Tikus dan Pohon Tumbang
Sebuah akar pohon menyembul dari tanah, melengkung membentuk rongga kecil. Di bawah lengkungan itu, seekor tikus menggali rumahnya.
Ia membangun rumah itu dalam tiga malam.
Malam pertama, ia menggali lorong utama. Malam kedua, ia membuat kamar tidur yang cukup luas untuk seekor tikus meringkuk. Ada bulu-bulu halus dan potongan serat tumbuhan untuk menghangatkan tempat tidurnya. Di samping kamar, sebuah gudang kecil digali untuk menyimpan biji-bijian. Malam ketiga, ia melapisi lantai dengan rumput kering dan menggali dua lorong rahasia untuk melarikan diri jika bahaya datang.
Ia keluar mencari biji-bijian setiap pagi, lalu kembali ke rumahnya setiap malam.
Ketika hujan turun, akar pohon menahan sebagian air agar tidak mengalir langsung ke pintu masuk. Ketika matahari terik, tanah di bawah akar tetap sejuk. Tikus mengenal bunyi hujan dari dalam rumahnya, mengenali perubahan musim dari bau tanah, dan tahu kapan angin bertiup kencang dari suara daun-daun di atas kepalanya.
Ia sedang tidur ketika suatu sore angin bertiup kencang. Petir menggelegar disusul hujan deras. Tikus itu berjalan mondar-mandir di dalam rumahnya.
“Gawat! Gawat!” katanya setelah melihat ranting patah.
Tanah di bawah kakinya bergetar.
“Semakin Gawat! Semakin Gawat!"
Butiran tanah berjatuhan dari langit-langit lorong. Tikus berlari ke ruang utama. Beberapa butir jagung menggelinding melewati kakinya. Terdengar bunyi berderak dari atas kepalanya. Tikus berhenti.
Bunyi itu terdengar lagi, kali ini lebih panjang.
Ia berlari menuju pintu masuk.
Akar yang biasanya menaungi lubangnya bergerak. Tanah di sekelilingnya merekah. Tikus mencoba menyelinap keluar, tetapi sebuah gumpalan tanah jatuh tepat di hadapannya. Suara gemuruh terdengar lebih kencang.
Ia berbalik, berlari menuju lorong rahasia, lalu berhenti ketika langit-langit di belakangnya ambruk.
Ia berbalik lagi. Debu memenuhi lorong. Ia tidak bisa melihat jalan keluar. Tikus berlari sambil meraba dinding dengan kedua kaki depannya. Di belakangnya, suara kayu berderak semakin keras. Tanah berguncang. Sebuah akar kecil menerobos dinding dan menyapu lantai, membuatnya terjatuh. Ia bangkit dan berlari lagi.
Tiba-tiba, cahaya menyilaukan masuk melalui celah di hadapannya. Tikus menerobos celah itu tepat ketika gumpalan tanah besar runtuh di belakangnya. Ia terlempar ke tanah. Hujan membasahi punggungnya.
Di hadapannya akar-akar besar menjulang dari bumi. Batang pohon tua tergeletak melintang. Ranting-rantingnya patah. Daun-daunnya berhamburan dibawa angin.
Tikus mencoba bangkit, tetapi kaki kanannya terasa sakit. Ia memandang ke belakang. Rumahnya sudah tidak ada.
Ia bersandar pada batang pohon yang sudah tumbang, tubuhnya basah kuyup. Ia duduk lama memandangi tanah yang tergenang air. Sampai hujan mereda. Sampai angin kembali bertiup pelan. Sampai langit menjadi gelap.
Ia berjalan memutari tanah rata bekas rumahnya, lalu pergi menuju padang rumput. Dengan kaki yang pincang, ia mencari tempat untuk berlindung. Di bawah gumpalan tanah yang terangkat, ia membuat cekungan dangkal dan meringkuk di dalamnya. Ia tidak bisa tidur nyenyak. Tanah keras menekan tubuhnya. Angin menyusup dari segala arah. Setiap kali terbangun, ia perlu beberapa saat untuk mengingat di mana dirinya berada.
Pagi hari saat bangun, ia melihat sesuatu yang belum pernah dilihatnya: di seberang padang rumput, berdiri sebuah bukit yang puncaknya menyentuh awan.
Selama ini bukit itu tersembunyi di balik batang pohon.
Tikus memandanginya cukup lama. Puncaknya diselimuti kabut tipis. Sinar matahari jatuh pada lerengnya, membuat rerumputan tampak keemasan. Beberapa burung terbang mengitari puncak bukit.
Ia mengalihkan tatapannya dari bukit ketika perutnya melilit. Ia sangat lapar.
Ia meninggalkan cekungan tempatnya tidur dan mulai mencari biji-bijian. Ia mengais tanah di bawah rerumputan, membalik daun-daun basah, dan menemukan beberapa biji yang terlewatkan oleh burung-burung. Ia memakannya sedikit demi sedikit.
Setelah kenyang, ia mencari daun yang bisa digunakan untuk membungkus kakinya yang terluka. Ia menemukan sehelai daun lebar, mengunyah beberapa batang rumput muda, lalu menempelkan lumatan itu pada lukanya.
Menjelang siang tikus kembali memandang bukit. Ia ingin tahu apa yang ada di balik puncaknya.
Ia membayangkan sebuah rumah baru di lereng bukit. Mungkin ada akar yang melengkung seperti akar pohon lamanya. Mungkin tanahnya cukup kering dan sejuk. Mungkin ia bisa menggali kamar dan gudang seperti dahulu.
Namun, bukit itu tampak jauh. Kakinya masih sakit, dan ia belum tahu di mana bisa berlindung malam nanti. Ia menoleh ke arah pohon yang tumbang. Batangnya masih tergeletak, dengan akar-akar yang mencuat ke udara. Di bawahnya, tanah yang dahulu menjadi rumahnya kini dipenuhi air dan serpihan kayu.
Tikus mengenal setiap lorong rumah itu. Ia tahu di mana harus berbelok dalam gelap, di mana menyimpan biji-bijian, dan di sudut mana ia bisa tidur dengan nyaman. Ia tahu bagaimana suara hujan terdengar dari dalamnya dan bagaimana sejuknya tanah ketika matahari bersinar terik. Ia menginginkan rumah lamanya kembali, tetapi tempat itu sudah tidak mungkin lagi bisa dihuni.
Langit biru membentang di atas bukit. Awan-awan putih telah berlalu. Sekawanan burung terbang membentuk barisan.
Tikus belum tahu di mana harus membangun rumahnya yang baru.
🌿