Alang-Alang

11 Hari Menuju Rp50 Juta

Seminggu lalu saya bertanya, apakah perubahan besar memang harus menunggu beberapa generasi.

Saya bisa menerima bahwa saya mungkin hanya pembuka jalan.

Yang belum bisa saya terima adalah anggapan bahwa seorang pembuka jalan harus berjalan sangat lambat.

Setiap generasi tidak harus menempuh jarak yang sama dengan kecepatan yang sama.

Apakah satu orang bisa memendekkan lintasan yang seharusnya ditempuh anak dan cucunya?

Saya melepaskan kertas bertuliskan 500 juta dari tembok kamar kos.

Hampir tujuh tahun telah berlalu ketika pertama kali saya menulis angka lima milyar di buku catatan. Tidak ada perubahan apapun selama berbulan-bulan, lalu angka yang saya tulis turun menjadi lima ratus juta.

Pada malam-malam tertentu di masa itu saya menghitung banyak kemungkinan. Berapa tabungan yang mungkin saya miliki jika tetap bekerja setelah menikah. Berapa biaya hidup setahun. Berapa harga rumah di Bandung, Yogyakarta, Surabaya, sampai Banjarmasin.

Saya tidur membayangkan diri saya seperti Balram dengan tas merahnya, atau Bilbo yang menemukan harta karun. Semua tentang sejumlah besar uang dan kehidupan yang bisa saya pilih jika uang itu benar-benar ada.

Kenyataanya hidup berubah ke arah yang sama sekali tidak saya bayangkan. Saya tidak akan menceritakan bagian itu lagi, sebab saya tidak ingin terus mendefinisikan hidup saya dari sana.

Satu-satunya uang dalam jumlah besar yang benar-benar datang adalah lima puluh juta rupiah hasil penjualan rumah lama. Uang itu habis dalam dua tahun lima bulan.

Kalau dipikir-pikir, uang itu sebenarnya telah berubah menjadi waktu untuk bertahan hidup. Waktu sampai akhirnya saya bisa membawa anak pindah ke Solo.

Hari ini, tujuh tahun setelah menulis angka-angka besar itu, saya sedang memikirkan angka yang jauh lebih kecil.

Sebelas hari.

Seorang rekan kerja memberi tahu bahwa ada rumah sewa yang akan kosong awal Agustus. Delapan juta rupiah setahun. Anak saya senang mendengar kabar itu.

Saya menghitung lagi. Ternyata bukan hanya delapan juta. Saya perlu membeli kasur, lemari, kompor, tabung gas, peralatan masak, mungkin televisi.

Anak saya tentu berharap ada AC dan kulkas.

Saya tidak mengangankan rumah mewah. Rumah sewa pun cukup.

Ada kamar tidur. Ada kamar mandi. Ada dapur. Ada ruang tamu. Tidak lagi seluruh kehidupan bertumpuk dalam satu ruang sempit.

Sore tadi, setelah mengemas barang untuk pengiriman ke luar Jawa dan menyelesaikan pekerjaan yang bahkan bukan tanggung jawab saya, saya duduk sekitar sepuluh menit di ruang sempit tempat salat, tidak melakukan apa-apa, hanya berpikir bahwa saya pergi jauh ke tanah asing, ke Solo, bukan untuk mengulang siklus kerja keras demi gaji yang hanya cukup untuk bertahan hidup.

Lima puluh juta pertama berubah menjadi waktu.

Saya tidak mengangankan kaya dalam semalam. Saya hanya ingin lewat jalan tol yang bebas hambatan.

Saya meremas kertas bertuliskan 500 juta, membuangnya ke tong sampah, lalu membuka buku catatan.

11 Hari Menuju Rp50 Juta.

🌿