Solo, Hari ke-286
Sebuah Proposal
Kepada pihak yang berkepentingan terhadap keberlangsungan hidup saya,
Dengan ini saya mengajukan permohonan sederhana:
satu rumah kecil yang tenang, pekerjaan yang dapat dilakukan dari rumah, penghasilan yang cukup agar tidak lagi menghitung harga telur sebelum berbicara pada anak sendiri, serta kehidupan yang memungkinkan tubuh saya tidur tanpa ketakutan.
Proposal ini diajukan bukan semata karena saya bercita-cita menjadi orang kaya raya, melainkan karena saya sudah terlalu lama menjalani hidup dalam mode bertahan.
Selama puluhan tahun saya hidup seperti alarm kebakaran yang tidak pernah dimatikan.
Tubuh saya selalu bersiaga.
Sedikit suara membuat dada berdegup. Sedikit tagihan membuat pikiran gelap. Sedikit kesalahan membuat saya merasa hidup akan runtuh seluruhnya.
Saya lahir dari keluarga yang akrab dengan kekurangan. Saya tumbuh dengan keyakinan bahwa hidup adalah sesuatu yang harus ditahan, bukan dinikmati. Bahwa perempuan sebaiknya jangan banyak meminta. Jangan terlalu terlihat. Jangan terlalu ingin.
Akan tetapi, di dalam diri saya tumbuh sesuatu yang keras kepala, yang tidak mati meski berkali-kali dipermalukan kehidupan.
Saya terus membayangkan rumah. Membayangkan kota-kota asing di negeri jauh. Membayangkan buku-buku kuno di perpustakaan tua.
Saya tidak menginginkan rumah besar dan mewah. Hanya rumah yang memungkinkan seorang anak tidur tanpa mendengar nada marah ibunya setiap pagi. Dua kamar, satu dapur, satu ruangan khusus dengan rak buku di sudut, dan meja kerja di tengah untuk saya menulis. Di samping saya, anak saya merakit lego, menonton televisi sesekali, membaca buku sesekali. Selebihnya, saya biarkan ia menjelajahi dunia luar.
Proposal ini juga memuat perkembangan terbaru yang menunjukkan bahwa perpindahan hidup sebenarnya telah dimulai, meski perlahan dan belum stabil.
Poin pertama:
Saya sudah kembali hidup bersama anak setelah dua tahun terpisah pasca perceraian.
Dahulu saya membayangkan tubuh kecilnya tidur di samping saya setiap malam sambil menatap bantal kosong di kamar kos. Sekarang ia benar-benar ada di sini. Kami makan bersama, bertengkar soal hal kecil, membaca cerita sebelum tidur. Saya mengantarkannya ke sekolah setiap pagi naik sepeda listrik, menjemputnya pukul dua, lalu saya bawa dia ke kantor.
Kenyataan itu dulunya juga terasa mustahil.
Poin kedua:
Saya tetap menulis.
Di sela pekerjaan, kelelahan, suara kipas angin kamar kos, dan tubuh yang sering ingin menyerah. Saya telah menyelesaikan satu novel, satu prosa liris, dan puluhan catatan blog yang sebagian besar merupakan upaya memahami hidup saya sendiri.
Tulisan-tulisan itu mungkin belum menghasilkan uang, tetapi telah menjaga kewarasan saya tetap hidup.
Poin ketiga:
Saya mulai melihat bahwa kemiskinan bukan hanya kekurangan uang, tetapi juga warisan rasa tidak layak.
Dan saya menolak mewariskan hal itu pada anak saya.
Dia berhak tumbuh dengan keyakinan baru, bahwa hidup bukan hanya soal bertahan sampai besok pagi. Bahwa dia boleh membeli lego seharga 100 ribu, atau bahkan lebih mahal dari itu tanpa disalahkan. Bahwa dia boleh bercita-cita menciptakan teknologi teleportasi tanpa ditertawakan, apalagi dikerdilkan. Ada banyak kelimpahan, ada banyak kemungkinan dan, terutama, ia layak menerima kebahagiaan serta mencapai apa yang ia kehendaki dalam hidup.
Untuk itu, ia perlu melihat ibunya bekerja dengan tenang. Membaca buku favorit. Menulis. Tertawa lebih sering. Tidur cukup. Memasak tanpa menghitung sisa uang dengan panik. Memiliki rumah yang tidak perlu ditinggalkan sewaktu-waktu.
Poin keempat:
Saya mulai memahami bahwa selama ini saya terlalu lama menghidupi identitas lama: perempuan gagal. Perempuan miskin. Perempuan yang ditinggalkan. Perempuan yang hidupnya selalu sempit.
Padahal di dalam diri saya ada kehidupan lain yang terus mengetuk dari jauh.
Kehidupan di mana waktu berjalan lebih lambat. Saya bekerja dari rumah sambil menulis. Penghasilan setidaknya 3 kali lipat dari UMR. Anak saya pulang sekolah lalu bercerita banyak hal. Dan setiap malam, kami tidur di kamar yang sejuk tanpa ketakutan pada bunyi token listrik.
Proposal ini dibuat sebagai penanda bahwa saya memilih mulai bergerak ke arah kehidupan tersebut secara sadar.
Saya tidak tahu lewat jalan apa kehidupan itu datang.
Bisa melalui tulisan. Bisa melalui buku. Bisa melalui pembaca-pembaca asing yang menemukan jalan menuju kalimat-kalimat saya. Bisa melalui pekerjaan yang belum saya kenal hari ini.
Yang pasti, saya tahu satu hal:
Saya tidak lagi menjadikan penderitaan sebagai satu-satunya rumah batin yang saya kenali.
Dengan demikian, proposal ini saya ajukan kepada semesta, kepada Tuhan, kepada kehidupan, dan terutama kepada diri saya sendiri yang selama ini terlalu sibuk bertahan hidup sampai lupa bahwa manusia juga berhak merasa aman.
Hormat saya,
Perempuan yang sedang belajar hidup tanpa ketakutan.
🌿