Alang-Alang

Separuh di Sini, Separuh di Sana

“Baik, saya selesaikan laporannya segera.”

Aku kembali ke ruangan. Duduk. Tanganku naik ke pipi. Menggaruk. Hampir tiga bulan. Gatalnya berpindah-pindah. Jam di dinding terasa lambat. Jarum pendek masih jauh dari angka lima.

“Mukanya kok sampai bengkak, Mbak?” kata rekan kerjaku.

“Eh iya.” jawabku setelah jeda tiga detik. Kulihat ia duduk di kursinya, seketika menoleh. Aku buru-buru kembali ke layar laptop.

**

Aroma roti hangat dan kopi panas. Dapur kecil. Cahaya masuk dari jendela. Aku menuangkan susu. Sedikit tumpah.

“Ayo sarapan, sayang.”

Kami duduk berhadapan. Gelas kami saling bersentuhan sebentar.

“Tring.”

Kudengar bunyi gelas kaca. Tapi gelas kami berbahan plastik. Punya dia berwarna biru, bertuliskan Back to School. Punyaku berwarna merah polos. Aku memikirkan bunyi seperti apa yang semestinya kudengar.

**

Seseorang memanggil namaku. Aku menjawab. Laporan kucek ulang, memastikan semuanya benar, lalu kucetak. Aku berjalan melewati tumpukan paket siap kirim, juga keranjang berisi dress yang belum dilipat. Seorang pembeli melihat banyak model, membongkar stok di rak. Rumah pemilik berhadapan dengan workshop.

“Ini kerjakan segera ya mbak,” katanya.

Aku mengingat ekspresi wajahnya semalam ketika marah. Kali ini ia tidak marah. Tapi bagiku tak ada bedanya. Aku mencoret-coret buku agenda. Gambar rumah. Orang lidi. Meja makan. Pohon dan bunga.

Aku kembali ke kantor. Laporan kumasukan ke dalam map.

**

Di belakang rumah, tomat menggantung berat. Cabai merah di antara daun.

“Ibu.”

Aku mendengar suaranya memanggil. Waktunya makan siang. Menu sekarang tumis pare. Ia mulai suka, asal tidak pahit. Sedikit pedas.

Ah. Ia masih sekolah di jam segini. Aku hampir menjawab panggilannya, lalu ingat ia belum ada di rumah. Pukul empat ia pulang. Ini hari Selasa, ada les karate.

Aku makan siang sendiri. Tidak, tidak. Aku hanya minum kopi, lanjut bekerja. Tumpukan buku di depan jendela besar. Salah satunya terbuka. Aku tidak ingat halaman terakhir yang kubaca. Gorden bergerak ditiup angin. Warnanya putih. Warna hijau lebih cocok.

**

Ruangan terasa sempit. Suara orang lain terlalu dekat. Aku menggaruk lebih keras. Kulitku panas.

Aku mencium sesuatu. Bawang goreng.

“Mbak, mbak.” seseorang memanggil.

Di kepalaku, ia berjalan masuk. Seragam putih. Sepatu hitam. Ujung ikat pinggang menjuntai.

“Akhirnya sampai rumah,” katanya diiringi senyum, “Ibu.”

Dua suara memanggil namaku.

“Ya,” jawabku, tidak tahu harus menoleh ke mana.

Kukuku masih menekan kulit.

🌿