mencatat uang belanja dengan debit kredit. Saya menulis di Bearblog dan menyelesaikan beberapa buku. Saya juga bersedia mengajar les calistung. Saya senang melihat mata berbinar anak-anak yang mendengarkan saya bercerita. Saya tidak kekurangan hal yang ingin saya kerjakan. Yang belum saya temukan adalah cara agar pekerjaan-pekerjaan itu dapat memberi penghasilan yang cukup untuk menjalani kehidupan yang saya inginkan.

Diam-diam saya berharap bahwa jika saya terus melakukan hal-hal yang saya sukai dengan sungguh-sungguh, kehidupan akan menemukan caranya sendiri untuk membalas.

Namun, saya hidup di dunia yang tidak bekerja berdasarkan keyakinan saya tentang apa yang pantas diperoleh seseorang.

**

Dongeng Negeri Tanpa Uang lahir ketika saya masih menikah, tidak punya uang, dan anak saya menginginkan susu yang tidak bisa saya beli. Dalam dunia yang saya bayangkan, anak-anak bebas berlari, ibu memasak dari hasil kebun, dan seorang tetangga membawa ranting dengan goresan tertentu sebagai tanda kepercayaan untuk mendapatkan bantuan.

Saat itu saya membayangkan kehidupan yang tidak membuat kebutuhan seorang anak bergantung pada ada atau tidaknya uang di tangan ibunya. Kehidupan ketika orang bisa saling membantu karena mereka tinggal bersama, saling mengenal, dan mempercayai satu sama lain.

Tentu cara kerja dunia tidak sesederhana itu. Orang tetap membutuhkan makanan, tempat tinggal, dan berbagai hal yang tidak selalu tersedia di sekitarnya. Dan saya pun masih bertanya-tanya mengapa untuk mendapatkan semua itu, seseorang harus terus-menerus mempunyai uang. Nyatanya belum ada yang bisa dihasilkan hanya dengan mengandalkan kesungguhan, kegemaran, atau keyakinan bahwa suatu hari keadaan akan berubah.

**

Saya tidak ingin menyerahkan pengasuhan anak kepada orang tua saya, meskipun dulu bapak pernah menyarankan agar saya fokus bekerja saja sementara anak diasuh oleh mereka. Saya pernah berpisah dengan anak selama dua tahun. Saya tahu bahwa ada jalan yang mungkin lebih mudah bagi karier saya, tetapi saya tidak sanggup memilihnya.

Saya teringat lagi pada rekan kerja yang menggerutu karena gajinya sudah habis dan ia menunggu uang jajan dari pacarnya setiap Sabtu. Saya meliriknya, lalu kami tertawa.

Kemudian saya memikirkan ayah anak saya.

Bagaimana mungkin seorang laki-laki bisa memberikan uang kepada pacarnya, sementara ayah dari anak saya tidak pernah memberikan uang sepeser pun kepada anaknya?

Ia juga tidak pernah datang menemuinya, meskipun rumah orang tuanya hanya berjarak lima menit berjalan kaki dari rumah orang tua saya. Nomornya masih saya blokir. Saya tidak ingin bertemu dengannya dan perempuan yang sekarang menjadi istrinya, seumur hidup. Meski demikian, saya pernah membayangkan sebuah kemungkinan. Mantan suami datang kepada orang tua saya, menitipkan uang jajan atau hadiah untuk anaknya, lalu meminta izin untuk mengajak anaknya pergi bersamanya. Saya tidak perlu dilibatkan. Saya tidak perlu melihatnya. Hubungan ayah dan anak itu bisa berlangsung tanpa kehadiran saya.

Hal itu tidak pernah terjadi.

Berapa banyak hal dalam kehidupan saya yang akhirnya saya tanggung sendiri karena orang lain tidak melakukan bagian mereka?

Dan berapa banyak hal yang memang saya pilih untuk tanggung sendiri karena saya tidak ingin lagi bergantung kepada siapa pun?

**

Saya anak pertama, terbiasa mengurus sesuatu sendiri, dari hal paling besar sampai hal terkecil. Jika saya memanggil seseorang dan ia tidak mendengar, saya tidak akan memanggil dua kali. Sementara itu, orang lain bisa meneriaki saya jika saya tidak mendengar.

Saya tahu bagaimana rasanya tidak didengar. Saya juga tahu apa yang harus dilakukan ketika tidak ada orang yang bisa diandalkan: mencari jalan sendiri.

Ketika perkawinan saya berakhir, saya tidak menceritakan semuanya kepada orang tua dan menunggu mereka menentukan apa yang harus saya lakukan. Saya tahu mereka mungkin akan menyarankan saya bertahan, bahkan menganggap saya yang salah. Maka saya mengurus semuanya sendiri. Saya mengumpulkan bukti, mengurus penjualan rumah, mengamankan uang, dan menentukan ke mana saya akan pergi. Barulah setelah itu saya berani menemui mereka.

Uang lima puluh juta rupiah itu memberi saya waktu untuk bertahan hidup dan akhirnya membawa saya ke Solo bersama anak. Saya pernah menuliskan bagaimana uang itu habis untuk berbagai kebutuhan, sampai saya menyadari bahwa uang tersebut telah berubah menjadi waktu: dua tahun lima bulan waktu untuk bertahan hidup.

Saya telah membuktikan bahwa saya bisa mengurus banyak hal sendiri. Saya bisa pergi, bekerja, mengasuh anak, dan membangun kehidupan di tempat yang tidak saya kenal. Saya tidak perlu menunggu orang lain menyetujui keputusan saya.

Apakah kemampuan itu juga menjadi satu-satunya cara yang saya kenal untuk menghadapi dunia?

**

Sekitar empat bulan lalu, mantan adik ipar saya mengirim pesan WhatsApp setelah bertahun-tahun tanpa komunikasi. Ia membuka percakapan dengan menanyakan kabar, lalu bertanya apakah saya masih menyimpan riwayat percakapan mantan suami dan perempuan yang sekarang menjadi istrinya. Dahulu saya pernah mengirimkan riwayat percakapan tersebut kepadanya sebagai bukti perselingkuhan, tapi tidak mendapat tanggapan berarti. Jadi, untuk apa tiga tahun kemudian ia memintanya lagi?

Saya tidak membalas pesan itu. Baru beberapa waktu kemudian saya bertanya-tanya mengapa saya tidak membalasnya dengan kemarahan, makian, atau sindiran. Tapi memang sejak dulu, jika seseorang menyakiti saya, saya memutus hubungan lalu pergi.

Pergi dan memutus hubungan adalah bagian dari diri saya yang sudah lama saya kenali. Entah kebiasaan itu masih menguasai cara saya menghadapi kehidupan, entah saya telah berubah, atau keduanya benar dalam keadaan yang berbeda.

Saya memandangi anak yang tidur lelap di samping saya, mengelus kepalanya, lalu meringkuk di dekatnya. Hampir setiap malam sebelum tidur—setelah saya menutup buku cerita—ia memandangi wajah saya, tersenyum, mencium kening saya, pipi saya, lalu berkata, “aku sayang ibu selamanya.”

Saya teringat masa yang terlampau jauh, ketika saya menatap wajah orang-orang yang saya cintai. Tidak ada yang menatap balik. Tidak ada yang memandang wajah saya sambil berbaring, dan kadang masih terasa sangat aneh bahwa kini ada seseorang di samping saya yang melakukan hal itu.

🌿