Alang-Alang

Tangga ke Langit

Kisah-kisah serampangan dari kamar muram kututurkan padamu, bersama uap nasi dan aroma susu, lantas mekar dalam senyum sumringahmu.

Kau tergelak mendengar kecoa bisa menari, pentol bakso bisa bernyanyi, hantu kecil jatuh cinta pada secangkir kopi, laba-laba membangun labirin.

Dalam tidurmu, kau lihat planet-planet berputar, mengelilingi tubuhmu selayaknya matahari.

“Indah, Ibu,” katamu pagi-pagi.

Mimpimu terlalu besar, Nak, untuk dunia sekecil kamar kita, dan aku tahu, tak ada cahaya yang datang tanpa menuntut gelap.

Kegelapan itu telah kuhuni sejak masa kanak-kanak, ketika aku bermimpi menaiki tangga ke langit.

Biru membentang luas.

Sunyi, sunyi sekali, penuh kemungkinan yang tak punya pintu.

Kulihat dapur yang sama saat bangun, berisi tungku dan kayu bakar, juga gentong air yang sesekali kujadikan cermin.

Di sanalah aku belajar, bahwa dunia sering lebih dulu menatap muka, sebelum sempat mendengar isi kepala.

Kugantung mimpi di tali jemuran, sementara hari-hari berlalu di antara wajan dan cucian.

Maka ketika kudengar mimpi-mimpimu, Nak, sesuatu runtuh perlahan di dalam diriku.

Kau termenung lama memandangi sepiring nasi, kau bilang sedang menjelajah planet-planet.

Butir-butir nasi berubah jadi bintang.

Satu bintang dihuni oleh kita sekarang, satu lagi menyimpan rumah yang telah dijual, satu bintang lagi, katamu, mungkin tempat rumah baru dibangun.

“Berapa jarak dari bumi ke bulan, Ibu?”

Ah, Nak, kau bertanya lagi.

Aku masih mencari tangga dari mimpiku, agar kau bisa naik lebih tinggi.

🌿