Alang-Alang

Kejenuhan pada Siklus

Catatan berikut tidak lengkap, merupakan penggalan fragmen dari novel "Perempuan Gila di Persimpangan", satu bab yang diakhiri dengan puisi LAPAR

Aku pernah menulis angka lima ratus juta dalam buku catatan.

Setiap malam, sebelum tidur, aku membayangkan uang itu ada di dalam tas, di rekening bank, di genggamanku. Saat pagi datang, seperti biasa, aku menyapu lantai, mencuci baju, menanak nasi, memandikan anak. Uang lima ratus juta itu belum juga datang. Aku menuliskannya lagi, membayangkannya lagi. Kadang bosan, kadang lupa.

Aku tak pernah menceritakan hal ini kepada siapa pun. Untuk apa? Mereka mungkin akan menertawakan. Kadang aku juga menertawakan diri sendiri. Namun, tetap saja, sebelum tidur, sesekali aku memejamkan mata dan membayangkan angka itu. Tanpa musik latar atau pun lilin aromaterapi, aku merasakan sedikit ketenangan dari ilusi menjadi orang kaya. Hembusan angin dari ventilasi, suara cicak merayap di dinding, serta dengung nyamuk-nyamuk yang beterbangan menarikku kembali kepada realitas. Dan ketika realitas tak kunjung berubah setelah berbulan-bulan kemudian, aku berhenti berharap uang itu akan datang esok pagi.

Biarpun begitu, kadang aku kembali membayangkannya. Barangkali bukan semata-mata perihal uangnya, tapi perihal perasaan masih hidup, masih boleh menginginkan sesuatu meski mustahil, masih memiliki harapan untuk digenggam dan, diam-diam diperjuangkan.

Apakah manusia selalu butuh kenyataan? Seringkali satu ilusi kecil sudah cukup agar seseorang bisa terus bangun esok hari. Dan bagiku, uang lima ratus juta adalah tiket menuju dunia baru, dunia yang jauh dari semua orang di masa laluku.

Lama kelamaan aku pun benar-benar lelah membayangkannya, apalagi menuliskannya. Aku mulai merasa jenuh, bukan hanya terhadap kenyataan hidup, tapi terhadap siklus hidup itu sendiri.

🌿

Puisi yang mengakhiri bab ini dapat dibaca di sini: LAPAR