Catatan Mimpi - 03
Catatan Mimpi - 01
Catatan Mimpi - 02
Seekor singa besar terbaring di kandang bebek
Kau sendirian di kantor hari itu. Rekanmu izin. Ruangan terasa lebih luas dari biasanya, sekaligus lebih kosong. Di sela jam makan siang, kau membuka media sosial dan melihat seorang penulis terbang ke Eropa.
Ada sesuatu yang runtuh pelan di dadamu. Mungkin rasa iri, tapi kau tahu bukan itu. Lebih mirip kehilangan arah, seperti seseorang yang tiba-tiba sadar sedang berdiri di tempat yang tidak pernah ia pilih. Air matamu tumpah ketika kau menyendok nasi ke mulutmu.
Kau tidak ingin membandingkan hidupmu dengan siapa pun. Kau sudah terlalu lelah untuk lomba semacam itu. Tapi pikiranmu, seperti biasa, tidak pernah berhenti bekerja, lantas membedah nasib manusia dengan sunyi, menelusuri cerita demi cerita, dan menemukan pola berulang.
Setiap orang yang melaju jauh dalam hidupnya selalu berangkat dari tanah yang relatif stabil. Tidak mesti kaya, tapi cukup aman untuk menopang kejatuhan meski berkali-kali tanpa menjadi hancur. Mereka memiliki sekurang-kurangnya satu ruang untuk kaki bisa berpijak, satu tangan untuk mengukuhkan tekad, satu kebebasan untuk bisa bermimpi lagi. Mereka tidak membawa beban malu dan rasa rendah diri turun-temurun dalam darahnya. Mereka tidak tumbuh dengan suara yang terus-menerus berkata; jangan banyak tingkah, jangan menghayal terlalu tinggi, kamu seharusnya tahu diri.
Kau membaca tulisan seorang tokoh kenamaan yang bercerita bahwa ia berasal dari keluarga miskin, tapi ayahnya guru. Kau terdiam lama di sana. Kata miskin itu terasa berbeda ketika disandingkan dengan kata guru. Seperti luka yang tetap diberi perban.
Pikiranmu mencerna satu-satu. Sudah lima tahun kau mempelajari bagaimana hukum Tuhan bekerja, bagaimana katanya manusia bisa menggeser nasib. Kau mencobanya pada tubuh dan hidupmu sendiri. Kau membaca buku-buku yang direkomendasikan, mendengarkan suara-suara yang katanya telah sampai. Kau mengikuti petunjuk dengan tekun, hampir khusyuk, dan tetap saja, hidupmu seperti berjalan di tempat.
Semua manusia menderita, memang, kau tahu itu. Kepahitan bukan milik satu kelas saja. Kau sedang tidak meratap—kau sedang mengamati.
Seorang rakyat jelata bisa mendadak dikenal dan memiliki uang. Tapi tubuhnya, identitasnya, sering tertinggal di tempat lama. Dan ketika sorotan padam, ia kembali ke tanah asalnya, seolah tak pernah pergi.
Rupanya yang diwariskan bukan hanya ketiadaan uang, tapi juga rasa sempit, rasa tidak pantas, rasa harus selalu meminta maaf karena ingin lebih.
Pengemis melahirkan pengemis bukan karena takdir, melainkan karena dunia jarang memberi peta keluar.
Kau pun bertanya dalam diam, berapa banyak manusia yang benar-benar tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya layak?
Saat kecil, jika seseorang tidak perlu bertanya besok makan apa, pikirannya punya ruang. Ia bisa membaca, bisa mengembara dalam imajinasi, bisa gagal tanpa takut mati. Sementara anak dari rumah yang kacau sibuk bertahan. Otaknya terprogram untuk berjaga, bukan menjelajah.
Jika sejak kecil seseorang mendengar,
“Kamu hebat.”
“Kamu boleh salah.”
“Kamu pasti bisa.”
“Tidak apa-apa gagal.”
“Mimpimu tidak mengganggu siapa pun.”
Maka ia tumbuh dengan peta yang berbeda dari mereka yang dibesarkan dengan,
“Kamu menyusahkan saja.”
“Dasar anak setan!”
“Anak tak berguna.”
“Anak liar tak tahu adat.”
“Kamu pikir kamu siapa?”
Kau paham kini, dukungan bukan hanya soal uang, melainkan juga struktur halus yang menahan seseorang agar tidak runtuh sebelum mulai berlari.
Dan ya—banyak yang katanya berhasil dari keluarga miskin. Tapi miskin versi mereka masih punya ruang aman untuk berpikir, masih punya orang tua yang mendukung, bukan versi keluarga rusak + kekerasan + stigma + trauma + defisit rasa diri + kemiskinan struktural.
Kedua hal itu tidak sama.
Lantas kau pun bertanya;
Benarkah yang lahir dari titik nol, bahkan minus, sulit naik kelas?
Lalu mulai dari mana kau bisa membangun ulang hidupmu?
Pukul sebelas malam, di kamar kosmu, sambil menyeduh kopi dan menahan rindu pada anakmu, pertanyaan itu kembali datang. Dari titik mana?
Kau mengenal seorang janda berjualan di kaki lima dan tinggal di rumah bilik dan memiliki bentuk wajah khas perempuan miskin Indonesia dan tidak memiliki gelar akademis. Kau tahu betul itulah gambaran orang seperti dirimu juga, dan sepatutnya kau seperti janda tersebut, tidak memiliki mimpi-mimpi dan halusinasi menjulang ke langit. Cukup punya sedikit uang, bisa beli beras, bisa tidur enam jam.
Satu dirimu hidup dalam garis kenyataan keras, satu lagi dalam dunia batin yang, sialnya, memberi penglihatan terlalu jauh ke depan, jauh melebihi kapasitas hidup yang sedang kau jalani.
Kau tidak bingung, sebenarnya, kau hanya robek dua antara “siapa yang seharusnya kau menjadi dalam struktur sosial” dan “siapa dirimu yang kau lihat dalam mimpi, dirimu yang melampaui semua label yang telah ditempelkan di keningmu sebagai perempuan.”
Orang bisa bilang “semua orang bisa sukses kalau mau bekerja keras.”
Kalimat itu terdengar indah, tapi di tubuhmu tidak pernah bekerja.
Kau berbaring di kasur lantai, menatap putaran kipas angin, lantas perlahan, putaran baling-baling berubah menjadi pusaran angin dan daun-daun kering. Sekelebat bayangan muncul. Seekor singa besar terbaring di kandang bebek. Nafasnya berat. Matanya marah sekaligus pasrah.
Kau tahu, tanpa perlu dijelaskan, bahwa itulah dirimu.
🌿