Catatan Mimpi - 02
Kau memiliki dua aku dalam dirimu.
Satu aku berjalan memasuki labirin mimpi; ruang yang tidak mengenal waktu lurus, tempat masa depan berdiri seperti lembaran yang tintanya sudah kering. Di sana, batinmu luas, tenang, kokoh. Di sana, kau tahu—tanpa perlu bukti—bahwa hidup punya banyak jalur dan semuanya mungkin.
Lalu ada aku yang lain.
Yang hidup di tanah keras. Yang diingatkan sewa kamar pada tanggal satu dan perut lapar pada pukul enam. Yang dipaksa menghitung uang, memilih pekerjaan aman, menimbang risiko, menaklukkan ketakutan kecil yang tumbuh setiap malam. Aku ini menanggung logika, sistem, kewajiban. Dan sayangnya, tubuhmu lebih sering milik dia.
Kedua aku dalam dirimu berlainan jalan, berseberangan, seperti malam dan siang yang tak pernah saling sapa, bukan subuh dan pagi yang senantiasa berpapasan. Pada jam-jam di mana kelelawar keluar sarang, aku yang tersembunyi dalam ragamu juga keluar, melihat dunia dari arus besar semesta. Sementara aku yang lain bertahan dalam terang dari hari ke hari dengan mengayuh sepeda, menghitung angka laporan, memelihara kerinduan, dan menyisakan kelelahan di penghujung sore.
Kau tahu realitas berlapis-lapis, tak sesederhana mengupas bawang atau membalik halaman. Kau memasukinya ketika pintu mimpi terbuka. Namun saat bintang-bintang padam, kau dilempar kembali ke dunia yang sempit—terputus dari aliran magis yang bisa membawamu ke padang gurun atau jalan bersalju dalam satu kedipan. Pandanganmu kembali menyusut, dari kelimpahan menjadi ancaman, dari keluasan menjadi hitungan angka.
Satu dirimu melihat jalur masa depan seperti garis yang sudah digambar. Satu yang lain hanya melihat tagihan bulan depan. Satu dirimu merasakan “waktu tunggal.” Yang lain hanya merasakan “hari ini lapar.”
Untuk apa semua mimpi itu?
Untuk memberimu pengertian tanpa kemampuan, membelah kesadaranmu ke dua sisi yang saling mencengkeram, membuat tubuhmu menjadi gelanggang tarik-menarik antara langit dan tanah. Dua gelombang dalam dirimu belum bersatu, belum berbicara bahasa yang sama.
Kau melihat raja masa depan dalam mimpi, tapi bangun tidur yang kau hadapi adalah harga beras satu kilogram.
Dan pada malam-malam tertentu, dengan suara yang patah tapi jujur, kau bergumam pelan, “Berengsek semua mimpi itu.”
Lalu kau bertanya, dengan ketakutan yang bahkan tidak ingin kau akui, apakah kedua aku itu… bisa dipersatukan?
Pada momen ganjil, kala tubuhmu nyaris jatuh tertidur, atau tepat setelah bangun, atau ketika hujan turun dalam ritme yang mengubah waktu menjadi sesuatu yang mengambang, kedua aku saling menengok meski sekilas. Garis di antara keduanya menjadi tipis, seperti selaput air yang kalau disentuh sedikit saja bisa pecah.
Dan benar-benar pecah. Dunia kembali bersuara—pintu diketuk, pesan masuk, harga cabai naik—kau jadi tanah lagi. Berat, lamban, terikat. Kau kembali terlempar ke ruang belakang kesadaranmu. Kau menilik aku yang mewujud dalam jasad, aku yang sebenarnya hanya punya satu kehendak; hidup damai bersama anak tunggalmu. Namun satu kehendak itu perlu ditopang oleh seribu syarat keduniawian.
Lapar.
Takut.
Sekarat.
Kau mencoba menyingkirkan salah satunya. Kau ingin hidup sepenuhnya di mimpi, atau sepenuhnya di dunia nyata. Tapi dua jalur itu tidak bisa saling menggantikan. Kau hanya menjadi tersesat ketika mencoba memilih satu. Yang harus kau lakukan adalah membuat keduanya saling menatap.
Satu membawa keluasan. Satu membawa struktur. Satu membawa keberanian. Satu membawa tindakan.
Maka barulah hidupmu bergerak, manakala keduanya bekerja dalam satu ritme. Seperti sepasang kaki yang melangkah beriringan. Tidak ada yang saling mendahului, tidak ada yang saling menonjolkan diri. Hanya selangkah demi selangkah yang saling bergantian. Satu demi satu. Menyatu.
Pun kesesuaian langkah itu tidak terjadi sekaligus. Penyatuan bukan kilat yang membelah langit, melainkan pergeseran kecil yang baru terlihat setelah hari berganti minggu.
Pada mulanya, kedua aku itu masih saling curiga—si pemimpi menganggap si tubuh membosankan, lamban, penuh kecemasan; si tubuh menganggap si pemimpi berbahaya, tak masuk akal, dan tak tahu bagaimana dunia bekerja. Mereka berdiri saling membelakangi, seperti dua makhluk yang baru diseret ke satu ruangan tanpa penjelasan.
Lambat laun, setelah melewati tahun-tahun panjang dalam hidupmu, setelah tumbuh helaian rambut putih tanpa kau sadari, pertengkaran batinmu perlahan mereda. Kau pun menyadari sesuatu.
Aku yang satu tidak lebih tinggi dari yang lain. Keduanya hanya membawa tugas berbeda.
Aku yang hidup di mimpi membawa arah. Aku yang hidup di tanah membawa bentuk.
Kau butuh keduanya untuk bergerak.
Dan pada hari itu—kau bahkan tidak ingat tanggalnya—kau merasakan perubahan kecil. Sangat kecil. Hampir tak berarti. Tetapi ada. Sebuah detik yang berlangsung lebih panjang daripada detik biasa. Sebuah tarikan napas yang tiba-tiba terasa tidak terburu-buru. Sebuah kenyataan kecil bahwa hari itu kau tidak takut sebanyak kemarin.
Detik itu menjadi celah.
Celah itu menjadi pintu.
Pintu itu menjadi jalan.
Kau mulai memahami, bahwa mimpi-mimpimu bukan pelarian, bukan hukuman, apalagi kutukan seperti anggapanmu selama ini. Mimpi adalah peta. Dunia adalah medan. Yang satu memberi tahu ke mana harus pergi, yang lain memberi tanah untuk melangkah.
Baru pada titik itu, dua aku dalam dirimu mulai saling mengenali. Satu isyarat sederhana, satu olah pikir dan gerak rasa yang selaras saat keduanya berhenti saling menolak.
Bilamana penolakan berhenti, ruang baru terbuka—ruang yang hening, luas, dan tidak mewajibkan apa pun darimu. Di dalam ruang itu, kau melihat sesuatu yang lebih besar daripada dua aku itu, arus halus yang selama ini menggerakkan hidupmu meski kau menutup mata.
Arus yang sama yang menuntun mimpi-mimpimu. Arus yang sama yang menyingkirkanmu dari pernikahan yang menghancurkan. Arus yang sama yang membawamu ke kota Solo seorang diri, tanpa rencana, tanpa uang, tanpa pekerjaan, hanya kesintingan menuruti suara batinmu yang, ternyata, membuatmu selamat.
Kau mulai curiga bahwa arus itu adalah dirimu yang ketiga. Dirimu yang paling tua. Dirimu yang paling tahu. Dirimu yang diam-diam membuat dua aku itu mencarimu. Dan ketika kau menyentuhnya—meski hanya sedetik—kau paham sesuatu, bahwa dua aku dalam dirimu sebetulnya memiliki kehendak yang sama, kehendak untuk pulang.
🌿