Tidak Ada Apa-Apa di Depan Sana
Pada tahun ke delapan pernikahan, saya kerap bangun dini hari, memandang dinding kamar seperti memandang sesuatu yang terasa jauh dan kosong. Tidak ada apapun di depan sana.
Saya ingin mengakhiri pernikahan, tapi perceraian adalah hal yang mustahil terjadi. Saat itu saya pikir tidak ada satu pun alasan masuk akal yang bisa membuat saya dan suami bisa berpisah.
Meski demikian, saya sering membayangkan kehidupan baru. Bebas. Sendiri.
Lalu hidup membuka jalan yang sama sekali tidak saya rencanakan. Pahit, memang, tapi pada tahun ke sepuluh, pernikahan kami berakhir. Saya pun hidup sendiri.
Jauh sebelumnya, menjelang kelulusan sekolah menengah pertama, saya dibayangi ketakutan pada masa depan yang sudah ditetapkan untuk saya. Menjadi pembantu rumah tangga di Jakarta.
Saya menginginkan hal lain, melanjutkan sekolah, tapi saat itu, hal tersebut terasa mustahil. Pendidikan paling tinggi yang bisa ditempuh orang tua dan kerabat saya adalah sekolah dasar. Banyak dari mereka bahkan tidak sampai tamat.
Seorang guru datang ke rumah saya pada suatu pagi membawa map. Saya didaftarkan ke SMK yang saat itu baru berdiri. Semua biaya, selama tiga tahun, akan dia tanggung.
Saya sudah satu tahun bekerja di pabrik kaleng ketika pada suatu sore melihat rekan kerja, perempuan, kehilangan tiga jarinya, terpotong mesin. Jari terpotong mesin, katanya, sudah berkali-kali terjadi di pabrik. Pada saat itulah saya mulai menginginkan hal lain. Kuliah. Kerja kantoran.
Tentu saja saat itu, keinginan tersebut terasa mustahil. Nyatanya saya lulus D3. Pernah bekerja di perusahaan multinasional—kerja kantoran. Saya mengingat masa-masa sehari makan sehari puasa dengan rasa bangga.
Sebelum pindah ke solo, kata mustahil menyusup lagi ke dalam kepala saya. Mengurus anak seorang diri dengan tetap menjanda adalah kemustahilan.
Saya berkali-kali berpikir, apakah saya jadi TKW saja supaya dapat gaji besar.
Meski demikian, saya benar-benar menginginkan jalan hidup berbeda—bukan jadi TKW atau kawin lagi, melainkan jalan yang belum pernah dilalui perempuan dari kampung saya. Tetap bekerja, tetap menjanda, tetap mengurus anak sendiri—bukan diasuh neneknya.
Saya tahu bahwa saya harus menjauh dari masa lalu untuk bisa mewujudkannya.
Pergi ke kota asing. Sendiri.
Sampai suatu malam saya bermimpi melihat Pak Jokowi. Paginya saya membeli tiket kereta ke stasiun balapan, pertama kalinya naik kereta seumur hidup. Perempuan berusia hampir empat puluh, memulai ulang hidup di tanah asing tanpa satu pun kenalan, tanpa jaminan dapat pekerjaan. Maka saya merahasiakan kepindahan saya ke Solo.
Sesampainya di stasiun balapan, saya mencari kos terdekat di google. Tujuh belas hari saya berkeliaran seorang diri menelusuri jalan-jalan Solo.
Pada hari ke 18 saya mendapatkan pekerjaan di sebuah UMKM. Saya pun mengurus pindah sekolah anak.
Saat menjemput anak, bibi saya bertanya banyak hal tentang Solo, lalu bilang suatu hari ingin menyekolahkan anaknya ke Solo, lalu tanya di mana rumah Pak Jokowi. Tidak ada satu pun orang yang menghalangi saya membawa anak pindah. Tiba-tiba hal paling mustahil bagi semua orang di kampung menjadi biasa saja.
Saya dan anak menempelkan gambar rumah di tembok kamar kos, berdampingan dengan gambar robot dan jadwal sekolah. Hampir setiap malam sebelum tidur kami membicarakannya. Kamar dua. Ada AC-nya. Rak berisi lego untuknya, rak berisi buku untuk saya. Dapur. Televisi. Meja kerja yang bersebelahan dengan meja belajar.
Satu lagi, kebun kecil tempat tomat dan cabai tumbuh, lahan di mana telapak kaki saya bisa menginjak tanah. Saya membayangkan berdiri pada sore hari memandangi buah berwarna merah yang menggantung berat pada dahan. Bambu kecil menopang dahan-dahan tersebut.
Mustahil sekali rasanya.
Sebuah rumah. Pekerjaan remote. Penghasilan tiga atau bahkan empat kali lipat dari UMR Solo.
Sangat berat secara angka.
Saya memiliki daftar hal-hal yang pernah saya anggap mustahil di awal ternyata sudah berubah menjadi riwayat hidup saya sendiri. Entah kali ini.
Kipas angin berputar di sebelah kanan saya, Anak saya tidur lelap di sebelah kiri. Pukul tiga lebih tiga puluh. Sudah belasan tahun jam tidur saya berantakan.
Saya melihat dinding kamar kos, melihat garis putih—pantulan cahaya lampu dari tirai yang sedikit terbuka—seperti melihat sesuatu yang jauh. Tidak ada apa-apa di depan sana. Setidaknya, begitulah yang pernah saya kira.
🌿