Semut yang Lain
Semut-semut kalang kabut menyelamatkan diri, ketika kau menyapu lantai rumahmu.
Kau tertegun manakala anakmu berkata, “Kasihan semut kecil itu, Ibu. Mereka sudah jalan jauh sekali, dari dapur ke ruang tamu, lalu terlempar ke jalanan.”
Kau menatap semut-semut itu sejenak, lantas kembali menyapu.
Di bawah jendela, kau melihat anakmu berjongkok, memencet semut-semut kecil dengan jari-jarinya.
Kau bertanya, “Kenapa kamu lakukan itu, Nak?”
Ia menoleh, lalu menjawab, “Aku ingin tahu, apa yang terjadi setelah semut-semut itu mati.”
Kau duduk di sampingnya, berkata, “dulu kamu menangisi semut yang Ibu sapu.”
Ia bergumam, “Mungkin… itu semut yang lain.”
Kau masuk kamar, memasang seprei.
“Ibu, kan semutnya kecil, disapu sama ibu terus semutnya terlempar ke jalanan. Waktu aku lihat gambar planet, orang-orang juga jadi kecil, kayak semut. Nanti kalau ada raksasa nyapu, gimana?”
Kau menatapnya, lalu tergelak.
Kau ajak anakmu ke kamar. Kau nyanyikan lagu Bintang Kecil sambil menepuk pundaknya pelan.
Malam itu, pertanyaan tentang semut ikut tertidur bersama kalian.
🌿