Alang-Alang

Solo Hari ke-105

Kota ini telah menampung napas saya meski belum sepenuhnya memeluk erat. Kadang saya masih merasa seperti tamu, tapi setiap malam tiba, saya selalu kembali pada satu kesimpulan yang tidak pernah saya rencanakan. Saya merasa seperti pulang.

Setiap kali merantau, saya selalu merasa terasing—bahkan di kampung halaman saya sendiri. Namun di Solo, pada hari ke seratus lima dan dua puluh tujuh hari menjelang kedatangan anak tunggal saya, ada perasaan yang saling tarik menarik, perasaan yang belum pernah saya kenal sebelumnya: setengah asing, setengah akrab.

Saya menghitung hari-hari dengan perubahan kecil yang saya lakukan. Menata ulang perabot, menabung rupiah, menahan cemas, memperbesar harap.

Saya tidak tahu apakah saya sudah cukup siap untuk menjalani hidup berdua saja dengan seorang anak lelaki selama sepuluh tahun ke depan, sampai ia lulus sekolah menengah akhir, memiliki kartu tanda penduduk, lalu terbang bebas ke manapun ia berkehendak.

Persoalan uang tetap menjadi kegelisahan paling nyata: saya perlu penghasilan tambahan selain gaji UMR, perlu tempat tinggal yang lebih luas daripada kamar kos berukuran 3,5 x 3,5 meter, dan perlu waktu lebih fleksibel dibanding kerja dari Senin sampai Sabtu, delapan jam sehari. Semua itu sering membuat saya resah.

Namun, jika dipikir dengan sudut pandang lain, dua tahun lalu saya berada dalam keresahan yang jauh lebih besar menghadapi perceraian. Sepuluh tahun menjalani pernikahan, sepuluh tahun berdiam di rumah, sepuluh tahun penuh menjadi seorang istri dan ibu tanpa pernah lagi bekerja kantoran, maka apa yang dapat saya lakukan untuk melanjutkan hidup?

Nyatanya saya diterima bekerja sebagai staff accounting di sebuah pabrik di Majalengka. Banyak hal yang saya lupakan—entah kecakapan dan keterampilan saya tergerus oleh usia atau oleh rutinitas domestik. Saya belajar, bekerja, menulis, merindukan anak, menangis. Kehidupan baru tersebut mengalihkan keresahan saya pada upaya pengembangan diri. Setahun kemudian, setelah pekerjaan kantoran menjadi sekadar rutinitas, saya dihadapkan kembali pada keresahan; anak saya harus tinggal bersama saya sementara keadaan saya di Majalengka tak satu pun mendukung itu.

Saya tinggal di kamar sempit berukuran 2 x 2,5 meter. Anak saya pernah bermalam sekali di sana dan ia tidak betah—sama tidak betahnya seperti ia tinggal di rumah orang tua saya. Ia ingin kembali pada kehidupan lamanya, kehidupan yang ia anggap “normal”. Ia pernah berkata dengan suara bergetar bahwa hidupnya sekarang tidak normal. Betapa perkataannya telah melemparkan saya jauh ke dalam rasa bersalah.

Lokasi pabrik tempat saya bekerja jauh dari jalan utama, sekitar sepuluh kilometer. Saya tidak bisa mengendarai motor. Tidak ada kendaraan umum. Saya selalu menumpang rekan kerja ketika ingin mudik. Saya juga tinggal dekat teman kuliah—yang dulu merekomendasikan pekerjaan ini. Saya bersyukur, sangat bersyukur. Tapi saya tetap membutuhkan tempat baru.

Saya belum yakin tempat seperti apa yang cocok dengan saya, atau lebih tepatnya tidak yakin ada tempat yang bisa menerima saya, sementara di rumah orang tua saya, di kampung kelahiran sendiri pun saya merasa begitu asing.

Hampir setiap hari saya mencari informasi tentang kota lain. Internet memberi daftar kota ramah anak dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, sampai luar Jawa. Saya mencari lowongan accounting di kota-kota itu, juga pekerjaan virtual. Tidak membuahkan hasil. Bahasa Inggris saya tidak cukup bagus untuk standar pekerjaan daring.

Di tengah semua pertimbangan yang sangat nyata—uang, tempat tinggal, masa depan anak, malam-malam tak dapat tidur—ada satu hal yang tidak pernah saya ceritakan kepada siapapun karena terlalu absurd untuk hidup yang sesederhana ini. Saya mimpi bertemu Pak Jokowi. Mimpi itu bukan pertama kalinya.

Sebelum saya melanjutkan, saya perlu mengatakan ini dengan jelas: Saya bukan pengamat politik. Saya tidak mengikuti pemilu. Saya tidak pernah menunjukkan keberpihakan kepada siapapun. Saya hanya orang biasa.

Tetapi ada hubungan aneh antara saya dan mimpi, mimpi yang datang begitu saja tanpa saya minta. Entah bagaimana, entah untuk apa.

Saya tahu Pak Jokowi akan jadi presiden sebelum ia jadi presiden, saya tahu Pak Prabowo akan jadi presiden sebelum ia jadi presiden, dan saya tahu siapa presiden setelah Pak Prabowo. Saya melihat semua itu dalam mimpi. Baiklah, saya katakan saja. Awal Oktober tahun 2023, sebelum ada pengumuman resmi siapa kandidat capres dan cawapres, saya mimpi melihat Mas Gibran memakai baju berwarna keemasan. Megah. Indah. Agung. Entah emas betulan atau hanya warna, saya tidak bisa memastikan. Tapi saya tahu dan ingat betul bahwa ia nampak seperti seorang raja di zaman dulu. Saat bangun, saya menimbang-nimbang cukup lama apa yang saya alami dalam mimpi tersebut, sebuah pikiran dan perasaan yang entah bagaimana tak mampu saya ejawantahkan. Ia bukan nampak seperti raja. Ia memang raja.

Pengetahuan tersebut membuat saya tak pernah tertarik ikut campur dalam urusan politik, bahkan tak pernah tertarik sedikit pun untuk sekedar berkomentar tentang politik, tentang negara, tentang korupsi, tentang semua urusan apapun yang terjadi di dunia ini. Jadi mimpi-mimpi itu, pada akhirnya, tidak berguna.

Saya seperti saya yang sebelumnya, seperti saya yang biasanya, yang selalu menarik diri dari pergaulan, yang menyibukkan diri dengan pekerjaan, yang malam-malam kerap gelisah, lalu menulis, lalu membayangkan memiliki rumah sederhana dengan kebun kecil ditanami tomat dan cabai. Betapa damai hidup jika saya bisa tinggal berdua bersama anak saya di kota yang jauh, menulis, mengurus anak, sejahtera tanpa harus bekerja keras seharian demi gaji UMR.

Kegelisahan saya terhenti di bulan Agustus tahun ini ketika saya akhirnya yakin untuk pindah ke Solo. Meski tanpa pekerjaan, tanpa kenalan, tanpa tahu apa-apa tentang Solo. Saya sebatas mengikuti intuisi saya, atau menuruti bisikan setan, siapa tahu.

Malam ini, kegelisahan serupa kembali hadir. Bagaimana saya bisa mengurus anak sendirian dengan gaji pas-pasan?

Jika saya mampu melewati kegelisahan dua tahun lalu, juga mampu melewatinya lagi setahun lalu, maka saya tahu—meski belum saya alami—bahwa kegelisahan malam ini pun akan jauh tertinggal di belakang ketika akhirnya saya bisa melewatinya dan saya tetap berdiri tegak di jalan saya, di depan sana. Saya sudah terlalu jauh untuk kembali. Saya harus terus maju, membawa serta anak saya sampai kepada tujuannya, sebab ia yakin betul bahwa ibunya tak salah arah. Akan ada masa di mana kami menoleh ke belakang dan melihat hari-hari berat saat ini sebagai kenangan semata, dan saya akan berucap syukur bahwa saya tidak menyerah.

🌿