Sebelum Pagi
Satu hari selesai dalam kasur tipis di kamar sempit. Malam bergelung di bawah putaran kipas angin, mimpi-mimpi larut di permukaan bantal, dan pagi, datang serupa anak meminta sarapan.
“Selamat pagi, Ibu. Ibu kerja ya, aku sekolah.”
Matanya menyipit menahan silau lampu. Tangannya masih mengepal sebab tidur yang belum tuntas.
Kuseret tubuh ke kamar mandi, mengguyur kepala, mencuci kemalasan yang mengeras seperti kerak, dari Senin sampai Sabtu.
“Apakah aku akan bisa terbang seperti Gatotkaca, Ibu?”
Dulu aku tersenyum mendengarnya.
Kini aku ingin bertanya kepadanya:
Apakah aku akan bisa terbang seperti Gatotkaca, Nak?
Kuangkat ia ke punggungku.
Kami terbang.
“Ibu, lihat! Gunungnya ternyata besar sekali!”
Ia tertawa. Bajunya berkibar-kibar. Matanya memandangi awan, jarinya mencoba menangkap angin.
Kami terus terbang.
Di balik cakrawala ada negeri asing, tempat perempuan boleh tidur siang dan menulis puisi, tempat anak-anak boleh terus berlari.
Lalu semuanya selesai dalam kasur tipis di kamar sempit.
Malam bergelung di bawah putaran kipas angin. Gunung, awan, dan negeri asing larut di permukaan bantal.
Dan pagi datang lagi, serupa anak meminta sarapan.
🌿