Sarang Burung di Dinding
Apa kau ingat seekor burung kecil yang membuat sarang di sudut dinding, jauh di atas sana?
Ia membawa rumput kering sehelai demi sehelai. Ditenunnya rumput itu, ditempelkannya pada dinding, dari pagi sampai larut malam.
Sambil bekerja, ia bernyanyi riang.
“Ang-ang-ang!”
Telah kubangun sarang dengan paruhku sendiri, katanya senang.
Hari demi hari, sarangnya semakin besar. Rumput-rumput kering saling mengait, membentuk sebuah mangkuk kecil berwarna cokelat. Sarang itu melekat di sudut dinding, jauh di atas kepala orang-orang yang berlalu-lalang.
Burung kecil itu bernyanyi lagi.
“Nya-nyi-nyu! Sarangku, sarang kesayangan.”
Ia berputar-putar, merapikan rumput dengan paruhnya, lalu duduk sebentar. Setelah itu ia terbang pergi, kemudian kembali lagi.
Pagi datang. Petang tiba. Lampu-lampu menyala, lalu padam.
Begitu hari berlalu, bagi burung kecil itu, bagimu dan bagiku juga.
Sampai satu waktu, dari dalam sarang terdengar suara-suara kecil.
“Ciap… ciap… ciap!”
Burung kecil itu datang membawa makanan. Anak-anaknya membuka paruh lebar-lebar.
Di sudut dinding yang tinggi, sarang kecil tetap melekat.
Setiap kali induknya datang, terdengar lagi suara-suara kecil dari dalam.
“Ciap… ciap… ciap!”
🌿