Alang-Alang

Solo, Hari ke-239

Aku datang ke kota ini dengan satu keyakinan yang terasa bersih, bahwa jarak bisa menyembuhkan.

Pergi sejauh mungkin dari masa lalu, ke tempat di mana tidak ada yang mengenal namaku, tidak ada yang tahu versi diriku yang pernah retak, tidak ada yang mengingat apa yang ingin kulupakan.

Di kepalaku, hidup sudah tersusun rapi.

Rumah kecil dengan halaman belakang ditanami tomat dan cabai. Aku bekerja di rumah, menulis, anakku bermain di dekatku, dan uang datang dengan tenang, setidaknya sepuluh juta tiap bulan, cukup untuk tidak lagi cemas.

Itu bayangan yang kupeluk erat-erat seperti janji yang pasti ditepati.

Kenyataan rupanya tidak bekerja demikian. Imajinasiku belum mampu menggeser realitas.

Thhuhbbnkkmnvddsaasexznbbggfrttffcvb….

Dari kekacauan yang tak lagi bisa disebut bahasa, perlahan terbuka jalan setapak—sempit, berkelok, dilapisi rumput halus. Hijau. Hijau yang lembut.

Jalan itu mengarah ke sebuah rumah kecil. Pintu dan jendela berwarna cokelat, dinding putih dengan garis-garis tipis berwarna kelabu. Di belakang rumah, buah tomat menggantung berat di batangnya, cabai-cabai bertebaran di antara daun. Merah-merah-merah.

Di ujung halaman dekat pagar, deretan herba menguarkan wangi halus setiap kali angin lewat. Sementara di dekat pintu, ada bangku kayu, tua dan kokoh.

Dari dalam rumah terdengar suara tawa—ringan dan jernih.

Cahaya masuk dari jendela. Tirai bergerak ditiup angin. Jendela di apit oleh dua rak. Satu berisi buku, satu berisi lego. Jam dinding bulat menempel di tengah-tengah dinding ruang tamu, tepat di atas kolase foto anak lelaki.

Aku berdiri di ambang pintu cukup lama. Lantai dingin. Udara sejuk di dalam rumah. Dapur terlihat dari depan. Seorang anak lelaki menunggu segelas susu hangat.

Aku mengenali rumah ini. Aku melihatnya pukul dua dini hari saat terbaring menunggu kantuk.

🌿